"Pinjam uang kamu 300 juta sekarang juga, Refi! Kamu harus nurut sama suami, berbakti. Ingat, kamu kerja di luar kota kan atas izinku, jadi cepat transfer dan jangan banyak tanya!"
Pesan suara dari Mas Retno, suamiku, menggema di telingaku pagi itu. Napasku tertahan.
Tiga ratus juta? Untuk apa suamiku tiba-tiba menuntut uang sebanyak itu? Selama tiga tahun pernikahan kami, gajinya tak pernah cukup untuk menutupi gaya hidupnya.
Akulah yang banting tulang di kota seberang, menahan rindu demi memastikan cicilan rumah dan kebutuhan kami aman.
Pikiranku kalut. Alih-alih merespons dan mentransfer uang hasil keringatku yang kusiapkan untuk modal usaha, aku memilih mengambil cuti dadakan hari itu juga.
Perjalanan empat jam dengan kereta api terasa begitu menyiksa. Karena penasaran setengah mati untuk apa uang sebanyak itu dipakai, aku pulang ke rumah siang itu tanpa memberitahunya.
Aku ingin melihat sendiri, kebutuhan mendesak apa yang membuat suamiku berani memakai dalih 'bakti istri' untuk menguras tabunganku.
Setibanya di depan rumah kami, rumah yang sertifikatnya murni atas namaku, aku mengernyitkan dahi.
Ada dua mobil asing terparkir di halaman. Terdengar sayup-sayup suara dari dalam ruang tamu yang sengaja pintunya ditutup rapat.
Aku membuka pintu perlahan tanpa menimbulkan suara. Jantungku seolah berhenti berdetak saat melihat ruang tamuku sudah disulap dengan sedikit dekorasi bunga melati.
Di tengah ruangan, Mas Retno mengenakan jas putih, duduk berhadapan dengan seorang pria berpeci, seorang penghulu.
Di samping suamiku, duduk seorang perempuan muda berkebaya putih yang menunduk tersipu malu.
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah! Alhamdulillah."
Duniaku runtuh seketika. Betapa marahnya aku melihat suamiku ternyata baru saja melangsungkan akad nikah dengan perempuan lain di rumahku sendiri!
Aku mematung di balik sekat saat mendengar Mas Retno berbisik bangga kepada istri barunya.
"Alhamdulillah, Sayang. Kita sudah resmi. Kamu tenang aja, besok Refi pasti transfer uang 300 juta itu. Uangnya bakal langsung aku bayarkan lunas ke vendor untuk acara resepsi mewah kita di hotel minggu depan."
Perempuan itu tersenyum manja, menyandarkan kepalanya di bahu suamiku.
"Beneran, Mas? Aku nggak mau ya kalau resepsi kita nanti cuma ala kadarnya."
"Pasti, Sayang. Dia itu gampang dikibuli. Asal aku bawa-bawa soal dosa dan rida suami, dia pasti langsung gemetar dan nurut," ucap Mas Retno santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Darahku mendidih hingga ke ubun-ubun. Rasa lelahku ditebus dengan pengkhianatan paling menjijikkan.
Uang keringatku hendak dirampas untuk membiayai resepsi pernikahan kedua suamiku? Jangan harap!
Aku melangkah maju dengan dada membusung, meraih mangkuk kaca berisi air bunga mawar di atas meja teras yang sepertinya sisa prosesi, lalu berjalan mantap ke tengah ruangan.
Tanpa aba-aba, kusiramkan air bunga itu tepat ke wajah Mas Retno dan istri barunya.
Byur!
Suasana khidmat itu seketika berubah menjadi jeritan kaget.
Mas Retno terlonjak berdiri, mengusap wajahnya yang basah kuyup, dan menatapku dengan mata membelalak sempurna. Wajahnya seketika pias pucat pasi melihatku sudah berdiri tegak di hadapannya.
"Wah, selamat ya atas akad nikahnya yang lancar, Mas. Tapi sayang sekali, mesin ATM yang mau kamu peras untuk bayar resepsi mewah kalian baru saja membatalkan transaksinya secara permanen. Sekarang juga, silakan bawa istri barumu ini angkat kaki dari rumahku!"
***
Bab 2
"Berani-beraninya kamu mempermalukan suamimu di depan penghulu, Refi?! Istri durhaka! Surga kamu ada di bawah telapak kakiku, ingat itu!" bentak Mas Retno dengan urat leher yang menonjol keluar, menunjuk tepat di depan wajahku.
Penghulu dan dua orang saksi yang masih berada di ruangan itu saling pandang dengan canggung, lalu buru-buru membereskan map mereka dan pamit undur diri tanpa basa-basi lagi.
Tinggallah aku, suamiku yang jas putihnya basah kuyup, dan istri barunya yang kini menangis sesenggukan meratapi riasan dan kebayanya yang luntur terkena air bunga.
Aku tersenyum sinis, menepis kasar telunjuk Mas Retno dari wajahku.
"Surgaku memang ada pada rida suami, Mas. Tapi untuk suami benalu sepertimu, neraka pun rasanya enggan menerima!"
"Jaga mulutmu, Refi!"
Tiba-tiba suara melengking khas Ibu mertuaku menggelegar dari arah ruang tengah.
Wanita paruh baya itu muncul membawa nampan berisi es buah, menatapku dengan mata melotot tajam.
"Pantas saja Retno nikah lagi! Istri kasar, tidak tahu diri! Dikasih izin kerja di luar kota bukannya bersyukur dan melayani suami, malah pulang tiba-tiba dan bikin kacau acara sakral anakku!"
Aku tertawa hambar, menahan perih yang menyayat dada.
Oh, jadi semua sudah bersekongkol?
Pantas saja selama ini Ibu mertuaku selalu mencari-cari alasan jika kuajak pindah ke kota tempatku bekerja.
Ternyata rumahku ini diam-diam dijadikan sarang untuk merencanakan pernikahan kedua anaknya.
"Ibu bilang aku tidak tahu diri?" Aku melangkah maju, menatap tajam satu per satu wajah tak tahu malu di depanku.
"Rumah ini kubeli dengan uangku, Bu! Listrik, air, sampai beras yang Ibu makan pagi ini, semuanya hasil keringatku! Dan sekarang, Mas Retno memintaku transfer 300 juta untuk membiayai resepsi mewahnya? Benar-benar tidak punya urat malu!"
Istri baru Mas Retno, perempuan muda yang tampak seumuran dengan adik bungsuku, tiba-tiba angkat bicara.
Sambil bergelayut manja di lengan suamiku, ia menatapku dengan raut wajah angkuh.
"Lagipula harta istri itu kan milik suami juga, Mbak Refi. Mbak harusnya ikhlas uang 300 juta itu dipakai Mas Retno untuk membahagiakan rumah tangga baru kami. Toh, Mas Retno berhak bahagia."
Tanganku mengepal kuat hingga kuku-kukuku memutih. Hebat sekali doktrin yang ditanamkan suamiku pada perempuan muda ini.
"Dengar ya, Refi," sela Mas Retno, tiba-tiba mencoba merendahkan suaranya, seolah baru sadar posisi keuangannya terancam jika aku benar-benar murka.
"Kalau kamu mau tetap berbakti dan jadi istri utamaku, transfer uang itu sekarang. Aku janji akan adil membagi waktu. Tapi kalau kamu membangkang, aku tidak akan segan-segan menceraikanmu detik ini juga dan kamu akan jadi janda!"
Aku menatap mata laki-laki yang dulu kupercaya sebagai pelindungku itu. Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya mengering berganti dengan amarah yang membara.
Janda? Dia pikir aku takut dengan status itu?
"Silakan jatuhkan talakmu detik ini juga, Mas! Tapi sebelum kaki kotor kalian melangkah keluar dari rumahku, lepaskan jas, jam tangan, sampai sepatu yang sedang kamu pakai itu, karena semuanya kubeli pakai uangku. Kalian boleh keluar dari sini, dengan pakaian saja!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar