Rabu, 22 April 2026

Kukuras Tabungan Naik Haji Istriku untuk Membelikan Rumah Mewah untuk Ibuku. Tak Kusangka, Aku Terancam Dipecat. Ternyata Istriku adalah...

 


"Koleksi emasmu itu kalau dijual cuma laku tiga ratus juta, Kirana! Lagipula, surga suami itu ada pada ibunya. Ibu jauh lebih berhak tinggal di rumah mewah daripada kamu menimbun emas itu bertahun-tahun untuk daftar Haji!"


Suaraku menggema memantul di dinding kamar kami. Aku menatap lekat wanita yang sudah menemaniku selama lima tahun terakhir ini, menanti reaksi histerisnya. 


Aku baru saja membongkar paksa laci rahasia di dasar lemarinya, mengambil seluruh simpanan emas yang ia kumpulkan gram demi gram dengan keringatnya sendiri agar bisa naik haji tanpa antre, lalu menjualnya habis untuk membelikan sebuah rumah di kawasan elit untuk Ibuku.


Biasanya, seorang perempuan akan menangis, menjerit, atau memaki sejadi-jadinya saat tahu impian terbesarnya dirampas paksa. Tapi Kirana tidak.


Dia hanya berdiri membeku menatap lacinya yang sudah kosong melompong. Matanya yang hitam pekat menatapku sesaat, tanpa kilat amarah, tanpa genangan air mata. 


Ia lalu berbalik dengan sangat tenang, menarik sebuah koper dari atas lemari, dan mulai memasukkan pakaiannya satu per satu dengan gerakan teratur.


"Kamu mau ke mana? Jangan kekanak-kanakan, Kirana!" Aku mendengus kesal, melipat tangan di dada. 


"Ini cuma benda mati. Nanti kalau jabatanku naik, aku cicil lagi emasmu. Ibu sudah tua, wajar kalau aku ingin membahagiakan beliau di sisa umurnya. Kamu harusnya ikhlas!"


Resleting koper ditarik hingga menutup rapat. Kirana membenarkan letak hijabnya, meraih tas selempangnya, lalu menatapku dengan sorot mata yang aneh, sorot mata dingin dan kosong yang belum pernah kulihat sebelumnya.


"Aku dengar semua ucapanmu, Mas," suaranya mengalun datar, terlampau tenang untuk ukuran wanita yang hartanya baru saja dirampok oleh suaminya sendiri. 


"Semoga rumah baru ibu mertua membawa berkah."


Tanpa sepatah kata lagi, Kirana melangkah melewatiku begitu saja. Tak ada bantingan pintu. Tak ada isak tangis. 


Hanya suara roda koper yang perlahan menjauh, lalu hilang ditelan deru mesin taksi di depan rumah yang membawanya pergi tanpa jejak.


Saat itu, aku hanya tersenyum sinis. Paling lambat lusa dia akan pulang sambil menangis minta maaf karena tidak punya tempat tujuan, batinku angkuh.


***


Sebulan berlalu ... 


Dugaanku meleset total. Kirana bagaikan ditelan bumi. Nomornya mati, keluarganya di kampung bungkam, dan semua temannya mengaku tidak tahu menahu. 


Sialnya, kepergiannya perlahan mulai menghancurkan hidupku. 


Rumah berantakan, jadwal makanku hancur, dan yang paling parah, Ibu terus-menerus merongrong minta uang puluhan juta untuk mengisi perabotan rumah mewahnya yang masih kosong.


Namun, semua pening di kepala itu tidak sebanding dengan kiamat kecil yang menimpaku di kantor hari ini.


Perusahaanku, tempat aku merintis karir bertahun-tahun sebagai Manajer Divisi, tiba-tiba diakuisisi oleh perusahaan investasi raksasa secara sepihak. 


Badai PHK langsung menyapu bersih manajemen lama. 


Sialnya, kinerjaku sebulan terakhir sangat hancur lebur karena masalah rumah tangga. 


Namaku berada di urutan teratas daftar karyawan yang akan dipecat dengan tidak hormat hari ini karena tuduhan penggelapan dana proyek, sesuatu yang terpaksa kulakukan sedikit demi sedikit demi menutupi gaya hidup Ibu belakangan ini.


"Mas Raka, Anda ditunggu Pemegang Saham Utama yang baru di ruang direksi. Sekarang."


Suara dingin HRD itu terasa seperti vonis mati. Kakiku gemetar hebat saat menyusuri lorong menuju lantai teratas. 


Jika aku dipecat tanpa pesangon dan dilaporkan ke polisi atas penggelapan, hidupku tamat. 


Rumah mewah Ibu akan disita, cicilan mobilku ditarik leasing, dan aku akan membusuk di penjara.


Pintu ganda ruang direksi terbuka. Ruangan itu sepi, hanya ada satu sosok yang duduk membelakangiku di kursi kebesaran direktur, menghadap ke dinding kaca yang menampilkan pemandangan kota.


Aku tidak punya pilihan lain. Harga diriku sudah menguap tak bersisa. Begitu pintu tertutup, aku langsung menjatuhkan diri ke lantai yang berlapis karpet tebal.


"Tolong ... tolong beri saya satu kesempatan lagi, Pak!" suaraku bergetar putus asa, aku berlutut memohon belas kasihan. 


"Saya mengaku salah soal dana itu, tapi saya mohon jangan pecat saya. Ibu saya sudah tua, keluarga saya bergantung sepenuhnya pada gaji saya. Tolong jangan hancurkan hidup saya!"


Hening. Sosok di kursi itu tidak segera menjawab. Perlahan, kursi kulit mewah itu berputar menghadapku.


Napas kutarik dengan paksa, tapi oksigen seolah menolak masuk ke paru-paru. Jantungku serasa berhenti berdetak detik itu juga. 


Kakiku lemas tak bertulang, dan mataku melebar maksimal melihat siapa yang duduk di depanku dengan keanggunan yang mengintimidasi.


Balutan setelan blazer desainer ternama, gaya hijab yang elegan, aura yang begitu berkuasa, dan sorot mata dingin yang persis sama seperti sebulan yang lalu.


"Bangunlah, Mas Raka. Menyedihkan sekali melihatmu berlutut untuk hal yang sia-sia, karena pemecatan ini baru permulaan dari semua yang akan aku hancurkan darimu."


***

Bab 2

"Kamu sewa baju ini dari mana, Kirana?! Jangan gila! Cepat berdiri dari kursi itu sebelum direktur yang asli memanggil satpam dan memenjarakanmu karena kelancangan ini!"


Suaraku menggema di ruang direksi yang kedap suara. Aku menunjuk wajahnya dengan jari gemetar, menolak keras kenyataan sinting yang terpampang di depan mata. 


Tidak mungkin. Wanita yang selama lima tahun ini kubiarkan memakai daster luntur dan kubentak setiap hari, kini duduk di kursi kekuasaan tertinggi dengan tatapan sedingin es.


Bukannya panik atau marah, sudut bibir Kirana malah terangkat, membentuk senyum meremehkan yang membuat darahku berdesir. 


Dengan gerakan anggun, tangannya yang dihiasi jam tangan mewah, yang kutahu harganya bisa untuk membeli tiga mobilku, mendorong sebuah map tebal ke ujung meja.


"Baca perlahan, Mas. Jangan sampai ada huruf yang terlewat," ucapnya dengan nada tenang yang mematikan.


Dengan tangan berkeringat dingin, kuraih map itu. Mataku langsung tertuju pada halaman pertama. Akta Akuisisi Perusahaan. 


Di bagian bawah, tertera tanda tangan di atas materai, dan nama yang tercetak tebal di sana membuat lututku kehilangan fungsinya. Pemegang Saham Mayoritas: Kirana Larasati.


