"Kalian berdua pasti sudah gila! Akta hibah? Cih, kamu pikir aku bodoh bisa ditipu dengan kertas murahan hasil editan warnet begini?!"
Tawa sumbang Mas Yoga menggema di ruang tamu.
Dengan gerakan kasar, ia merampas map berisi dokumen resmi itu dari tanganku, berniat merobeknya menjadi dua. Aku bahkan tidak berkedip, apalagi berniat mencegahnya.
"Robek saja, Yoga." Suara Ibu mertuaku memecah keheningan, terdengar begitu dingin dan berwibawa.
"Ibu masih punya salinan aslinya yang tersimpan aman di brankas notaris. Dan perlu kamu tahu, merobek seribu lembar kertas pun tidak akan mengubah fakta bahwa mulai hari ini, kamu hanyalah gembel yang menumpang di rumah Vika."
Tangan Mas Yoga yang bersiap merobek dokumen itu terhenti di udara. Ia menatap ibunya dengan raut wajah tak percaya.
"Ibu! Aku ini anak kandung Ibu satu-satunya! Darah daging Ibu! Tega Ibu memberikan semua aset keluarga ke perempuan luar ini? Dia pasti sudah pakai pelet untuk mencuci otak Ibu, kan?!"
Aku tersenyum miring, lalu mengeluarkan ponsel Ibu dari saku rokku.
Tanpa banyak bicara, aku memutar video rekaman CCTV yang semalaman membuatku dan Ibu tak bisa tidur.
Layar itu menampilkan adegan demi adegan di mana tangan suamiku sendiri dengan rakus menguras uang pensiunan ibunya.
Wajah arogan Mas Yoga seketika pias. Darah seolah tersedot habis dari wajahnya. Mulutnya terbuka dan tertutup seperti ikan yang kehabisan napas.
"Masih mau mengelak dan menuduhku pakai pelet, Mas?" tanyaku sambil melipat tangan di dada.
"Atau mau aku laporkan video ini ke kantor polis atas tuduhan pencurian di dalam keluarga?"
"Vika, I-ibu, ini nggak seperti yang kalian pikirkan. Aku bisa jelaskan." Nadanya langsung berubah panik, kegagapannya justru membuatnya terlihat semakin menyedihkan.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan," potong Ibu mertuaku tegas. "Sekarang, letakkan kunci mobil HRV dan semua kartu kredit yang selama ini tagihannya Ibu yang bayar. Serahkan semuanya ke Vika. Fasilitasmu dicabut."
"Apa?! Bu, aku harus kerja pakai apa besok?!"
"Naik angkot, atau jalan kaki," balasku cepat. "Sekarang serahkan semuanya padaku, Mas, atau aku benar-benar akan menelepon polisi."
Dengan tangan gemetar dan rahang mengeras menahan amarah yang tak bisa dilampiaskan, Mas Yoga merogoh saku celananya.
Ia membanting kunci mobil dan dompetnya ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi berdebum yang keras. Ia menatapku penuh kebencian, lalu berbalik melangkah pergi dengan langkah dihentak keras.
"Bagus. Nikmati saja hartamu, Vika! Kalian pikir aku akan hancur cuma karena ini? Aku bisa hidup tanpa kalian!" geramnya sebelum membanting pintu kamarnya dari dalam.
Aku dan Ibu saling berpandangan, menyunggingkan senyum kemenangan pertama kami. Namun, euforia itu tak berlangsung lama.
Pandanganku jatuh pada jaket kulit yang tadi sempat dilempar Mas Yoga ke atas sofa sebelum ia melihatku. Dari saku jaket itu, terdengar getar panjang berulang kali.
Ponsel kedua Mas Yoga, ponsel yang bahkan tidak pernah kuketahui keberadaannya selama tiga tahun pernikahan kami.
Aku meraih benda pipih berwarna hitam itu. Layarnya menyala terang, menampilkan deretan pesan beruntun dari kontak tanpa nama yang membuat nafasku seakan berhenti seketika.
[Mas, uang dari ibumu sudah aman, kan? Aku nggak mau tahu, pokoknya hari ini juga uangnya harus ditransfer untuk bayar DP gedung pernikahan kita. Aku nggak mau perutku keburu membesar saat kita resepsi bulan depan.]
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar