Rabu, 22 April 2026

(4) Aku pulang setelah 6 tahun merantau menjadi TKI. Betapa kagetnya aku ketika melihat istri dan anakku justru tinggal di rumah yang hampir roboh di samping rumah mewahku. Istri dan anakku justru tampak seperti gembel. Ternyata selama ini istriku diperlakukan...

 


"Hentikan mesin gila itu sekarang juga! Tolong! Di dalam kamar masih ada koleksi tas impor dan brankas emasku! Danu, kamu benar-benar tidak punya hati!"


Jeritan histeris Mbak Rini yang menembus layar ponselku terdengar bak alunan melodi terindah pagi ini. 


Aku menyesap kopi hitamku perlahan, duduk bersandar di sofa empuk kamar presidential suite, menatap layar tablet yang menampilkan siaran langsung dari depan rumah mewahnya.


Melalui panggilan video dari orang kepercayaanku di lokasi, aku bisa melihat sebuah ekskavator kuning raksasa baru saja meruntuhkan pilar marmer garasi yang kemarin siang dibanggakan kakakku. 


Debu beterbangan, diiringi tangisan melolong Ibuku yang bergulingan di atas tanah kotor, tanah yang sama tempat istriku memohon setetes air matang kemarin sore.


"Mas, apa ini tidak terlalu kejam?"


Suara lembut Sari menyapaku. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan gaun tidur sutra pemberianku yang membalut tubuh kurusnya. 


Wajahnya mulai merona dan bersih, tak lagi sekusam kemarin, meski sisa-sisa ketakutan masih membayangi matanya yang sayu.


Aku meletakkan tablet itu, menarik Sari dengan lembut ke dalam pelukanku. 


"Kejam adalah membiarkan bidadariku dan jagoanku kelaparan di gubuk reyot, Sayang. Apa yang kuberikan pada mereka sekarang hanyalah sedikit keadilan."


Sari menyandarkan kepalanya di dadaku, air matanya kembali menetes tanpa suara.


Satu hal yang tidak pernah kuceritakan pada siapa pun, bahkan pada istriku sendiri. 


Enam tahun di perantauan, aku memang berawal sebagai kuli kasar di kapal penangkap ikan. 


Namun di tahun ketiga, karena kegigihan dan kejujuranku, seorang pengusaha perikanan lokal mempercayaiku untuk memegang jalur distribusi. 


Dari sana aku belajar berbisnis, membangun relasi, dan perlahan menanamkan modal.


Kini, aku bukan lagi sekadar TKI rendahan yang mengumpulkan sisa koin. Aku adalah salah satu eksportir hasil laut terbesar di pelabuhan itu, memegang saham bernilai puluhan miliar. 


Aku sengaja tetap diam, pulang dengan dandanan lusuh, dan mengirim uang bulanan dengan nominal standar untuk menguji keluargaku dari jauh. 


Sebuah ujian yang sayangnya berakhir dengan pengkhianatan paling menjijikkan.


Ponselku yang tergeletak di meja tiba-tiba berdering hebat. Panggilan masuk dari Mbak Rini. 


Dengan senyum tipis yang tak mencapai mata, aku menggeser tombol hijau dan menyalakan mode pengeras suara.


"Danu!! Tolong Mbak, Dek! Tolong!!" Suara angkuh itu kini berubah menjadi jeritan penuh teror yang menyayat hati.


Suara deru mesin ekskavator masih terdengar di latar belakang, tapi kali ini bercampur dengan bentakan kasar dan suara keributan.


"Ada puluhan orang dari perusahaan finance mencegat Ibu dan Mbak di jalan! M-mereka menyita mobil, melucuti perhiasan Mbak, dan membuang semua barang-barang kita ke jalanan! Tolong bayarkan utang Mbak, Danu! Mbak pinjam uang sepuluh miliar untuk modal arisan sosialita dan jaminan utangnya pakai sertifikat tanah rumah itu! Tolong lunasi, Danu! Kalau tidak, Mbak dan Ibu benar-benar akan jadi gembel di jalanan!"


Sari terkesiap mendengarnya, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Ternyata di balik gaya hidup mewahnya, kakak kandungku menumpuk utang yang sangat menggunung demi gaya hidup sosialita.


Aku terkekeh pelan. Sebuah tawa yang begitu tenang, begitu dingin, hingga membuat hening merayap di ujung panggilan sana.


"Kamu minta tolong padaku, Mbak?" tanyaku dengan nada selembut sutra.


"Iya, Dek! Hanya kamu yang bisa selamatkan Mbak dan Ibu! Mereka mengancam akan mengambil semua aset kita di depan para tetangga hari ini juga!" jerit Mbak Rini, suaranya putus asa diiringi tangisan Ibu yang meraung-raung menyebut namaku.


Aku menatap lurus ke arah jendela kaca hotel yang lebar, membayangkan wajah pucat pasi kakak kandungku yang kini dihinakan di depan publik, persis seperti yang dilakukan istriku kemarin sore.


"Mintalah pertolongan pada tas impor dan gengsi sosialitamu itu, Mbak. Karena direktur utama perusahaan penagih utang yang sedang menyita rumah serta menginjak-injak harga dirimu di depan tetangga itu, kebetulan adalah salah satu rekan bisnisku sendiri."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar