Jumat, 24 April 2026

Kukurung Istriku di Dalam Mobil Saat Mau Menikah dengan Selingkuhanku. Tapi Betapa Kgetny Aku saat Istriku Muncul dengan....

 


"Nikmati saja sisa oksigen di dalam sana, Sayang. Karena saat kau berhasil keluar nanti, posisimu di buku nikah sudah resmi digantikan oleh wanita yang jauh lebih sempurna."


Aku menyeringai puas setelah menekan tombol lock pada smart key mobilku. Dari balik kaca film yang gelap dan kedap suara di basement hotel yang sepi ini, aku bisa melihat wajah pucat Zea. 


Istriku itu menggedor-gedor kaca dengan panik, memohon untuk dikeluarkan. Biar saja. 


Dia pikir aku akan membiarkannya mengacaukan hari paling bersejarah dalam hidupku?


Sambil merapikan kerah tuxedo putih yang kukenakan, aku melangkah ringan menuju lift. 


Hari ini, aku, Galen Alvarendra, akan menikahi Aurel. Dia adalah putri dari direktur utama di perusahaan tempatku bekerja. 


Pernikahan ini adalah tiket emasku menuju puncak karir dan kekayaan. 


Sesuatu yang sampai kiamat pun tidak akan pernah bisa diberikan oleh Zea, perempuan sederhana yatim piatu yang kunikahi dua tahun lalu karena kasihan.


Setibanya di grand ballroom di lantai atas, suasana begitu mewah dan elegan. Aurel sudah duduk manis di depan meja akad dengan kebaya pengantin yang memamerkan lekuk tubuhnya. 


Dia menatapku dengan senyum menggoda yang membuat darahku berdesir.


Aku duduk di hadapan penghulu, menarik napas panjang, dan menjabat tangan wali nikah Aurel.


"Bisa kita mulai sekarang, Saudara Galen?" tanya sang penghulu.


"Tentu, Pak," jawabku mantap.

"Saudara Galen Alvarendra, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan ..."


BRAK!


Suara pintu jati raksasa

ballroom yang didobrak terbuka dengan kasar menghentikan kalimat sakral itu. 


Gema decit engselnya membuat seluruh tamu undangan terkesiap. Semua kepala serempak menoleh ke arah pintu utama, termasuk aku yang jantungnya tiba-tiba berpacu tak karuan.


Di ambang pintu, siluet seorang wanita berdiri tegak. Dia melangkah masuk dengan anggun, memecah kepulan asap dry ice dari dekorasi lantai. 


Begitu dia berjalan di bawah terpaan lampu kristal utama, napasku seakan ditarik paksa dari paru-paru.


Zea?


Bukan. Tidak mungkin itu istri udikku yang baru saja kukurung di lantai bawah. Wanita yang berjalan di atas karpet merah ini mengenakan gaun merah maroon elegan rancangan desainer ternama yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. 


Di belakangnya, delapan pria bertubuh tegap berjas hitam mengekor rapi, layaknya pasukan pengawal untuk tamu VVIP.


Tapi saat wanita itu membuka kacamata hitamnya, lututku seketika lemas. 


Wajah itu ... itu benar-benar Zea!


Bagaimana dia bisa keluar dari mobil? Dan sejak kapan dia punya pakaian semewah itu beserta puluhan pengawal di belakangnya?


Aku belum sempat mencerna apa pun ketika tiba-tiba kudengar suara kursi digeser dengan kasar. 


Ayah Aurel, bos besarku, berdiri dengan wajah pucat pasi. Tubuh pria paruh baya itu gemetar hebat sebelum dia menunduk hormat hampir sembilan puluh derajat.


"S-selamat datang, Nona Muda Adhitama. Kehormatan besar Anda sudi hadir kemari."


Duniaku runtuh detik itu juga.

Nona Muda Adhitama? Pewaris tunggal konglomerat Adhitama Group yang menguasai seluruh saham mayoritas di perusahaan ayah Aurel? 


Istriku yang selama ini selalu kucaci maki karena miskin, ternyata adalah bos besar dari ayah selingkuhanku sendiri?!


Zea tidak mempedulikan sapaan itu. Dia terus melangkah santai hingga berhenti tepat di depan meja akad. Dia menatapku dan Aurel bergantian dengan senyum sinis yang mengiris habis harga diriku.


"Kenapa berhenti? Lanjutkan saja akadnya. Aku datang ke sini cuma mau memastikan, apakah hotel bintang lima milik keluargaku ini cukup nyaman untuk merayakan perselingkuhan kalian, Mas Galen?"


