"Haura, kumohon! Hukum aku sesukamu, ludahi wajahku jika kau mau, tapi tolong jangan biarkan Ibu dan adikku tidur di pinggir jalan seperti pengemis!" teriakku parau, nyaris mencium debu aspal demi secercah belas kasihan dari balik telepon.
"Membunuhmu? Oh, Mas Zaki, kematian itu hadiah yang terlalu mewah untuk seorang pengkhianat sepertimu. Aku ingin kamu hidup sangat panjang, hanya untuk melihat dunia menginjak-injak harga dirimu setiap hari."
Sambungan diputus. Tubuhku luruh seutuhnya. Langit sore mulai menggelap, mengubah terik matahari menjadi angin malam yang menusuk tulang.
Ibu terus merintih kelaparan, sementara adikku meringkuk kedinginan di atas tikar tipis peninggalan rumah kami yang kini tersegel.
Aku mencoba menghubungi teman-teman kantorku, rekan bisnis, hingga kerabat jauh.
Hasilnya nihil.
Sebagian memblokir nomorku, sebagian lagi memaki dan menertawakan video perselingkuhanku yang kini rupanya sudah menjadi tontonan nasional.
Tidak ada satu pun yang sudi menampung 'gembel viral' seperti kami.
Tepat ketika perutku berbunyi nyaring menahan perih, sebuah lampu sorot yang sangat menyilaukan menembus kegelapan gang.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap berhenti mendadak tepat di depan tikar kami.
Pintu geser mobil itu terbuka kasar. Sedetik kemudian, sesosok tubuh wanita dilempar begitu saja dari dalam mobil hingga terguling di atas jalanan berdebu.
"Aduh! Sakit! Kalian gila ya?!" jerit wanita itu histeris.
Napas tercekat di tenggorokanku. Itu Yuki!
Gaun sutra mahal yang membalut tubuhnya robek di beberapa bagian. Tas branded kesayangannya entah ke mana, dan riasan wajah cantiknya luntur oleh air mata yang bercampur maskara hitam.
Ia tampak tak ubahnya seperti orang gila yang luntang-lantung di jalanan.
"Mas Zaki?!" Yuki mendongak, matanya terbelalak melihatku yang mengenakan kaus kumal. Alih-alih memelukku seperti biasa, ia menatapku dengan sorot penuh kebencian.
"Laki-laki miskin sialan! Gara-gara kamu, apartemen mewasku disita! Semua perhiasan, tas, dan uang di rekeningku dirampas habis-habisan! Katanya itu semua dibeli dari uang istrimu! Kamu menipuku, Zaki!"
Belum sempat aku membalas makian Yuki, seorang pemuda tampan dengan setelan jas rapi dan earpiece di telinganya melangkah turun dengan anggun dari mobil mewah tersebut.
Tatapannya sedingin es, menatap kami bertiga layaknya sekumpulan hama.
"S-siapa kamu?" tanyaku dengan bibir bergetar, mundur selangkah karena aura intimidasi dari pemuda itu begitu pekat.
"Perkenalkan, nama saya Galen Alvarendra. Asisten pribadi Nyonya Haura," ucap pemuda itu dengan senyum miring yang sangat meremehkan.
Tangannya yang terbalut sarung tangan hitam merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah tablet mahal keluaran terbaru dan melemparkannya tepat ke pangkuanku.
Layar tablet itu menyala, menampilkan sebuah siaran langsung eksklusif dari sebuah ballroom hotel bintang lima yang dipenuhi oleh para konglomerat dan pejabat tinggi negara.
"Tontonlah siaran langsung itu tanpa berkedip, Tuan Zaki," bisik Galen dengan nada suara yang membuat bulu kudukku meremang hebat.
"Nyonya Haura berpesan, sudah saatnya Anda melihat siapa sebenarnya wanita 'udik' yang selama tiga tahun ini Anda beri makan dengan uang receh."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar