Kamis, 23 April 2026

(8) Selingkuhan Suamiku Mempermalukanku di Arisan. Dia Tidak Tahu Saja Kartu Kredit yang Dipakai Suamiku adalah Milikku. Akan Kubuat Mereka Menyesal!

 


"Berhenti! Jangan berani-berani sentuh anakku! Kalian polisi gadungan, kan?! Jannah, perempuan iblis, kamu bayar berapa aktor-aktor ini untuk mempermalukan suamimu di depan umum?!"


Ibu mertua melangkah maju, merentangkan kedua tangannya yang penuh gelang emas untuk melindungi Hakim dari para penyidik. 


Wajah keriputnya merah padam, menatapku dengan kebencian yang menyala-nyala. 


Di matanya, aku tetaplah menantu rendahan, tak peduli meski sekarang aku berdiri dengan mahkota tak kasat mata sebagai pemilik sah gedung tempatnya berpijak.


"Ibu, hentikan." 


Hakim merintih dengan suara pecah. Lututnya akhirnya menyerah pada gravitasi. Ia merosot ke lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. 


Keangkuhannya sebagai pria paling berkuasa di rumah tangga kami telah menguap tanpa sisa.


Namun, tontonan paling menghibur malam itu justru datang dari wanita yang berdiri di sebelahnya.


Begitu salah satu penyidik berpakaian sipil mengeluarkan borgol perak dan menyebutkan pasal penggelapan dana perusahaan, Restu menjerit histeris. 


Ia langsung melempar tas kulit eksklusif yang sejak tadi ia pamerkan ke lantai marmer, seolah benda itu tiba-tiba terbakar.


"Saya tidak tahu apa-apa, Pak! Sumpah!" jerit Restu, melangkah mundur menjauhi Hakim dengan tatapan jijik. 


"Saya cuma korban rayuan gombal laki-laki ini! Dia bilang dia pengusaha kaya raya, dia bilang uangnya tidak berseri! Kalau saya tahu dia pakai uang curian untuk membelikan saya barang-barang ini, saya tidak akan sudi disentuh olehnya!"


Hakim mendongak, menatap wanita simpanannya dengan mata membelalak tak percaya. 


"Restu, apa yang kamu bicarakan? Kamu yang merengek setiap malam meminta tas dan perhiasan itu! Kamu bilang kamu malu jalan denganku kalau tidak dibelikan barang mewah!"


"Diam kamu, penipu miskin!" balas Restu melengking, menunjuk wajah Hakim tanpa ampun.


"Kamu yang menghancurkan reputasiku! Pak Polisi, tangkap saja dia! Saya bersedia jadi saksi, tapi tolong lepaskan saya!"


Aku tertawa pelan, suara tawaku yang dingin memecah ketegangan di ruangan itu. 


"Drama yang sangat menyentuh. Sayangnya, Saudari Restu, hukum tidak peduli dengan kisah asmaramu. Jejak aliran dana dari rekening perusahaan ke butik-butik langgananmu sudah cukup membuktikan bahwa kamu ikut menikmati hasil kejahatan tersebut."


Kepanikan Restu memuncak saat borgol perak di pasang di pergelangan tangannya. Ia memberontak, menangis hingga riasan tebalnya luntur dan berantakan. 


Hakim tak kalah menyedihkan, ia diseret berdiri oleh dua petugas, menunduk dalam-dalam menyembunyikan wajah dari kilatan flash kamera yang mulai mengabadikan momen kejatuhannya di atas karpet merah.


Ibu mertua yang melihat putranya diborgol, langsung histeris. Ia menjatuhkan diri di kakiku, mencoba meraih ujung gaunku, namun dua pengawal berpakaian serba hitam dengan sigap menahannya mundur.


"Jannah, Ibu mohon! Ibu berlutut, Nak! Lepaskan Hakim! Dia suamimu, Jannah! Dia tulang punggung keluarga kita!" tangis Ibu mertua meraung-raung, membuang habis semua gengsi dan kesombongannya.


Aku menunduk, menatap wanita paruh baya itu dengan ekspresi datar yang tak tergoyahkan.


"Tulang punggung keluarga yang patah karena beban keserakahannya sendiri, Ibu," desisku pelan, memastikan hanya ia yang bisa mendengar suaraku di tengah keramaian. 


"Lagi pula, rumah tanggaku dengannya sudah berakhir sejak ia menggesek kartu kreditku untuk membiayai kesombongan wanita lain."


Aku menegakkan tubuh, memberi isyarat pada Pak Dirman untuk menyelesaikan semuanya. Para petugas mulai menggiring Hakim dan Restu menuju pintu keluar hotel yang dijaga ketat.


"Jannah! Lalu Ibu harus bagaimana?! Ibu tidak mau anak Ibu dipenjara!" jerit Ibu mertua lagi, menatapku dengan penuh keputusasaan dan air mata.


Aku tersenyum tipis, merapikan letak kalung berlian di leherku sebelum memberikan pukulan terakhir yang akan menghancurkan sisa-sisa kewarasannya.


"Silakan Ibu menangis dan menemani putra kebanggaan Ibu di ruang tahanan malam ini. Oh, dan satu lagi, jangan repot-repot pulang ke rumah mewah yang Ibu tempati sekarang, karena gembok pagarnya sudah kuganti, dan surat pengusiran resminya sudah kutempel di pintu depan."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kulempari Istriku dengan Batu dan Kuteriakkan dia Gila, karena Tak Mau Membantu Acara Keluargaku. Aku Malu punya Istri Seperti Dia. Tapi saat Aku Pulang, Kemana Dia? Siapa Istriku Sebenarnya...

  "Dasar wanita gila! Istri tidak berguna, memalukan! Membantu acara keluargaku saja kau menolak, untuk apa aku memeliharamu di rumah i...