"Mari kita bersulang! Angkat gelas kalian tinggi-tinggi untuk rumah megah ini, bukti nyata bahwa kasta tertinggi di keluarga kita hanya pantas disandang olehku, bukan kakakku yang miskin dan putranya yang gembel itu!"
Suara dentingan gelas kristal beradu, diiringi gelak tawa belasan wanita bersosialita tinggi yang memenuhi taman belakang rumah Tante Hilda.
Pesta arisan siang itu digelar begitu mewah. Meja panjang dipenuhi hidangan mahal, sementara Tante Hilda berdiri di tengah-tengah dengan gaun sutra berkilau, memamerkan rumah peninggalan mertuaku yang baru saja ia kuasai kemarin pagi.
Aku berdiri tak jauh dari gerbang utama, menatap pemandangan itu dari balik kaca mobil Maybach hitam yang ditumpangi Mas Deon dan aku.
Jantungku berdebar kencang, bukan karena takut, melainkan karena kepercayaan diri yang baru pertama kali kurasakan seumur hidup.
Gaun pudar dan sandal jepitku sudah berganti dengan rancangan desainer ternama yang harganya sanggup membeli puluhan kontrakan lamaku. Rambutku ditata elegan, dan sebuah kalung berlian murni bertengger indah di leherku.
Di sampingku, Mas Deon tampak luar biasa sempurna. Setelan jas dari London membalut tubuh tegapnya, menyempurnakan aura dominan dan dingin yang membuat siapa pun pasti akan tanpa sadar menunduk hormat.
"Sudah siap menghancurkan pesta kecil mereka, Sayang?" bisik Mas Deon, mengusap punggung tanganku dengan lembut.
Aku mengangguk mantap.
"Sangat siap, Mas."
Pintu mobil dibukakan oleh Albert.
Saat kami melangkah turun, iringan tiga mobil mewah yang mengekor di belakang kami membuat beberapa tamu arisan yang sedang berdiri di dekat kolam renang mematung seketika.
Bisik-bisik mulai terdengar. Mereka menatap kami dengan raut wajah terpesona, mengira ada tamu VVIP atau pejabat tinggi yang datang berkunjung.
Tante Hilda dan putrinya, yang semalam menertawakan kami di telepon, ikut menoleh.
Senyum sombong di wajah wanita paruh baya itu perlahan memudar, digantikan oleh kerutan kebingungan yang sangat kentara. Matanya menyipit, berusaha mengenali dua sosok yang berjalan anggun menyusuri karpet rumput menuju ke arahnya.
"Kalian ... Vina? Deon?" Suara putri Tante Hilda terdengar melengking, memecah keheningan. Matanya melotot nyaris keluar menatap kalung berlian di leherku.
"Kalian ngapain ke sini?! Berani-beraninya masuk tanpa izin! Dan baju siapa yang kalian curi sampai bisa berdandan seperti ini, hah?!"
Beberapa sosialita mulai berbisik sinis, mengira kami hanya komplotan penipu.
Tante Hilda maju selangkah, berkacak pinggang dengan wajah memerah menahan amarah.
"Oh, aku mengerti sekarang! Kalian pasti menyewa baju dan mobil-mobil ini untuk pamer di depanku, kan? Dasar orang miskin tidak tahu diri!" bentak Tante Hilda lantang, sengaja mempermalukan kami di depan teman-temannya.
"Pulang sana! Rumah ini milikku sekarang! Jangan harap aku mau meminjamkan uang sepeser pun untuk membayar biaya sewa mobil kalian itu!"
Mas Deon sama sekali tidak terpancing emosi. Ia melangkah maju dengan tenang, mengeluarkan sebuah map kulit dari balik jasnya, lalu menjatuhkan selembar dokumen berstempel resmi tepat di ujung sepatu hak tinggi Tante Hilda.
"Silakan dibaca dengan teliti, Nyonya Hilda. Itu adalah sertifikat hak milik atas tanah dan bangunan ini yang baru saja berpindah nama menjadi milik istriku, Vina, secara sah tadi malam," ucap Mas Deon dengan nada datar namun sangat mengintimidasi.
Tante Hilda mendengus kasar.
"Omong kosong! Ini pasti sertifikat palsu!" Ia memungut kertas itu dengan kasar.
Namun, sedetik kemudian, wajahnya berubah pucat pasi. Tangannya mulai gemetar hebat hingga kertas itu bergetar di genggamannya.
"T-tidak mungkin. Bagaimana bisa, siapa sebenarnya kalian?!"
Belum sempat kebingungan itu terjawab, suara bising mesin berat tiba-tiba menggetarkan tanah tempat kami berpijak.
Tiga unit excavator raksasa merangsek masuk dengan brutal, merobohkan gerbang besi tinggi yang baru saja dicat ulang oleh Tante Hilda.
Debu tebal beterbangan, membuat para sosialita itu menjerit histeris, menjatuhkan piring dan gelas mereka, lalu berlarian menyelamatkan diri menjauhi area rumah.
"Apa-apaan ini?! Hentikan! Ini rumahku!" Tante Hilda berteriak histeris, meronta-ronta menatap ngeri pada moncong besi pengeruk raksasa yang kini sudah mengudara tepat di depan atap pilar utama ruang tamunya.
Mas Deon menarik pinggangku mendekat padanya, melindungiku dari debu, lalu menatap tajam ke arah wanita yang sedang berlutut lemas di atas rumput itu.
"Waktu pamer Anda sudah habis, Nyonya Hilda. Albert, ratakan ruang tamu kesayangannya itu dengan tanah sekarang juga."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar