Kamis, 23 April 2026

(7) Suamiku Koma dan Aku Diusir Mertua, Aset Kami Dirampas. Mereka Mentertawakanku yang Harus Makan Nasi Garam. Tapi Mereka Tak Tahu di Dalam Mesin Usang itu Terdapat Rahasia...

 


"Sialan! Benda apa ini?! Kenapa wajah Ari berubah menjadi karet kaku?! Di mana anakku?!" pekik Ibu mertuaku histeris, melempar selimut rumah sakit itu dengan tangan bergetar hebat.


Dari balik layar tablet di ruang kerjaku, aku tersenyum puas melihat wajah keriput itu memucat pasi. Matanya mendelik panik menatap manekin silikon seukuran manusia yang terbaring kaku di atas ranjang VIP. 


Rencananya untuk mencelakai suamiku malam ini gagal total.


Tanpa ragu, aku menekan tombol interkom di mejaku yang terhubung langsung dengan sistem pengeras suara pintar di ruang rawat tersebut.


"Mencari pria yang selama ini Ibu jadikan mesin pencetak uang, Nyonya?" suaraku menggema dingin, memecah keheningan ruang ICU yang mencekam.


Di layar, tubuh tua itu melonjak kaget. Ibu mertua berputar kebingungan mencari sumber suara, hingga tatapannya terkunci pada kamera pengawas di sudut atas ruangan yang lampu indikator merahnya berkedip menyala.


"Cici?! K-kau ... apa yang kau lakukan pada anakku?! Kembalikan Ari padaku, perempuan tak tahu diri!" jeritnya ke arah kamera, mengacungkan telunjuknya yang gemetar.


"Kembali padamu? Agar kau bisa melenyapkannya demi asuransi dua puluh miliar itu?" desisku tajam, membuat bahu wanita tua itu tersentak hebat seolah baru saja disambar petir. 


"Kau sudah kehilangannya, Bu. Kau kehilangan putra pencari nafkahmu, kehilangan asuransi fantastismu, dan malam ini, kau akan kehilangan kebebasanmu."


Aku memberi isyarat kecil pada Gala yang berdiri tegak di sebelahku. Pemuda itu mengangguk paham, lalu menekan sebuah tombol di ponselnya.


Suara kunci elektronik yang berbunyi dari pintu ruang ICU membuat Ibu mertua tersadar. Ia berlari menerjang pintu, memutar gagangnya dengan brutal, namun akses ruangan itu telah terkunci rapat dari luar. Ia terjebak.


"Buka pintunya! Tolong! Buka!" teriaknya histeris sambil menggedor-gedor panel kaca tebal.


"Biarkan dia menikmati malam yang dingin di dalam sana bersama manekin itu, Gala," perintahku tanpa mengalihkan pandangan dari layar. 


"Hubungi pihak berwajib besok pagi atas tuduhan pengrusakan alat medis dan percobaan mencelakai pasien."


"Baik, Bu Cici," sahut Gala cepat. Namun, raut wajah asistenku itu mendadak berubah serius saat ia melihat notifikasi baru yang masuk ke tabletnya. 


"Bu, sepertinya ada masalah lain. Sistem pelacakan kita mendeteksi pergerakan dana besar-besaran dari rekening cadangan Viona."


Aku mengernyitkan dahi. 


"Viona?"


Gala menyerahkan tabletnya padaku. 


"Adik ipar Anda itu rupanya memantau dari jauh. Begitu menyadari ibunya terjebak di rumah sakit dan rencananya gagal, Viona langsung menguras habis sisa uang simpanan rahasia ibunya dan memesan tiket penerbangan ke luar negeri malam ini juga. Dia kabur dan meninggalkan ibunya untuk membusuk sendirian."


Senyum sinis kembali terukir di bibirku. Inilah ganjaran dari keluarga yang dibangun di atas keserakahan. 


Saat kapal mulai tenggelam, anak kandung yang selama ini paling dimanjakan justru menjadi orang yang paling pertama melompat pergi.


"Biar saja. Bekukan paspornya sebelum dia sampai di bandara. Aku ingin melihat ekspresinya saat tertahan di imigrasi dengan koper berisi uang curian," balasku tenang, menyandarkan punggung ke kursi kebesaranku.


Semua rencana berjalan sangat sempurna. Musuh-musuhku mulai hancur dari dalam. 


Namun, keheningan kemenanganku tiba-tiba dipecahkan oleh dering telepon khusus di meja kerjaku. Nomor luar negeri. 


Itu dari rumah sakit privat di Singapura, tempat Mas Ari diterbangkan secara rahasia pagi tadi.


Jantungku berdebar kencang saat mengangkat gagang telepon. 


"Halo? Dokter? Bagaimana keadaan Mas Ari?"


Terdengar suara helaan napas berat dari seberang sana, disusul oleh suara serak dan lemah yang sangat kukenal. Suara yang sudah berminggu-minggu kurindukan.


"Cici, syukurlah kau mengangkatnya. Istriku, dengarkan Mas baik-baik." Suara Mas Ari terputus-putus, membuat air mataku nyaris tumpah. 


"Hancurkan wanita tua itu sampai tak tersisa. Jangan pernah serahkan sepeser pun harta Bapak padanya, karena wanita itu, dia sama sekali bukan ibu kandungku."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar