"Air mata kemiskinan kalian berdua itu sama sekali tidak laku untuk membayar tunggakan kontrakan ini! Ingat, besok pagi kalau uang sewa belum lunas, kalian berdua angkat kaki dan tidur saja di kolong jembatan!"
Suara melengking Bu Marni, pemilik kontrakan, menggema ke seluruh penjuru gang sempit tempat kami tinggal. Aku hanya bisa menunduk sambil meremas ujung dasterku yang sudah pudar warnanya.
Di sebelahku, Mas Arya, suamiku, berdiri dengan rahang mengeras, namun ia tetap menelan harga dirinya demi melindungiku.
"Beri kami waktu sampai besok pagi, Bu. Saya janji setelah gajian dari pabrik, akan langsung saya lunasi semuanya," ucap Mas Arya dengan nada memohon.
Bu Marni mendecih sinis, meludah tepat di dekat kaki suamiku sebelum akhirnya berbalik pergi sambil terus mengomel tentang betapa melarat dan menyusahkannya kami berdua.
Setelah siluet wanita gemuk itu menghilang, Mas Arya langsung menarikku ke dalam dekapannya. Aroma keringat bercampur debu jalanan dari tubuhnya tidak pernah membuatku risi.
Sebaliknya, pelukan inilah yang membuatku bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi yang seolah tidak ada ujungnya.
"Maafkan Mas ya, Dek. Gara-gara Mas belum bisa kasih kehidupan yang layak, kamu harus terus-terusan dihina seperti ini," bisiknya parau. Tangan kasarnya yang penuh kapalan mengusap lembut rambutku.
"Ini bukan salah Mas. Kita berjuang sama-sama, ya," balasku, berusaha tersenyum meski pelupuk mataku sudah panas.
Tiga tahun pernikahan kami memang tidak pernah mudah. Mas Arya hanya buruh pabrik biasa, dan aku menerima jahitan kecil-kecilan di rumah.
Hidup kami selalu pas-pasan, bahkan sering kali kurang.
Namun, hari ini rasanya jauh lebih berat dari biasanya. Tagihan menumpuk, beras di kaleng sudah habis, dan sekarang kami terancam diusir.
Belum sempat kesedihanku mereda, sebuah suara deru mesin yang sangat halus namun bertenaga memecah keheningan gang kumuh kami. Suara yang sangat asing di telinga warga sekitar.
Aku dan Mas Arya saling berpandangan, lalu melangkah keluar dari pintu kontrakan reyot kami. Mataku membelalak sempurna.
Bukan hanya satu, melainkan lima buah mobil mewah berwarna hitam legam, tiga di antaranya adalah Alphard keluaran terbaru dan dua lainnya mobil sedan panjang yang sering kulihat di televisi, berbaris rapi menutupi jalanan gang yang sempit.
Lampu-lampunya menyala terang, mengintimidasi deretan rumah petak yang kumuh.
Para tetangga mulai berhamburan keluar. Ibu-ibu yang sedang menyuapi anak, bapak-bapak yang sedang merokok di pos ronda, bahkan Bu Marni yang tadi baru saja mengamuk, kini berdiri mematung dengan mulut menganga di depan terasnya.
Dari dalam mobil Alphard yang berada paling depan, turunlah empat pria bertubuh tegap, mengenakan setelan jas hitam rapi dan kacamata gelap.
Mereka segera bergerak mengamankan area, sebelum akhirnya pintu kursi penumpang belakang dibuka dari luar.
Seorang pria paruh baya dengan jas abu-abu mahal dan rambut yang disisir klimis melangkah turun. Sepatu kulitnya yang mengkilap tampak kontras dengan tanah becek gang kontrakan kami.
Pandangannya yang tajam menyapu sekeliling, membuat warga yang berniat bergosip langsung kicep.
Bu Marni, dengan wajah yang tiba-tiba dimanis-maniskan, melangkah maju.
"Maaf, Bapak-bapak ini cari siapa ya? Kalau cari orang kaya, salah tempat, Pak. Di sini isinya orang melarat semua—"
Pria berjas abu-abu itu sama sekali tidak mempedulikan Bu Marni. Ia berjalan melewatinya begitu saja, seolah Bu Marni hanyalah angin lalu, dan langkahnya terus terarah kepadaku.
Mas Arya secara refleks memposisikan dirinya di depanku, melindungiku dengan tubuhnya.
