Kamis, 23 April 2026

(5) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Pembohong! Kamu cuma perantau rendahan, Danu! Mana mungkin direktur perusahaan sebesar ini sudi menjadi rekan bisnismu! Jangan mengada-ada untuk menakutiku, dasar adik tidak tahu diuntung!"


Teriakan Mbak Rini memudar seiring dengan jariku yang menekan tombol merah di layar ponsel. Aku memutus panggilan itu tanpa minat untuk berdebat lebih jauh. 


Biarlah realita yang menampar wajah angkuh mereka hari ini.


Aku menoleh, mendapati Sari masih berdiri mematung di dekat ranjang. Tangannya meremas ujung gaun tidur sutranya dengan gugup. 


Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya yang lelah.


"Mas, apa mereka benar-benar akan diusir ke jalan?" cicitnya pelan. Suaranya sarat akan rasa tidak tega. 


Bahkan setelah enam tahun disiksa secara mental dan dibiarkan kelaparan, hati istriku ini masih terbuat dari kapas.


Aku berjalan mendekat, menangkup kedua pipinya yang tirus dengan telapak tanganku. 


"Jangan pernah menangisi orang yang tega menertawakan penderitaanmu dan anak kita, Sari. Mulai detik ini, tugasmu hanya satu: melupakan rasa sakit itu dan hidup bahagia bersamaku."


Sari mengangguk pelan, setetes air mata jatuh membasahi punggung tanganku.


"Nah, sekarang bersiaplah. Pakai baju yang bagus, kita akan keluar," ujarku sambil tersenyum.


"K-keluar?" Sari menunduk, menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar hotel. 


"Tapi Mas, aku tidak punya baju yang layak. Baju-bajuku yang dulu sudah dibakar Mbak Rini karena katanya mengotori lemari lamaku. Aku malu kalau harus keluar berdampingan denganmu memakai baju lusuh."


Dadaku kembali terasa sesak mendengar pengakuan itu. Sebegitu hancurnya harga diri istriku diinjak-injak oleh keluargaku sendiri.


"Siapa bilang kamu tidak punya baju yang layak?" Aku meraih sebuah kotak besar berlogo butik ternama yang tadi pagi kuperintahkan untuk diantar oleh pelayan hotel. 


Kubuka penutupnya, memperlihatkan sebuah gaun elegan berwarna pastel yang sangat indah, lengkap dengan sepatu dan tas senada.


Mata Sari membulat sempurna. Ia menatap gaun itu dan menatapku bergantian. 


"Mas, ini ... ini pasti mahal sekali."


"Tidak ada yang terlalu mahal untuk ratuku," bisikku sambil mengecup punggung tangannya. 


"Pakailah. Hari ini, aku akan menebus enam tahun waktu yang hilang untukmu dan Bintang."


Satu jam kemudian, kami sudah berada di pusat perbelanjaan paling elit di kota ini. 


Bintang, yang awalnya ketakutan melihat keramaian, kini tertawa riang sambil memeluk sebuah robot mainan besar di tangan kirinya dan memegang es krim di tangan kanannya. 


Sementara Sari, ia berjalan di sampingku dengan gaun pastelnya, terlihat begitu anggun meski wajahnya masih memancarkan keraguan. 


Setiap kali ia melihat label harga di toko perhiasan atau pakaian anak, ia akan menarik lenganku dan mengajak pergi.


Namun aku bersikeras. Kubelikan semua yang ia butuhkan. Perhiasan emas untuk menggantikan cincin kawinnya yang dulu dirampas Mbak Rini, pakaian-pakaian bermerek, hingga mainan edukasi terbaik untuk Bintang. 


Aku ingin menghapus memori gubuk reyot itu dari ingatan mereka selamanya.


Di tengah kebahagiaan yang baru saja mulai mekar itu, ponsel di saku jas-ku bergetar. Sebuah pesan masuk dari Pak Surya, rekan bisnisku yang mengurus penyitaan rumah.


[Semua aset sudah disita sesuai prosedur hukum. Kakak dan ibumu menangis menolak pergi, tapi pihak keamanan perumahan sudah meminta mereka keluar karena mereka bukan lagi pemilik aset. Mereka sekarang duduk di trotoar depan gerbang perumahan beserta baju-baju murah mereka di dalam kardus.]


Aku tersenyum tipis membaca laporan itu. Keadilan memang selalu menemukan jalannya sendiri.


Tiba-tiba, ponsel Sari yang baru saja kubelikan berdering. Ia menatap layar dengan kening berkerut. 


"Mas, ada nomor tidak dikenal meneleponku."


"Biar aku yang angkat," ucapku tenang, mengambil alih ponsel itu dan menekan tombol terima.

Terdengar suara isak tangis serak dari seberang sana. Itu suara Ibuku.


"Sari, Nak Sari. Tolong Ibu, Nak. Ibu kedinginan duduk di pinggir jalan. Tolong bujuk suamimu, izinkan Ibu dan Rini kembali tidur di gubuk reyot milikmu itu malam ini saja. Ibu janji tidak akan memarahi kalian lagi," rajuk ibuku dengan nada memelas yang terdengar sangat menyedihkan.


Aku menatap keramaian mall sejenak, mengusap kepala Bintang yang sedang asyik memakan es krimnya, lalu mendekatkan ponsel itu ke bibirku.


"Nikmatilah dinginnya angin malam di jalanan itu, Bu. Karena mulai besok pagi, bahkan tanah tempat gubuk reyot itu berdiri sudah resmi berpindah nama menjadi milik Sari, dan aku pastikan tidak akan ada satu inci pun tempat tersisa untuk kalian menginjakkan kaki di sana."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) Kutukar Perhiasan Milik Istriku dengan Imitasi untuk Membiayai Selingkuhanku. Tapi Kenapa Video Perselingkuhanku Viral di Sosial Media? Apakah Ada Hubungannya dengan Istriku?

  "Singkirkan tangan kotormu dari rumahku! Haura itu cuma perempuan rumahan yang menumpang hidup padaku selama ini! Dokumen itu pasti p...