"Buang semua kardus kumal ini ke tempat sampah! Kalian berdua bukan lagi penghuni kawasan elit ini. Tanda tangani surat perjanjian kerja sebagai kuli harian ini untuk mencicil sisa utang, atau bersiaplah menghadapi para debt collector kami yang akan memburu kalian ke lubang tikus sekalipun!"
Bentakan keras itu terekam jelas dalam video berdurasi dua menit yang baru saja dikirimkan ke tabletku. Aku duduk menyilangkan kaki di sofa lobi hotel khusus tamu VIP, menatap layar dengan senyum dingin.
Di dalam video itu, Mbak Rini meraung sejadi-jadinya sambil memegangi kaki pria berjas rapi, sementara Ibuku jatuh lemas di trotoar yang panas tanpa ada satu pun tetangga yang sudi menolong.
"Semua berjalan persis seperti instruksi Anda, Pak Danu. Pihak kreditur tidak memberikan kelonggaran sepeser pun."
Aku menoleh ke arah suara itu. Alvarendra, asisten pribadiku yang cerdas dan selalu bisa kuandalkan, berdiri tegap di sampingku. Pria muda itu menyerahkan sebuah map kulit tebal kepadaku.
"Ini adalah draf pengalihan aset secara legal. Mulai detik ini, tanah tempat gubuk itu berdiri, beserta sisa lahan puing-puing garasi yang telah diratakan, sepenuhnya berstatus sah milik Nyonya Sari," lanjut Alva dengan nada profesional.
Aku mengangguk puas, menerima map itu. Hatiku terasa luar biasa lega.
"Bagaimana keadaan Sari dan Arzan di penthouse atas?"
"Nyonya Sari sedang tertidur pulas setelah perawatan spa yang Anda pesankan, Pak. Sedangkan Tuan Muda Arzan sedang asyik bermain dengan koleksi mainan barunya ditemani pengasuh khusus," lapor Alva sambil tersenyum tipis.
Mendengar itu, dadaku menghangat. Bidadari dan jagoan kecilku akhirnya bisa merasakan hidup yang selama ini menjadi hak mereka.
Tak ada lagi air mata ketakutan, tak ada lagi sisa makanan berbau basi. Mulai hari ini, hanya ada tawa dan kemewahan yang mengelilingi mereka.
Namun, ketenanganku tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba, suara keributan terdengar dari arah pintu masuk utama lobi hotel.
Dua orang wanita dengan pakaian lusuh, rambut acak-acakan penuh debu, dan wajah yang basah oleh air mata, memaksa masuk melewati hadangan tiga petugas keamanan bertubuh kekar.
"Lepaskan saya! Anak saya menginap di hotel ini! Danu! Danu, tolong Ibu, Nak!" jerit wanita tua itu histeris. Ia meronta, mencoba menerobos masuk, mengabaikan tatapan risih dari para tamu elit yang sedang berada di lobi.
Di belakangnya, Mbak Rini menutupi wajahnya yang memerah menahan malu. Daster yang dulu ia banggakan kini sobek di bagian lengan, kotor terkena tanah trotoar.
"Danu! Mbak mohon, Dek! Bayarkan taksi di depan, kami bahkan berutang pada supir taksi demi menyusulmu ke sini!" isak Mbak Rini, urat lehernya menonjol karena panik.
Aku menatap Alva sejenak, memberinya isyarat untuk membiarkan mereka mendekat. Perlahan, aku berdiri dari sofa mewalku.
Jas mahal yang kukenakan membalut tubuhku dengan sempurna, menegaskan jarak status yang kini memisahkan kami.
Melihatku, Ibu langsung melepaskan diri dari satpam dan menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh tepat di bawah ujung sepatu kulitku.
Tangannya yang gemetar mencoba meraih ujung celanaku.
"Danu, anakku sayang. Maafkan Ibu, Nak. Ibu khilaf, Ibu disihir sama kakakmu ini sampai tega menelantarkan istrimu! Ayo kita pulang, Nak. Kita bangun rumah itu lagi dari awal. Ibu janji akan melayani Sari seperti ratu," ratap ibuku dengan nada paling memelas yang pernah kudengar.
Mbak Rini pun ikut berlutut di sebelah Ibu, menangis sesenggukan.
"Dek, Mbak nggak mau jadi kuli kasar. Utang Mbak masih lima miliar lagi dan perhiasan Mbak sudah habis disita. Tolong lunasi, Danu. Kamu kan kaya raya sekarang, uang segitu pasti kecil buatmu, kan? Mbak ini darah dagingmu sendiri."
Udara di lobi hotel seketika terasa membeku. Aku menatap dua wanita yang sedang bersujud memohon belas kasihan di kakiku ini dengan pandangan kosong.
Tak ada lagi rasa iba, tak ada lagi rasa hormat. Enam tahun mereka menginjak-injak harga diri istriku, apakah mereka pikir semuanya bisa ditebus dengan sebuah tangisan murah di lantai lobi hotel?
Aku mundur selangkah, menepis tangan Ibu dari sepatuku dengan pelan namun penuh ketegasan.
"Menyerahkan kalian ke penjara? Tentu tidak. Penjara itu tempat yang terlalu nyaman karena kalian masih bisa tidur dan makan gratis. Mulai besok pagi, aku sudah membeli seluruh surat utang kalian, dan kalian berdua akan menghabiskan sisa umur kalian bekerja sebagai babu rendahan di bawah telapak kaki Sari untuk melunasinya!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar