Rabu, 22 April 2026

Mertuaku Selalu Memfitnahku Mengambil Uangnya. Suamiku Tak Membelaku Sama Sekali. Hingga Akhirnya, Ibu Mertuaku Meneleponku dan Bilang kalau Ternyata Pelakunya adalah...

 


"Geledah tasnya sekarang, Yoga! Ibu yakin seratus persen, perempuan kampung ini yang sudah menguras uang pensiunan Ibu di lemari!"


Telunjuk keriput Ibu mertuaku menuding tepat di depan wajahku. Napasnya memburu, matanya menatapku dengan kilat kebencian yang tak lagi ditutup-tutupi. 


Aku mematung, merasakan jantungku seolah berhenti berdetak. Ini bukan kali pertama ia menuduhku, tapi ini yang paling fatal.


Aku menoleh, mencari perlindungan pada satu-satunya pria yang seharusnya menjadi perisaiku. 


"Mas Yoga, kamu nggak percaya sama Ibu, kan? Aku ini istrimu, Mas. Buat apa aku mencuri di rumah ini?" suaraku bergetar, menahan tangis yang mendesak di tenggorokan.


Namun, Yoga tak bergeming. 


Alih-alih melindungiku, pria yang tiga tahun lalu berjanji akan membahagiakanku itu justru menatapku dengan sorot merendahkan. Ia melangkah maju, lalu dengan kasar merebut tas tangan yang sedang kupegang.


"Makanya kalau lahir dari keluarga miskin itu bilang, Vik. Jangan diam-diam jadi parasit dan maling di rumah orang tuaku," desis Yoga dingin, lalu menumpahkan seluruh isi tasku ke lantai keramik. 


Lipstik, bedak, dan beberapa lembar uang lima puluh ribuan sisa belanja sayur berserakan di bawah kakinya.


Tidak ada tumpukan uang pensiun ibunya di sana. Nihil.


Namun, apakah mereka meminta maaf? Tidak. Ibu mertuaku malah mendecih sinis. 


"Pasti sudah dia sembunyikan di tempat lain, Ga! Dasar menantu tidak tahu diri! Sudah numpang hidup, berani-beraninya menggerogoti harta mertua!"


Air mataku akhirnya lolos. Rasa sakitnya bukan pada tuduhan tak berdasar itu, melainkan pada kebisuan suamiku. 


Yoga berdiri di sana, melipat tangan di dada, membiarkan ibunya menginjak-injak harga diriku hingga hancur tak tersisa.


"Baik," kataku pelan, namun cukup tegas untuk menghentikan makian ibu mertuaku. Aku berjongkok, memunguti barang-barangku dengan tangan gemetar. 


"Kalau Mas Yoga lebih memilih diam saat aku difitnah, untuk apa aku bertahan di neraka ini."


Tanpa membawa baju sehelai pun, tanpa menoleh lagi ke belakang, aku melangkah keluar menembus dinginnya angin malam. 


Aku pergi membawa luka dan sumpah di dalam hati: aku tidak akan pernah kembali ke rumah ini, apa pun yang terjadi.


***


Cahaya matahari pagi menyilaukan mataku. Aku terbangun di lantai kamar kos berukuran sempit milik salah seorang sahabatku. 


Semalaman aku menangis hingga mataku bengkak dan suaraku habis.


Baru saja aku bangkit untuk mengambil segelas air, ponselku yang tergeletak di atas karpet tipis berdering nyaring. Layarnya menampilkan nama yang membuat perutku mual: Ibu Mertua. 


Aku menatap layar itu lama. 


Niat hatiku ingin memblokirnya, tapi entah kenapa jariku justru menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinga. 


Aku bahkan belum sempat mengucapkan halo, saat sebuah suara tangisan yang begitu keras dan menyedihkan terdengar dari seberang sana.


"Vika, Nak. Tolong angkat, Nak. Tolong maafkan Ibu yang buta ini," isaknya dengan suara bergetar hebat. Tak ada lagi nada arogan dan makian kasar seperti semalam. 


"Ibu mohon, Nak. Tolong pulanglah sekarang juga. Kembalilah ke rumah ini. Ternyata selama ini malingnya sudah ketemu, Nak. Pelakunya ..." 


Suara Ibu mertuaku tercekat, seolah tak sanggup menyebutkan nama itu.


"Pelakunya adalah ..."


***

Bab 2

"Genggam tanganku, Bu. Berhentilah menangis, karena mulai hari ini, kita punya musuh yang sama di bawah atap ini."


Suaraku terdengar tegas saat menatap Ibu mertuaku yang berdiri mematung di ambang pintu kos. 


Wajah sepuhnya pias, matanya sembap, dan tangannya bergetar hebat saat meraih dan menggenggam erat kedua tanganku. 


Tidak ada lagi sisa-sisa amarah dari wanita yang semalam terpaksa mengusirku karena termakan hasutan.


"Maafkan Ibu, Vika. Ibu benar-benar sudah dibutakan oleh anak sendiri," isaknya pilu dengan bahu terguncang. Ia perlahan menyerahkan sebuah ponsel ke tanganku. 


"Lihat ini, Nak. Ibu diam-diam memasang kamera kecil di sudut kamar karena dulu barang-barang sering hilang, tapi malah pemandangan menjijikkan ini yang Ibu dapat."


Aku menahan napas menatap layar ponsel itu. Rekaman itu sangat jelas. 


Terlihat Mas Yoga, suami yang selama ini kucintai, mengendap-endap masuk, membuka lemari Ibu dengan kunci duplikat, dan meraup gepokan uang pensiun itu. 


Senyum licik terukir di wajahnya sebelum ia memasukkan uang itu ke dalam jaket kulitnya.


"Mas Yoga, dia benar-benar mengkhianati kita berdua," bisikku. 


Rasa sesak di dadaku seketika menguap, digantikan oleh kobaran amarah. Pria itu tidak hanya mencuri uang ibunya, tapi ia sengaja membuang istrinya ke jalanan untuk dijadikan tameng.


Ibu mertuaku menatapku dengan sorot penuh permohonan. 


"Dia darah daging Ibu, Vika, tapi dia memfitnah istrinya sendiri demi menutupi entah utang atau kebusukan apa di luar sana. Ibu mohon, pulanglah. Ibu butuh kamu untuk memberi pelajaran pada laki-laki tidak tahu diuntung itu."


Aku menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam mata wanita paruh baya di hadapanku. 


"Aku akan pulang, Bu. Tapi kalau Ibu ingin kita membalas perbuatannya, Ibu harus berjanji satu hal: Mas Yoga tidak boleh menyentuh sepeser pun harta keluarga ini lagi."


Ibu mertuaku mengangguk tanpa ragu sedikit pun. 


"Semua rumah, tanah, dan tabungan atas nama Ibu, akan Ibu alihkan atas namamu hari ini juga, Vika. Dia sama sekali tidak pantas memegang amanah."


***


Sore harinya, kami sudah menunggu di ruang tamu layaknya ratu yang menanti sang pengkhianat. 


Suara deru mobil terdengar di halaman, disusul langkah kaki Mas Yoga yang masuk dengan raut wajah yang sengaja dibuat letih.


Langkahnya terhenti mendadak. Matanya melotot menatapku yang sedang duduk santai menyesap teh di sofa, tepat di sebelah ibunya.


"Lho, Vika? Kamu ngapain di sini?!" bentak Mas Yoga dengan nada sok berkuasa, meski aku bisa melihat jakunnya naik turun menelan ludah. 


"Ibu, kenapa perempuan pencuri ini dibiarkan masuk rumah? Bukannya semalam dia sudah—"


"Mas Yoga salah besar," potongku cepat. 


Aku bangkit berdiri, melangkah dengan tenang menghampirinya, lalu menyodorkan sebuah map tebal berlogo kantor notaris yang baru saja kami urus siang tadi. Aku menampar pelan dengan map itu.


"Mulai detik ini, kamu hanyalah orang asing yang menumpang di rumah milikku. Selamat datang di neraka yang kamu ciptakan sendiri, Mas."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kulempari Istriku dengan Batu dan Kuteriakkan dia Gila, karena Tak Mau Membantu Acara Keluargaku. Aku Malu punya Istri Seperti Dia. Tapi saat Aku Pulang, Kemana Dia? Siapa Istriku Sebenarnya...

  "Dasar wanita gila! Istri tidak berguna, memalukan! Membantu acara keluargaku saja kau menolak, untuk apa aku memeliharamu di rumah i...