Namun, pria paruh baya itu tiba-tiba berhenti, melepas kacamata gelapnya, lalu membungkuk hormat hingga sembilan puluh derajat tepat di hadapan kami.
Keempat pria berjas hitam di belakangnya pun melakukan hal yang sama.
Keadaan seketika hening. Tidak ada satupun tetangga yang berani bersuara.
Pria itu perlahan menegakkan tubuhnya kembali, menatap lurus ke mataku dengan tatapan penuh kelegaan dan rasa hormat yang luar biasa.
"Maafkan keterlambatan kami dalam menemukan Anda. Tuan Besar memerintahkan kami untuk menjemput Anda pulang detik ini juga, Nona Alya, Pewaris Tunggal Adhitama Group dan mengenai orang-orang kotor yang berani menghina Anda hari ini, apakah Anda ingin kami ratakan tempat ini sekarang juga?"
***
Bab 2
"Tidak perlu diratakan! Cukup beli seluruh area kontrakan ini secara tunai detik ini juga, dan pastikan wanita gempal itu angkat kaki malam ini juga tanpa membawa sepeser pun hartanya!"
Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Entah dari mana keberanian itu berasal, rasanya bertahun-tahun rasa sakit dan harga diri yang diinjak-injak tumpah seketika.
Pria paruh baya berjas abu-abu itu mengangguk takzim. Tanpa banyak bicara, ia menjentikkan jarinya.
Salah satu pria berbadan tegap maju, mengeluarkan sebuah buku cek dari dalam jasnya, dan berjalan menghampiri Bu Marni yang kini wajahnya sepucat mayat.
"A—apa-apaan ini? Astagfirullahaladzim, Nona Alya, Nak Alya! Ibu cuma bercanda, Nak! Sumpah demi Allah, Ibu sayang sama kalian berdua!"
Bu Marni tiba-tiba merosot, bersimpuh di atas tanah becek tepat di depan ujung sandalku yang putus.
Tangan gemuknya berusaha meraih kakiku, namun dengan cepat dihalau oleh para pengawal berjas hitam.
Tetangga yang biasanya hobi mencibir kami kini hanya bisa bungkam, menelan ludah dengan wajah ketakutan.
"Kalian pasti salah orang." Mas Arya yang sejak tadi diam akhirnya bersuara, tangannya mencengkeram bahuku dengan protektif.
"Istri saya yatim piatu sejak kecil. Dia bukan pewaris siapa-siapa. Kami tidak akan ikut kalian!"
Pria paruh baya itu tersenyum tipis, menatap Mas Arya lalu kembali menatapku.
"Tanda lahir berbentuk bulan sabit di tengkuk leher belakang Nona Alya adalah bukti mutlak. Anda adalah cucu kandung tunggal dari Tuan Besar Adhitama, yang hilang dibawa kabur oleh pengasuh Anda dua puluh tahun lalu demi melindungi Anda dari keserakahan keluarga."
Tubuhku membeku. Tanda lahir itu, tidak ada yang tahu soal tanda lahir itu selain diriku sendiri dan panti asuhan tempatku dibesarkan dulu!
"Kita harus pergi sekarang, Nona, sebelum orang-orang suruhan Ibu Tiri Anda menemukan tempat ini. Tuan Besar sudah sangat menantikan Anda," bujuk pria itu lagi.
Dengan pikiran yang masih kalut dan jantung yang berdebar gila-gilaan, aku menatap Mas Arya.
Suamiku itu mengangguk pelan, memberiku isyarat bahwa ia akan terus berada di sampingku apa pun yang terjadi.
Akhirnya, kami berdua melangkah masuk ke dalam mobil Alphard yang pintunya sudah dibukakan lebar-lebar.
Begitu pintu ditutup, suasana bising gang kumuh itu langsung teredam total. Interior mobil ini begitu mewah, wangi cendana yang menenangkan menguar di udara. Tidak ada lagi bau selokan atau pengapnya jalanan.
Mobil mulai melaju membelah malam, meninggalkan kehidupan miskinku yang kelam.
Aku bersandar di dada Mas Arya, mencari ketenangan dari detak jantungnya.
Pria paruh baya yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang. Wajahnya yang tadi penuh hormat kepadaku, kini berubah menampilkan senyum penuh arti saat menatap suamiku.
"Selamat datang kembali di dunia Anda yang sesungguhnya, Nona Alya," ucap pria itu pelan.
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar