"Menangisiku? Simpan air mata palsumu itu, Kak Yuni! Hari ini aku datang bukan untuk reuni keluarga yang penuh drama, tapi untuk menendang kalian berdua keluar dari properti sah milik suamiku!"
Suara sedingin es itu menggema di ambang pintu utama, membelah keheningan dan menghentikan langkah kami seketika.
Yuni mematung, napasnya seolah tercekat di tenggorokan melihat sosok wanita muda yang baru saja melangkah masuk dengan langkah angkuh ke dalam ruang tamu.
Wanita itu mengenakan gaun merah menyala dan kacamata hitam. Penampilannya sangat elegan dan mewah, jauh dari bayangan Yuni tentang adiknya yang luntang-lantung di jalanan.
Di belakangnya, berdiri seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas rapi. Dafa, sosok yang disebut Reno sebagai bos mafia tanah, diikuti barisan pengacara dan beberapa pengawal pribadi.
"Nisa? Ini beneran kamu, Dek?" Suara Yuni bergetar hebat.
Tanpa mempedulikan tatapan tajam adiknya, Yuni setengah berlari dengan tangan terulur, bersiap memeluk satu-satunya keluarga sedarah yang ia miliki itu.
Namun, sebelum tangan Yuni menyentuh bahunya, Nisa menepisnya dengan kasar hingga istriku nyaris terjerembap ke lantai marmer.
Beruntung aku bergerak cepat merengkuh pinggangnya, melindunginya agar tidak terjatuh.
"Jangan sentuh aku!" desis Nisa, melepas kacamata hitamnya dan menatap Yuni penuh kebencian.
"Tiga tahun aku hidup menderita, makan dari sisa makanan di jalanan karena diusir paksa oleh ibu mertuamu yang gila harta itu! Dan kau? Kakak kandungku sendiri hanya diam melihatku diseret keluar seperti barang rongsokan! Kau lebih memilih pura-pura buta demi bisa tetap tinggal di istana ini, kan?!"
"Nggak, Nisa! Demi Tuhan, Kakak nggak tahu menahu soal itu!" Yuni terisak histeris, menggeleng kuat sementara tubuhnya bersandar lemas di pelukanku.
"Ibu mertua bilang kamu pergi dari rumah karena malu Kakak cuma jadi pembantu di sini! Kakak selalu mencarimu setiap hari, Dek!"
"Alasan!" potong Nisa tajam. Ia memalingkan wajahnya dan memberi isyarat pada suaminya.
Dafa tersenyum sinis. Ia melangkah maju dengan gaya arogan, lalu melemparkan sebuah map cokelat ke atas meja di hadapanku.
"Simpan tangisan kalian untuk nanti," ucap Dafa dengan nada meremehkan, menatapku dari atas ke bawah seolah aku masihlah si gembel gila yang diceritakan keluargaku.
"Sertifikat tanah dan bangunan ini sudah sah berganti nama menjadi milikku sejak minggu lalu. Ibumu dan adikmu, Bagas, menjualnya dengan harga yang pantas kepadaku melalui notaris. Jadi, Tuan Aji yang terhormat, silakan kemasi barang-barangmu dan bawa istrimu angkat kaki dari rumah istriku sekarang juga."
Aku menatap map di atas meja itu tanpa minat sedikit pun, lalu mengalihkan pandanganku pada Dafa dan Nisa secara bergantian.
Sungguh luar biasa tipu muslihat ibu dan adikku.
Mereka benar-benar telah memalsukan segalanya dan menjual rumah ini di belakangku saat mereka mengira aku tak akan pernah kembali kewarasanku.
Yuni semakin memucat. Ia menatapku dengan pandangan bersalah yang teramat dalam, merasa keluarganya kini justru datang sebagai pembawa petaka dan perusak kebahagiaan kami yang baru saja dimulai.
Aku mengusap bahu istriku dengan lembut, menenangkannya dalam diam, lalu perlahan melepaskan pelukanku padanya.
Aku melangkah maju memangkas jarak dengan Dafa. Bukannya panik atau marah, aku justru menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi absolut.
"Kau sangat bangga memamerkan sertifikat hasil manipulasi itu untuk mengintimidasi istriku, Dafa," ucapku sangat tenang, dengan suara bariton yang seketika membuat para pengawal di belakangnya tanpa sadar memundurkan langkah. Aku menatap lurus menembus manik matanya.
"Tapi sebelum istrimu bertingkah lebih jauh untuk mengusir kami, coba kau nyalakan ponselmu sekarang. Tanyakan pada tangan kananmu di ibukota, siapa nama pemegang saham utama yang baru saja mengakuisisi secara paksa seluruh aset perusahaan propertimu tepat dua menit yang lalu?"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar