"Beli seluruh kawasan perumahan elite tempat wanita itu tinggal malam ini juga. Dan pastikan, besok pagi dia diusir hanya dengan pakaian yang menempel di badan, tepat di hadapan teman-teman arisan sosialitanya."
Suara Deon mengalun sedingin es, namun setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti hantaman godam yang mematikan.
Matanya menatap lurus ke depan, menyala oleh dendam yang selama ini ia kubur dalam-dalam demi sebuah penyamaran.
"Baik, Tuan Muda. Perintah Anda akan segera kami eksekusi. Kami sudah menunggu momen ini selama dua puluh lima tahun," suara pria di seberang telepon bergetar, terdengar sarat akan kesetiaan yang mendalam.
"Tim pengamanan sudah bersiaga di luar rolling door. Silakan melangkah keluar, Tuan."
Sambungan telepon terputus.
Deon memasukkan ponsel elegan itu ke dalam saku kemeja lusuhnya. Ia lalu menoleh padaku.
Sorot matanya yang tadinya tajam dan mendominasi, perlahan melembut saat menatapku yang masih terduduk lemas di lantai semen, dikelilingi lautan uang dan batangan emas yang menyilaukan.
"Mas," panggilku lirih, suaraku masih bergetar. "Aku ... aku pasti sedang mimpi, kan? Kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan aku dulu."
Deon tersenyum tipis. Ia berjongkok, meraih kedua tanganku yang dingin dan mengecupnya penuh kelembutan.
"Ini bukan mimpi, Vin. Ini adalah hadiah dari kesabaranmu. Terima kasih sudah mau hidup susah bersamaku, makan seadanya, dan membelaku saat Tante Hilda menghinaku habis-habisan tadi pagi. Kamu sudah lulus ujian dari Ibu, Sayang. Mulai detik ini, kamu adalah Nyonya Besar sesungguhnya."
Deon membantuku berdiri. Kakiku masih terasa seperti jeli.
Tanpa repot-repot membereskan gunungan uang dan emas batangan yang berserakan di lantai, Deon merangkul bahuku dan menuntunku berjalan menuju pintu ruko.
"Uang dan emasnya gimana, Mas? Nanti kalau ada yang curi ..." ujarku panik, menoleh ke belakang.
"Biarkan saja. Itu urusan pengawal. Sekarang, saatnya kita pulang ke tempat yang seharusnya," bisik Deon.
Dengan satu tarikan kuat, Deon membuka rolling door yang macet itu ke atas.
Begitu pintu terbuka, udara malam yang dingin langsung menerpa wajahku, bersamaan dengan pemandangan gila yang membuat napasku kembali tercekat.
Jalanan berdebu di depan ruko kumuh ini sudah disulap menjadi lautan kemewahan.
Lima mobil mewah berwarna hitam legam berjejer rapi, salah satunya adalah sebuah mobil yang pintunya sudah dibukakan oleh seorang pria paruh baya bersetelan jas rapi.
Di sekeliling mobil-mobil itu, puluhan pria bertubuh tegap menundukkan kepala mereka serempak, membentuk sudut sembilan puluh derajat.
"Selamat malam, Tuan Muda Deon! Selamat malam, Nyonya Muda Vina!" Suara lantang mereka menggema di jalanan sepi, membuat beberapa tetangga dari seberang jalan yang tadinya sering meremehkan kami, kini mengintip dari balik jendela dengan mulut menganga lebar.
Aku mematung. Tanganku mencengkeram kemeja Deon dengan kuat. Suamiku hanya mengangguk kecil, aura kepemimpinannya menguar begitu alami seolah ia sudah terbiasa diperlakukan seperti raja.
Kami melangkah masuk ke dalam jok kulit Rolls-Royce yang sangat empuk dan wangi.
Tepat saat pintu mobil ditutup, ponsel lamaku yang layarnya sudah retak tiba-tiba berdering nyaring dari dalam tas selempangku yang pudar.
Sebuah nama tertera di layar: Siska - Anak Tante Hilda.
Aku menatap Deon ragu, namun suamiku memberi isyarat dagu agar aku mengangkatnya.
Aku menggeser tombol hijau, dan belum sempat aku menyapa, suara melengking dan tawa merendahkan langsung menyambar telingaku.
"Halo, Nduk Vina? Udah kelaparan di ruko reyot nunggu rubuh itu? Aduh, kasihan banget sih hidup kalian," cibir Siska dengan nada penuh kemenangan.
"Kalau besok kalian mau makan enak, datanglah ke rumahku. Mami lagi butuh babu buat cuci piring bekas acara arisan sosialitanya. Lumayan, nanti sisa tulang ayamnya bisa kalian bawa pulang!"
Aku menggigit bibir bawahku, merasakan amarah kembali mendidih.
Namun, sebelum aku sempat membalas, Deon dengan tenang mengambil alih ponsel dari tanganku. Ia menekan tombol loudspeaker dan mendekatkan ponsel itu ke bibirnya.
"Katakan pada ibumu, Siska. Nikmati kasur empuknya sepuasnya malam ini," ucap Deon dengan nada rendah, berat, dan dipenuhi aura ancaman yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Karena besok pagi, aku akan membeli rumah mewah kebanggaan kalian itu, lalu meratakannya dengan tanah tepat di depan mata kalian sendiri."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar