Kamis, 23 April 2026

(3) Kutukar Perhiasan Milik Istriku dengan Imitasi untuk Membiayai Selingkuhanku. Tapi Kenapa Video Perselingkuhanku Viral di Sosial Media? Apakah Ada Hubungannya dengan Istriku?

 


"Singkirkan tangan kotormu dari rumahku! Haura itu cuma perempuan rumahan yang menumpang hidup padaku selama ini! Dokumen itu pasti palsu, dia tidak mungkin punya kekuatan untuk menyewa orang-orang seperti kalian!"


Teriakanku menggema, membelah udara siang yang terik. 


Aku meronta sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman dua pria berbadan tegap yang kini menyeretku tanpa ampun keluar dari pekarangan rumah. 


Pria berjas yang memegang dokumen tadi hanya menatapku datar, seolah aku hanyalah debu yang mengganggu pemandangannya.


"Lempar dia ke luar. Dan kalian," pria itu memberi isyarat pada operator alat berat di belakangnya, "lakukan tugas kalian. Bersihkan tempat ini."


Brak!


Tubuhku terjerembap kasar di atas aspal. Telapak tanganku perih tergores kerikil tajam. 


Belum sempat aku bangkit, suara deru mesin ekskavator mengaum memekakkan telinga. Lengan besi raksasa itu mengayun, menghantam bagian depan rumahku hingga hancur berantakan. 


Debu mengepul tebal, diiringi suara dentuman material bangunan yang runtuh satu per satu.


"Tidak! Berhenti! Itu rumahku!" Aku menjerit histeris, namun suaraku tenggelam oleh sorak-sorai tipis dari kerumunan tetangga di ujung jalan.


Mereka yang biasanya bersikap manis padaku, kini asyik merekam kehancuranku dengan ponsel masing-masing. 


Video perselingkuhanku dengan Yuki rupanya telah mengubahku menjadi musuh publik dalam sekejap. 


Aku hanya bisa terpaku melihat tempat tinggal yang kubanggakan kini rata dengan tanah. Tak ada harta yang bisa kuselamatkan, bahkan baju ganti pun tak punya.


Dengan langkah gontai dan hati yang hancur, aku berlari menuju rumah Ibu. Pikiranku kalut. 


Haura. Dari mana dia mendapatkan semua kekuatan ini? 


Siapa orang di belakangnya? Tidak mungkin istriku yang penurut itu bisa melakukan ini sendirian.


Namun, pemandangan di depan gang rumah Ibu membuat jantungku seakan berhenti berdetak.


Di pinggir jalan yang berdebu, Ibu duduk bersandar pada tumpukan karung berisi pakaian. Adik perempuanku menangis sesenggukan sambil memeluk bantal kusam. 


Di sekeliling mereka, berserakan peralatan dapur dan kasur lipat yang sudah tua. Pintu rumah Ibu digembok rapat dengan rantai besi, dan ada stiker besar bertuliskan: DISITA.


"Ibu," panggilku lirih dengan suara serak.


Ibu mendongak. Wajahnya yang keriput tampak sangat kuyu, matanya merah karena terlalu banyak menangis. Begitu melihatku, Ibu bangkit dengan sisa tenaganya.


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipiku. Rasanya panas dan menyengat.


"Laki-laki bodoh! Lihat apa yang sudah kamu lakukan!" suara Ibu bergetar menahan amarah. 


"Ibu yang sudah tua ini harus menanggung malu diusir dari rumah sendiri! Kamu lebih memilih perempuan lain dan mengkhianati Haura, sekarang lihat hasilnya! Kita tidak punya tempat tinggal, Zaki!"


Aku bersimpuh di kaki Ibu, menyembunyikan wajahku yang basah oleh air mata. 


"Maafkan Zaki, Bu. Zaki tidak tahu akan jadi seperti ini. Zaki benar-benar hancur."


Tepat saat aku meratapi nasib di pinggir jalan, ponsel milik Ibu yang tergeletak di atas tikar berdering pelan. 


Sebuah nomor yang sangat kukenal muncul di layar. Dengan tangan gemetar, aku meraihnya dan menekan tombol hijau.


Keheningan sempat tercipta selama beberapa detik, sebelum akhirnya suara lembut yang sangat kukenal mengalun dengan nada yang sangat tenang, namun terasa sangat tajam.


"Bagaimana udaranya di sana, Mas Zaki? Masih lebih nyaman daripada di dalam mobil mewahmu yang baru disita itu, kan? Nikmati saja dulu pemandangan indahnya, karena ini baru hari pertama dari sisa hidupmu yang akan terasa sangat panjang."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) Kutukar Perhiasan Milik Istriku dengan Imitasi untuk Membiayai Selingkuhanku. Tapi Kenapa Video Perselingkuhanku Viral di Sosial Media? Apakah Ada Hubungannya dengan Istriku?

  "Singkirkan tangan kotormu dari rumahku! Haura itu cuma perempuan rumahan yang menumpang hidup padaku selama ini! Dokumen itu pasti p...