Kamis, 23 April 2026

(4) Mertua Miskinku Mewariskan Ruko Kecil yang Sudah Mau Roboh. Kami Kira Ruko itu Tak Ada Isinya. Saat Mau Pindah, Isinya Ternyata adalah...

 


"Halu kamu, pengangguran miskin! Beli kuota internet saja harus ngutang ke warung, berani-beraninya mau beli rumah Mami! Tidur sana di lantai ruko, jangan lupa pakai koran bekas biar nggak masuk angin!"


Sambungan telepon diputus sepihak. Siska tertawa meremehkan di ujung sana, menganggap ancaman Deon barusan hanyalah bualan kosong dari seorang pria putus asa yang baru saja diusir.


Aku menatap layar ponselku yang kembali gelap, lalu beralih menatap suamiku. 


Alih-alih marah, Deon justru tersenyum miring. Ia menyerahkan ponsel retak itu kembali kepadaku dengan gerakan tenang. Ketenangan yang justru terasa berbahaya.


"Biarkan dia tertawa malam ini, Sayang," ucap Deon lembut seraya merangkul bahuku, menyandarkan kepalaku ke dada bidangnya. 


"Besok, tawa itu akan berubah menjadi tangisan yang paling keras."


Mobil mewah yang kami tumpangi melaju membelah jalanan kota yang mulai lengang. 


Di dalam kabin yang kedap suara dan beraroma lavender ini, aku merasa seperti berada di dunia lain. Pakaianku yang pudar dan sandal jepit yang kukenakan terasa sangat kontras dengan kemewahan interior mobil ini.


Sepanjang perjalanan, aku hanya diam, masih berusaha mencerna kenyataan yang berbalik seratus delapan puluh derajat hanya dalam waktu beberapa jam. 


Suamiku yang selama ini bekerja keras sebagai kuli panggul, yang tangannya selalu kapalan, yang rela dihina demi mengais rezeki, ternyata adalah pewaris tunggal sebuah kekayaan yang tak terbayangkan.


"Kita mau ke mana, Mas?" tanyaku pelan saat menyadari mobil ini tidak mengarah ke pusat kota, melainkan melaju menuju kawasan perbukitan elite yang terkenal dengan penjagaan super ketat.


"Pulang," jawab Deon singkat, mengecup puncak kepalaku. "Ke rumah kita yang sebenarnya. Tempat di mana Ibu dulu membesarkanku sebelum beliau memutuskan untuk menguji kita berdua."


***


Gerbang besi tempa setinggi empat meter menjulang di hadapan kami. 


Begitu mobil mendekat, gerbang itu terbuka otomatis, dijaga oleh belasan petugas keamanan berseragam hitam yang langsung memberikan hormat.


Mataku membelalak tak percaya saat mobil menyusuri jalan masuk yang diapit oleh taman bunga mawar yang tertata rapi. 


Di ujung jalan, sebuah mansion bergaya Eropa klasik berdiri megah dengan pilar-pilar besar dan air mancur yang menyala indah di halaman depan. 


Ini bukan sekadar rumah orang kaya. Ini benar-benar istana.


Pintu mobil dibukakan. Deon menggandeng tanganku turun. Kakiku melangkah ragu di atas lantai marmer yang mengkilap, disambut oleh barisan pelayan berseragam rapi yang menunduk hormat di sepanjang lobi.


"Selamat datang kembali di rumah, Tuan Muda Deon. Selamat datang, Nyonya Besar Vina," sapa seorang pria paruh baya berwajah kebaratan yang memakai setelan jas abu-abu. Jasnya sangat rapi, posturnya tegap. 


"Saya Albert, kepala pelayan keluarga ini."


Aku hanya bisa mengangguk kaku, masih terlalu syok untuk membalas sapaannya.


"Kamar kalian sudah disiapkan, Tuan. Dan Nyonya Vina, tim desainer dan penata rias terbaik sudah menunggu di lantai atas untuk mempersiapkan penampilan Anda besok pagi," lanjut Albert dengan nada hormat.


Deon mengangguk puas. Ia menoleh ke arahku, mengusap pipiku dengan ibu jarinya. 


"Malam ini, tidurlah yang nyenyak di kasur paling empuk, Vin. Besok pagi, kamu tidak akan memakai baju pudar ini lagi. Kita akan datang ke acara arisan Tante Hilda bukan sebagai kerabat miskin yang meminta sisa makanan."


Deon kemudian menatap Albert dengan sorot mata yang kembali tajam.


"Tuan Muda, semuanya sudah beres," lapor Albert tanpa perlu ditanya, memecah keheningan lobi mansion yang megah itu. 


"Sertifikat rumah keluarga Nyonya Hilda sudah resmi beralih atas nama Nyonya Vina malam ini juga. Tiga alat berat excavator juga sudah kami siagakan tak jauh dari lokasi. Kapan Anda ingin kami mulai meratakannya dengan tanah?"


Deon tersenyum dingin, matanya berkilat penuh antisipasi. 


"Kita tidak akan meratakannya pagi-pagi buta. Biarkan wanita sombong itu menggelar arisan mewahnya dulu siang nanti. Kita akan hancurkan istananya tepat di saat dia sedang memamerkan kekayaannya."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(4) Mertua Miskinku Mewariskan Ruko Kecil yang Sudah Mau Roboh. Kami Kira Ruko itu Tak Ada Isinya. Saat Mau Pindah, Isinya Ternyata adalah...

  "Halu kamu, pengangguran miskin! Beli kuota internet saja harus ngutang ke warung, berani-beraninya mau beli rumah Mami! Tidur sana d...