Map itu terlepas dari genggamanku, jatuh berserakan di atas karpet.


"I-ini ... ini pasti palsu! Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini?!" suaraku serak, menahan sesak di dada yang seakan mau pecah. 


"Kamu cuma perempuan kampung yang bisanya mengurus rumah! Emasmu saja sudah habis kujual!"


Kirana bangkit berdiri. Sepatu hak tingginya berdetak pelan menyusuri lantai, menghampiriku yang masih bersimpuh tak berdaya. Ia menunduk, menatapku layaknya melihat hama yang menjijikkan.


"Kamu pikir aku benar-benar butuh tabungan emas itu untuk naik haji, Mas?" Kirana tertawa kecil, suara tawa yang tak pernah kudengar selama pernikahan kami. 


"Emas itu hanya pancingan, untuk melihat sejauh mana kamu dan ibumu serakah. Dan ternyata, kalian bahkan lebih rakus dari dugaanku."


"Kirana, sayang. Dengarkan Mas dulu," panggilku memelas, mencoba meraih tangannya, menggunakan kartu terakhirku sebagai suami. 


"Mas ini suamimu. Surgamu. Apapun yang terjadi, kita bisa selesaikan di rumah. Kamu sudah jadi direktur sekarang, tolong lupakan masalah penggelapan dana itu. Mas berjanji akan jadi suami yang lebih baik. Ya?"


Kirana menarik tangannya dengan jijik, membiarkanku menggapai udara kosong.


"Surga yang kau janjikan sudah kau jual demi rumah mewah ibumu, Mas Raka. Dan di perusahaanku, tidak ada tempat bagi seorang maling." 


Kirana membalikkan badan, menekan tombol interkom di mejanya. 


"Keamanan. Tolong seret pria ini keluar dari gedung. Jangan izinkan dia menginjakkan kaki di lobi lagi. Dan siapkan berkas audit proyeknya, kita serahkan ke kepolisian siang ini."


"Kirana! Kamu tidak bisa melakukan ini padaku! Aku suamimu, Kirana! Aku—"


Dua petugas keamanan bertubuh besar masuk dan langsung mencengkeram lenganku tanpa ampun. 


Aku meronta, berteriak memanggil namanya, tapi Kirana hanya memunggungi dan memandang tenangnya pemandangan kota dari balik kaca.


Satu jam kemudian, aku sudah terdampar di trotoar depan gedung kantor. Diusir layaknya gelandangan. 


Orang-orang berlalu-lalang menatapku iba. 


Pikiranku buntu. Karierku hancur, aku terancam dipenjara, dan Kirana, siapa sebenarnya istriku itu?


Di tengah kepanikan yang melumpuhkan otak, ponsel di saku celanaku berdering hebat. Layarnya menampilkan nama 'Ibu'. Dengan tangan masih gemetar, kuangkat panggilan itu.


"Raka! Tolong Ibu, Nak! Cepat pulang!"


Suara lengkingan Ibu terdengar histeris, disusul suara barang pecah di latar belakang. Jantungku yang sudah hancur kembali dipaksa berdetak gila.


"Ada apa, Bu?! Ibu tenang dulu, ada apa?!" teriakku panik.

"Ada banyak polisi dan pengacara di sini! Mereka mau mengusir Ibu dan menyita rumah mewah ini! Mereka bilang rumah ini dibeli dari uang hasil penggelapan dan pemilik sah rumah ini sekarang adalah istrimu yang gembel itu, Raka!!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kukuras Tabungan Naik Haji Istriku untuk Membelikan Rumah Mewah untuk Ibuku. Tak Kusangka, Aku Terancam Dipecat. Ternyata Istriku adalah...

  "Koleksi emasmu itu kalau dijual cuma laku tiga ratus juta, Kirana! Lagipula, surga suami itu ada pada ibunya. Ibu jauh lebih berhak ...