Kamis, 23 April 2026

Anak dan Istriku dipukuli dan Dibilang Tidak Waras oleh Ibu dan Adikku. Betapa kagetnya aku saat pulang dari luar Kota, Ternyata Mereka....

 


"Kurung saja perempuan gila itu di gudang belakang! Kalau dia dan anak itu masih berani menjerit, biar aku yang membungkam mulut mereka pakai kain pel kotor ini!"


Langkah kakiku terhenti paksa di ambang pintu utama. Jantungku seolah berhenti berdetak saat mendengar teriakan melengking dari dalam rumah yang sangat kukenal. 


Itu suara Maya, adik perempuanku satu-satunya.


Aku baru saja tiba setelah berbulan-bulan merantau dari luar kota. 


Sengaja aku tidak memberi kabar karena ingin memberikan kejutan untuk istri dan anak lelakiku tercinta. 


Namun, kejutan itu justru berbalik menghantam ulu hatiku dengan sangat telak.


Dengan tangan gemetar, aku mendorong pintu kayu yang sedikit terbuka itu. 


Pemandangan di ruang tengah membuat tas ransel di bahuku merosot jatuh ke lantai.


Sekar, istriku, meringkuk di sudut ruangan dengan rambut acak-acakan dan pakaian yang kusam. Tangannya mendekap erat Bumi, putra kami yang baru berusia lima tahun. 


Bocah kecil itu menangis tanpa suara, wajahnya membenam ketakutan di dada ibunya, sementara sudut bibir Sekar tampak memar kebiruan.


Di hadapan mereka, ibuku berdiri berkacak pinggang dengan napas memburu, sementara Maya memegang sebuah gagang sapu ijuk yang patah menjadi dua.


"Aris?!" Ibu terkesiap. Wajahnya yang semula garang mendadak pucat pasi melihat kehadiranku yang tiba-tiba. 


Gagang sapu di tangan Maya pun langsung terlepas dan berderit nyaring membentur lantai keramik.


"Apa-apaan ini, Bu? Maya?!" Suaraku bergetar, menahan amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun. 


Aku langsung berlari, berlutut, dan merengkuh tubuh istri serta anakku yang gemetar hebat.


"Mas ... Mas Aris." Sekar bergumam lirih. Matanya menatapku dengan sorot kosong yang menyayat hati, seolah ia berada di dunianya sendiri. Tubuhnya sedingin es.


"Aris, syukurlah kamu pulang, Nak!" Ibu tiba-tiba mengubah nada suaranya menjadi memelas, seolah dialah yang menjadi korban di sini. 


Wanita paruh baya itu menghampiriku sambil menghela napas panjang yang dibuat-buat. 


"Kamu jangan dekat-dekat dengan istrimu. Dia sudah kehilangan akal sehatnya semenjak kamu pergi. Sekar sudah tidak waras, Ris!"


"Iya, Mas!" Maya menimpali dengan cepat, berusaha membenarkan ucapan ibunya. 


"Mbak Sekar sering mengamuk, merusak barang-barang, dan hampir mencelakai Bumi! Ibu dan aku hanya berusaha mengamankannya agar dia tidak membahayakan anakmu sendiri!"


Aku menatap Ibu dan Maya bergantian. Sorot mata mereka terlihat gelisah. 


Aku memang baru pulang, tetapi aku bukan laki-laki bodoh. Tidak ada orang yang 'mengamankan' orang tidak waras dengan cara memukulinya hingga memar. 


Belum lagi kondisi rumah yang tampak rapi, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda ada orang mengamuk dan merusak barang.


"Begitu rupanya," kataku pelan, sengaja memasang raut wajah muram seolah aku mempercayai kebohongan mereka. 


Aku mengusap rambut Sekar yang kusut masai, membiarkan Ibu dan Maya mengira sandiwara kotor mereka berhasil mengelabuiku. 


Jika aku langsung marah sekarang, aku tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dariku.


"Bawa istrimu ke kamar, Ris. Nanti Ibu buatkan teh hangat untukmu. Kamu pasti lelah," ucap Ibu, nadanya terdengar sangat lega karena merasa aku memihaknya.


Aku mengangguk. Dengan hati-hati, kubimbing Sekar berdiri sambil terus menggendong Bumi yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leherku. 


Namun, tepat saat aku merangkul pinggang istriku untuk membantunya berjalan melewati Ibu dan Maya, Sekar tiba-tiba mencengkeram kuat ujung kemejaku.


Tubuhnya yang tadi gemetar kini terasa sangat kaku. Dan di detik itu juga, kepalanya menoleh sedikit ke arahku.


"Ibu benar, Mas. Aku memang gila," bisik Sekar tepat di telingaku dengan suara yang sangat tenang, jernih, dan sedingin es, sama sekali berbeda dengan tatapan kosongnya tadi. 


"Karena kalau aku waras, aku sudah menjebloskan ibu dan adikmu ke penjara sejak bulan lalu."


***

Bab 2

"Kunci pintunya dari dalam, Mas. Dan tolong, jangan perlihatkan wajah terkejutmu ke arah jam dinding itu. Mereka memasang kamera pengawas di sana."


Langkahku yang baru saja melewati ambang pintu kamar kami langsung membeku. Bisikan Sekar yang kedua kalinya ini benar-benar meruntuhkan kewarasanku. 


Aku menunduk, menatap wajah istriku yang kembali memasang ekspresi kosong dan ketakutan, seolah bisikan sedingin es barusan tidak pernah keluar dari bibirnya.


Dengan napas tertahan, aku perlahan memutar kunci pintu. Sudut mataku mencuri pandang ke arah jam dinding berbingkai kayu di atas lemari pakaian. 


Benar saja, ada sebuah titik kecil berwarna merah yang berkedip samar di balik angka dua belas.


Tanganku mengepal kuat hingga buku-buku jariku memutih. Amarahku kembali mendidih. 


Rumah ini adalah hasil keringatku merantau, tapi ibu dan adikku berani-beraninya menjadikan istriku seperti tahanan di rumahnya sendiri!


Namun, aku teringat ucapan Sekar. Aku tidak boleh gegabah. Jika aku membongkar kamera itu sekarang, mereka akan tahu bahwa kedok mereka sudah terbongkar.


"Ssst ... sudah, Sayang, kamu aman sekarang," ucapku dengan suara yang sengaja agak kukeraskan, memainkan peranku sebagai suami yang tengah menenangkan istrinya yang sedang terguncang. 


Aku memeluk Sekar dan membimbingnya duduk di tepi ranjang.


Bumi, jagoan kecilku, masih terus menggenggam erat ujung kemejaku. Ia menatapku dengan mata bulatnya yang sembab. 


Aku mengangkat tubuh kecilnya, memeluknya dengan erat. Rinduku padanya bertumpuk dengan rasa bersalah yang luar biasa.


Aku mencondongkan tubuh, mengecup puncak kepala Bumi, lalu menempelkan telingaku di dekat bibir mungilnya.


"Ayah," bisik Bumi sangat pelan, suaranya bergetar hebat. "Tante Maya ambil semua perhiasan Bunda di laci. Nenek selalu marah kalau Bunda minta makan."


Mataku terpejam rapat. Rahangku mengeras.


Jadi ini alasan mengapa Sekar tampak sangat kurus dan pakaiannya kusam? Mereka bukan hanya menyiksa istriku secara fisik dan mental, tapi juga merampas hak-haknya. 


Pantas saja setiap bulan uang belanja yang kutransfer selalu habis tanpa sisa, padahal nominalnya sangat lebih dari cukup untuk mereka bertiga.


***


Malam semakin larut. Sekar dan Bumi akhirnya terlelap setelah kelelahan menangis. Aku memandangi wajah damai istriku. Lebam di sudut bibirnya adalah bukti nyata kekejaman darah dagingku sendiri.


"Aku janji, Sekar. Aku akan mengembalikan setiap tetes air mata dan penderitaanmu berkali-kali lipat," batinku.


Setelah memastikan keduanya benar-benar tidur pulas, aku bangkit perlahan. 


Aku sengaja menarik selimut hingga menutupi tubuh kami tadi agar tersembunyi dari jangkauan kamera pengawas, lalu mengendap-endap keluar dari kamar. Lampu ruang tengah sudah dipadamkan. Suasana rumah terasa sangat hening.


Aku melangkah tanpa suara menuju dapur untuk mengambil segelas air dingin demi memadamkan api di kepalaku. 


Namun, saat melewati kamar Ibu, langkahku terhenti. Pintu kamarnya sedikit terbuka, menyisakan celah cahaya kekuningan. 


Terdengar suara bisik-bisik dari dalam sana.


Aku menempelkan punggung di dinding, menahan napas, dan menajamkan pendengaran.


"Ibu terlalu meremehkan Mas Aris! Maya takut banget, Bu! Gimana kalau besok pagi dia periksa brankas dan sadar semua sertifikat tanah sama toko perhiasan Mbak Sekar udah Ibu balik nama? Kalau dia tahu uang transferannya selama ini cuma kita pakai buat foya-foya, kita bisa diusir dari rumah ini!"


Terdengar decakan kesal dari dalam kamar, disusul suara Ibu yang terdengar begitu licik.


"Kamu ini penakut sekali, Maya! Makanya, besok pagi-pagi buta kita panggil petugas dari panti rehabilitasi. Begitu Sekar resmi diseret dan dikurung di sana dengan cap orang gila, Aris tidak akan pernah punya alasan untuk mempercayai ucapan perempuan itu. Dan seluruh hartanya, akan mutlak jadi milik kita!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(9) Selingkuhan Suamiku Mempermalukanku di Arisan. Dia Tidak Tahu Saja Kartu Kredit yang Dipakai Suamiku adalah Milikku. Akan Kubuat Mereka Menyesal!

  "Heh, Satpam! Cepat hancurkan gembok ini pakai palu! Di dalam sana ada koleksi tas, baju sutra, dan perhiasan emasku! Berani-beraniny...