***

Bab 2

"Perempuan gembel ini Nona Muda Adhitama?! Papa pasti sudah gila! Dia itu cuma istri sah Mas Galen yang udik dan miskin!"


Jeritan histeris Aurel menggema, memecah keheningan ballroom yang mencekam. Jari telunjuknya yang dihiasi nail art mahal menunjuk lurus tepat ke depan wajah Zea.


PLAK!


Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Aurel, membuat tubuhnya terhuyung hingga menabrak meja akad. 


Bukan Zea yang menamparnya, melainkan Pak Wijaya, ayahnya sendiri. Pria paruh baya yang biasanya tampil penuh wibawa itu kini basah oleh keringat dingin, menatap putrinya dengan mata melotot ngeri.


"Tutup mulut kotormu, Aurel! Kamu mau membuat seluruh keluarga kita hancur berkeping-keping?!" bentak Pak Wijaya dengan suara bergetar. Ia kemudian kembali menunduk dalam-dalam ke arah Zea. 


"Mohon ampun, Nona Muda. Putri saya sungguh tidak tahu berhadapan dengan siapa."


Aku membeku di tempat. Udara di sekitarku seolah tersedot habis. Lututku kehilangan fungsi, membuatku ambruk berlutut tepat di depan meja akad. 


Otakku menolak mencerna realita sinting ini. 


Zea? Istriku yang selalu kuolok-olok karena bajunya itu-itu saja, yang setiap hari memasak dan menyetrika kemejaku, adalah penguasa tunggal kerajaan bisnis Adhitama?!


"Z-Zea," panggilku parau, merangkak mendekatinya layaknya pesakitan. "Sayang, i-ini semua salah paham. Mas bisa jelasin, Mas cuma dipaksa."


Namun, belum sempat tanganku menyentuh ujung gaun merahnya, dua pengawal berjas hitam langsung menendang dadaku hingga aku terjengkang. 


Sakitnya luar biasa, tapi tak sebanding dengan rasa malu yang menguliti harga diriku di depan ratusan tamu undangan.


Zea menatapku dari atas ke bawah, seolah aku adalah tumpukan sampah paling menjijikkan yang pernah ia lihat. 


Tidak ada lagi sorot mata lembut dan penuh cinta dari perempuan yang selama dua tahun ini selalu melayaniku. 


Yang ada hanyalah tatapan sedingin es milik seorang predator kelas atas yang siap menerkam mangsanya.


"Dipaksa?" Zea tertawa pelan, tawanya terdengar merdu namun mengiris nurani. 


"Dipaksa sampai kamu mengunci istrimu sendiri di basement tanpa ventilasi udara agar kamu bisa tenang mengucap ijab kabul? Aktingmu sebagai korban sungguh menyedihkan, Galen Alvarendra."


Zea kemudian mengalihkan pandangannya pada Pak Wijaya dan Aurel yang kini menangis sambil memegangi pipinya di lantai.


"Pak Wijaya, mulai detik ini, Adhitama Group menarik seluruh suntikan dana, membatalkan semua proyek, dan mengakuisisi paksa perusahaan Anda karena pelanggaran kontrak." 


Zea berucap tanpa jeda, memutus urat nadi perusahaan bosku dalam satu tarikan napas. 


"Dan untukmu, Galen. Fasilitas apartemen mewah, mobil yang kau pakai untuk mengurungku, hingga cincin berlian yang akan kau berikan pada wanita murahan itu, semuanya adalah milikku dan akan kutarik malam ini juga."


Darahku mendidih campur aduk dengan kepanikan luar biasa. Karirku hancur. Rencana kaya rayaku musnah. 


Jika Pak Wijaya bangkrut, Aurel tak lebih dari perempuan miskin yang tak ada harganya untukku!


Zea membalikkan badannya dengan anggun, bersiap melangkah pergi meninggalkan kehancuran yang baru saja ia ciptakan. 


Namun, ia kembali menolehkan kepalanya dari balik bahu, menatapku dan Aurel bergantian dengan senyum iblis yang membekukan darah.


"Jangan pasang wajah ketakutan begitu, Sayang. Aku tidak akan memanggil polisi. Penjara itu terlalu nyaman untuk pengkhianat sepertimu," ucap Zea dengan nada lembut yang mengancam. 


"Lanjutkan saja akad nikah kalian. Hiduplah bahagia sebagai sepasang suami istri gembel yang menanggung utang denda dua ratus miliar padaku. Karena mulai besok pagi, aku akan memastikan kalian membayarnya dengan air mata setiap harinya."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar