"Heh, Satpam! Cepat hancurkan gembok ini pakai palu! Di dalam sana ada koleksi tas, baju sutra, dan perhiasan emasku! Berani-beraninya Jannah, perempuan gembel itu, mengunci rumah anakku sendiri!"
Jeritan nyaring ibu mertua memecah keheningan kompleks perumahan elite pagi itu.
Wanita paruh baya tersebut memukul-mukul pagar besi tempa setinggi dua meter dengan beringas, sementara beberapa koper berisi pakaian murahnya sudah berserakan di trotoar.
Sebuah sedan hitam metalik meluncur mulus dan berhenti tepat di belakangnya. Kaca jendela turun perlahan, dan aku menatapnya dari balik kacamata hitam desainerku.
"Tidak ada yang salah dengan gembok itu, Ibu Mertua. Yang salah adalah urat malu Ibu yang sudah putus, masih berani berdiri di depan properti milikku setelah putramu merampok miliaran rupiah dari perusahaanku."
Ibu mertua menoleh dengan kasar. Matanya membelalak melihatku keluar dari kursi penumpang dengan setelan kerja yang rapi dan elegan, didampingi dua staf legal perusahaanku.
Kesombongannya sejenak goyah, tapi egonya yang sudah berurat akar memaksanya untuk tetap berkacak pinggang.
"Jannah! Dasar menantu durhaka! Buka pintunya!" bentaknya, meski suaranya sedikit bergetar.
"Rumah ini dibeli pakai uang Hakim! Ini rumah anakku! Kamu tidak berhak menyitanya!"
Aku melangkah maju, melepaskan kacamata hitamku dan menatapnya dengan senyum dingin.
"Pakai uang Hakim? Ibu pikir gaji Manajer Pemasaran cukup untuk membayar cicilan rumah senilai lima miliar ini, ditambah biaya listrik puluhan juta setiap bulan?"
Aku memberi isyarat pada staf legalku. Pria berkemeja rapi itu langsung menempelkan stiker besar berwarna merah di pilar pagar: PROPERTI INI DALAM PENYITAAN TIM LEGAL GRUP WIRYAWAN.
"Semua kemewahan yang Ibu nikmati di rumah ini, mulai dari sofa empuk, kulkas penuh makanan impor, sampai brankas tempat Ibu menyimpan perhiasan, semuanya dibeli menggunakan uang operasional perusahaanku yang Hakim gelapkan," ucapku dengan nada pelan yang mematikan.
"Jadi secara hukum, Ibu tidak punya hak mengambil sehelai benang pun dari dalam sana."
Wajah ibu mertua pucat pasi. Ia mundur selangkah, namun matanya masih memancarkan kebencian.
Tepat pada saat itu, sebuah mobil Alphard putih melintas perlahan. Kaca jendelanya terbuka, menampakkan wajah Tante Sarah dan beberapa ibu-ibu arisan yang kemarin siang baru saja disombongi oleh Restu.
Mereka menatap ibu mertua yang terlantar di trotoar dengan tatapan merendahkan, lalu berbisik-bisik sambil tertawa sinis sebelum mobil itu berlalu pergi.
Melihat harga dirinya diinjak-injak di depan teman-teman arisannya, ibu mertua menangis histeris. Ia menjatuhkan diri ke aspal, memegangi kakiku.
"Jannah, Ibu mohon. Ibu mau tinggal di mana? Ibu tidak punya siapa-siapa lagi di Jakarta selain Hakim," ratapnya, memutar balik fakta seolah dialah korban yang terzalimi di sini.
Aku menunduk, mataku tertuju pada pergelangan tangannya yang dipenuhi gelang keroncong emas yang bergemerincing.
Aku meraih pergelangan tangannya yang keriput itu, membuat tangisannya terhenti sejenak.
"Gelang-gelang ini. Bukankah dibeli dari kartu kredit suplemen yang limitnya sudah kunolkan itu?" tanyaku lembut. "Lepaskan, Ibu Mertua. Itu juga aset perusahaanku."
"J-Jannah! Kamu mau merampok Ibu?!"
"Saya sedang mengambil kembali barang curian, Ibu," selaku tegas, menepis tangannya.
"Pak Dirman sudah membelikan tiket bus ekonomi untuk Ibu pulang ke kampung pagi ini. Nikmati perjalanan Ibu. Karena putra kesayangan Ibu akan melakukan perjalanan yang jauh lebih panjang dari sekadar pulang kampung."
***
Tiga jam kemudian, aku duduk di ruang jenguk rumah tahanan kepolisian. Udara di sini pengap, sangat kontras dengan wangi parfum mahal di ruanganku.
Pintu besi terbuka. Hakim digiring masuk oleh seorang sipir. Tidak ada lagi jas rapi, rambut berpomade, atau dagu yang terangkat sombong.
Suamiku itu kini memakai kemeja tahanan berwarna oranye yang kedodoran. Wajahnya kuyu, matanya cekung, dan ada bekas tamparan merah yang tercetak jelas di pipinya, kemungkinan besar hadiah perpisahan dari Restu di ruang interogasi semalam saat wanita itu terus melimpahkan semua kesalahan padanya.
Melihatku, mata Hakim langsung berkaca-kaca. Ia menghempaskan tubuhnya di kursi seberang meja, meraih tanganku dengan putus asa.
"Jannah Sayang, syukurlah kamu datang," isaknya, air mata buaya menetes membasahi pipinya.
"Tolong aku, Jannah. Restu mengkhianatiku. Dia menjebakku dan bersaksi memberatkanku agar dia bisa bebas. Aku baru sadar, ternyata cuma kamu wanita yang tulus padaku, Jannah. Tolong siapkan pengacara terbaik untukku, ya? Keluarkan aku dari neraka ini."
Aku menarik tanganku dari genggamannya dengan jijik, lalu mengeluarkan sebuah map cokelat dari dalam tas, meletakkannya tepat di depan wajahnya.
Hakim menatap map itu dengan mata berbinar.
"I-ini dokumen pembelaanku? Kamu mau membebaskanku?"
"Buka saja, Mas," sahutku datar.
Tangan Hakim yang bergetar membuka map tersebut. Senyum harapannya luntur seketika berganti dengan tatapan horor.
Di dalamnya bukan dokumen pengacara, melainkan draf gugatan cerai dan surat pengakuan hutang ganti rugi sebesar lima belas miliar rupiah atas kerugian materil dan imateril perusahaan.
"G-gugatan cerai? Dan hutang lima belas miliar?!"
Hakim menatapku dengan napas tersengal, urat di lehernya kembali menonjol. Kepanikannya berubah menjadi kemarahan.
"Kamu mau membuangku di saat aku seperti ini?! Tega kamu, Jannah! Kamu istriku! Kalau aku membusuk di penjara, siapa yang akan melindungimu?! Siapa yang akan memberimu nafkah?!"
Aku menatap pria yang hidup dalam delusinya itu, menyandarkan punggungku dengan santai sebelum memberikan hantaman realita yang paling menyakitkan untuk menghancurkan sisa-sisa harga dirinya.
"Menafkahiku? Mas, sepertinya kamu lupa posisi. Baju tahanan yang kamu pakai, sel sempit dan bau tempatmu tidur malam ini, hingga nasi bungkus jatah kepolisian yang kamu makan pagi ini, semuanya dibayar menggunakan pajak dari perusahaan yang kupimpin. Jadi secara teknis, bahkan di balik jeruji besi pun, kamu masih hidup menumpang padaku."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar