"Sayang, kalung berlian asli milik istrimu ini benar-benar berkilau. Kamu yakin perempuan udik itu nggak akan sadar kalau kamu menukarnya dengan imitasi murahan yang kita beli di pasar ini?"
Aku tersenyum miring, menyesap kopi hitamku perlahan sambil menatap Yuki yang sedang mengalungkan perhiasan itu ke leher jenjangnya.
"Tenang saja, Yuki. Haura itu cuma tahu dapur, sumur, dan kasur. Kerjaannya di rumah cuma dasteran dan menunduk di atas sajadah. Dia nggak akan paham bedanya berlian asli puluhan juta dengan kaca murahan harga seratus ribu. Lagipula, kalung itu cuma peninggalan dari ibunya."
Yuki tertawa manja, memeluk lenganku erat. Hari itu, aku merasa menjadi pria paling pintar.
Uang hasil menjual kalung asli Haura kugunakan untuk memanjakan Yuki, membelikannya tas keluaran terbaru, dan mentraktirnya makan di restoran bergengsi.
Aku merasa berhasil mengelabui istri polosku demi wanita lain.
Namun, kesombonganku hanya bertahan kurang dari dua jam.
Saat kami sedang menunggu hidangan penutup, ponselku bergetar hebat di atas meja.
Bukan hanya satu atau dua pesan, melainkan ratusan notifikasi yang masuk bertubi-tubi hingga membuat ponselku panas.
Panggilan telepon dari Ibu, adikku, hingga teman-teman kantor datang silih berganti tanpa henti.
Dengan kening berkerut, aku membuka salah satu pesan dari grup keluarga. Mataku terbelalak sempurna. Jantungku serasa berhenti berdetak detik itu juga.
Sebuah tautan dikirimkan berulang kali dengan caption makian dari keluargaku sendiri. Tanganku gemetar saat mengeklik tautan tersebut.
Tampak jelas rekaman CCTV resolusi tinggi diriku dan Yuki saat berada di toko perhiasan, disusul kompilasi video kami berpelukan mesra di lobi hotel minggu lalu.
Semuanya dirangkai menjadi satu video skandal perselingkuhan yang diedit secara profesional.
Views-nya? Sudah tembus lima juta penonton! Video itu viral dan masuk FYP di semua platform media sosial!
"Mas Zaki? Kamu kenapa pucat begitu?" tanya Yuki bingung.
Aku tidak memedulikannya. Aku menyambar kunci mobil, berlari kesetanan keluar dari restoran tanpa menoleh lagi. Pikiranku kalut dan tertuju pada Haura.
Aku harus pulang dan meredam amarahnya sebelum masalah ini makin panjang!
Sepanjang jalan, aku terus menelepon nomor Haura, tetapi operator berulang kali mengatakan nomor tidak aktif.
Kakiku menginjak pedal gas dalam-dalam hingga akhirnya ban mobilku berdecit nyaring di depan rumah sederhana kami.
Pintu depan sedikit terbuka. Aku menerobos masuk.
"Haura! Haura, keluar kamu! Dengarkan penjelasan Mas dulu!" teriakku menggelegar ke penjuru rumah.
Hening. Tidak ada jawaban.
Aku berlari ke kamar utama, dan napasku seketika tercekat. Pintu lemari pakaian Haura terbuka lebar dan kosong melompong.
Tidak ada satu pun barang miliknya yang tersisa. Dia pergi dari rumah tanpa jejak, tanpa meninggalkan satu pesan pun.
Di atas kasur yang rapi, hanya tertinggal kalung imitasi yang diam-diam kutaruh di laci riasnya pagi tadi.
Tepat saat aku menyentuh kalung palsu itu, ponselku berdering keras.
Panggilan dari Direktur HRD tempatku bekerja. Dengan napas memburu dan firasat yang teramat buruk, aku mengangkatnya.
"H-halo, Pak? Maaf, soal video yang beredar itu saya bisa jelaskan—"
"Saya tidak peduli dengan penjelasan sampahmu, Zaki! Mulai detik ini juga, kamu dipecat dengan tidak hormat! Saya tidak tahu siapa yang baru saja kamu usik, tapi perintah ini datang dari lingkaran elit pemegang saham tertinggi yang meminta namamu di-blacklist dari seluruh perusahaan di negeri ini. Bersiaplah jadi gembel, karena karir dan hidupmu sudah tamat!"
***
Bab 2
"Halo, Mas Zaki? Aku sudah dengar kabar dari grup kantormu kalau kamu baru saja dipecat dengan tidak hormat. Dengar baik-baik, mulai detik ini kita putus! Jangan pernah berani menghubungiku lagi, aku nggak sudi menghabiskan masa mudaku untuk menemani laki-laki pengangguran yang sebentar lagi jadi gembel sepertimu!"
Ponsel di tanganku nyaris terjatuh. Panggilan dari Yuki itu terputus sepihak sebelum aku sempat mengeluarkan sepatah kata pun.
Napasku memburu, dadaku naik-turun menahan sesak yang tiba-tiba menghantam.
Wanita yang baru beberapa jam lalu memeluk lenganku dan kupuja setengah mati, wanita yang demi dirinya aku rela menggadaikan kehormatan pernikahanku, mencampakkanku begitu saja layaknya sampah bernoda.
"Arghhh!" Aku mengerang frustrasi, mengacak rambutku dengan kasar.
Tanganku dengan gemetar membuka aplikasi mobile banking.
Aku masih punya tabungan ratusan juta hasil memotong uang belanja Haura selama bertahun-tahun. Aku bisa pakai uang itu untuk modal usaha! Namun, saat layar ponselku memuat halaman utama, mataku kembali mendelik.
Saldo Anda: Rp. 0.
Keterangan: Rekening dibekukan secara paksa atas perintah otoritas pusat.
"Nggak mungkin. Ini nggak mungkin!" Aku berteriak panik, memukul kasur dengan beringas.
Baru saja aku hendak melempar ponsel ke dinding, benda pipih itu kembali berdering nyaring.
Nama 'Ibu' tertera di layar.
Tanpa berpikir panjang, aku langsung menggeser tombol hijau, berharap ada sedikit pelipur lara dari keluargaku.
"Zaki! Anak durhaka! Pulang kamu sekarang juga!"
Bukan sapaan lembut, melainkan jeritan histeris Ibu yang menusuk gendang telingaku.
Di latar belakang, aku bisa mendengar suara tangisan adik perempuanku yang bersahut-sahutan dengan keributan orang tak dikenal.
"Ada apa, Bu?! Zaki lagi pusing, Zaki baru saja dipecat!" balasku tak kalah keras.
"Dipecat?! Pantas saja! Kamu apakan sertifikat rumah peninggalan bapakmu, hah?! Ini kenapa tiba-tiba ada orang-orang dari bank dan preman berbadan besar mengeluarkan paksa semua barang-barang Ibu ke jalanan?! Mereka bilang kamu punya tunggakan utang miliaran rupiah pakai atas nama rumah ini! Zaki, Ibu malu dilabrak tetangga! Tolong Ibu, Nak!"
Darahku berdesir hebat hingga ke ubun-ubun. Kepalaku pening seakan dihantam godam raksasa.
Tunggakan miliaran? Seumur hidup aku tidak pernah meminjam uang sebanyak itu!
Satu-satunya utang yang kumiliki hanyalah cicilan mobil mewah untuk Yuki, dan itu pun atas namaku sendiri.
Apakah Haura?
Pikiranku berputar cepat, merangkai setiap kepingan kejadian ganjil hari ini.
Dari video yang tiba-tiba viral, pemecatan sepihak dari pemegang saham tertinggi, Yuki yang tiba-tiba tahu aku dipecat, saldo yang terkuras habis, hingga rumah Ibu yang disita.
Semua ini terlalu terstruktur untuk sekadar kebetulan. Ini adalah pembantaian massal terhadap hidupku.
Dengan sisa tenaga yang ada, aku berlari keluar dari kamar, berniat menyusul Ibu.
Namun, baru saja tanganku meraih knop pintu depan, pintu itu sudah didorong kasar dari luar.
Tiga pria berjas hitam rapi dengan postur tegap menjulang berdiri menutupi akses keluarku. Ekspresi mereka sedingin es.
Di belakang mereka, sebuah alat berat ekskavator berwarna kuning sudah terparkir beringas menghancurkan pagar depan rumahku.
"S-siapa kalian?! Berani-beraninya kalian merusak pagar rumah saya!" bentakku, meski suaraku terdengar bergetar ketakutan.
Pria yang berdiri paling depan, yang tampak seperti seorang pengacara elit, memandangku dengan tatapan merendahkan. Ia mencabut sebuah dokumen berstempel merah dari dalam jasnya dan melemparnya tepat ke wajahku.
"Waktu Anda untuk mengemasi pakaian kotor Anda sudah habis, Saudara Zaki. Silakan angkat kaki tanpa membawa apa pun selain baju yang menempel di badan Anda sekarang. Ibu Haura telah menginstruksikan kami untuk meratakan rumah yang pernah diinjak oleh pengkhianat ini dengan tanah siang ini juga, karena beliau menganggap tanah ini sudah terlalu menjijikkan untuk dipertahankan."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar