"Kembalikan adikku! Apa yang sebenarnya Ibu lakukan pada Nisa, Bagas?! Jangan tersenyum gila seperti itu, katakan di mana adikku sekarang sebelum kau benar-benar membusuk di penjara!"
Jeritan histeris Yuni membelah udara sore, suaranya serak menahan luka yang teramat dalam.
Istriku nyaris menerjang maju menembus barisan polisi jika aku tak sigap merengkuh pinggangnya dan menahannya dalam pelukanku.
Namun, Bagas yang sudah terduduk di kursi belakang mobil patroli hanya tertawa sumbang.
Tawa itu teredam seiring kaca mobil yang dinaikkan perlahan, meninggalkan kami dalam kepulan debu tipis saat iring-iringan polisi itu akhirnya melaju pergi menjauh dari pekarangan rumah.
Begitu deru mesin menghilang, pertahanan Yuni runtuh sepenuhnya. Kakinya tak lagi mampu menopang tubuhnya. Ia luruh ke lantai teras, menangis sejadi-jadinya sambil meremas ujung kemejaku.
"Mas, selama ini Yuni pikir Nisa kabur karena malu punya kakak miskin. Yuni pikir dia sudah muak hidup susah bersamaku," isak Yuni, air matanya menganak sungai membasahi wajahnya yang pucat.
"Ternyata Ibu, Ibu tega memfitnah anak yatim piatu yang tidak tahu apa-apa! Nisa pergi tanpa membawa uang sepeser pun, Mas. Bagaimana dia makan di luar sana selama tiga tahun ini? Yuni gagal jadi kakak yang baik, Mas."
Mendengar ratapan istriku, hatiku rasanya seperti diiris sembilu. Kuraih tubuh mungilnya, memeluknya erat di atas lantai marmer yang dingin.
Aku mengecup puncak kepalanya berkali-kali, membiarkan dadaku basah oleh air matanya.
"Ini bukan salahmu, Sayang. Kamu tidak tahu apa-apa karena Ibu menutupinya dengan sangat rapi," bisikku parau, menahan amarah yang kembali mendidih terhadap wanita yang telah melahirkanku itu.
"Aku janji, Yuni. Aku akan menguras habis seluruh harta dan kekuasaanku untuk menemukan Nisa. Malam ini juga, aku akan membuat Ibu bicara di mana dia membuang adikmu."
Aku mengangkat wajahku, menatap Reno yang sejak tadi berdiri mematung tak jauh dari kami.
"Reno! Kerahkan seluruh tim intelijen A-Corp. Sisir seluruh panti sosial, rumah sakit, dan panti asuhan di seluruh penjuru kota. Temukan Nisa, hidup atau mati!"
"Baik, Tuan!" Reno mengangguk tegas. Jari-jarinya langsung bergerak cepat di atas layar tabletnya, menghubungi divisi pencarian khusus perusahaan kami.
Aku memapah Yuni masuk ke dalam rumah, mendudukkannya di sofa ruang tengah yang empuk.
Kuambilkan segelas air putih hangat untuk menenangkan napasnya yang masih tersengal.
***
Selama hampir satu jam penuh, suasana rumah megah ini terasa begitu lengang, hanya diisi oleh isak tangis Yuni yang perlahan mulai mereda.
Hingga tiba-tiba, langkah kaki Reno yang terburu-buru memecah keheningan.
Asisten kepercayaanku itu berjalan mendekat dengan raut wajah yang sangat ganjil. Tidak ada ketenangan profesional yang biasa ia tunjukkan.
Matanya sedikit melebar, dan ia menelan ludah dengan susah payah sebelum berhenti di hadapan kami.
"Ada apa, Reno? Kau sudah menemukan jejak adik iparku?" tanyaku tak sabar, sementara Yuni langsung duduk tegak, meremas jemariku dengan penuh harap.
"Sudah, Tuan," jawab Reno dengan nada suara yang tertahan.
"Tim kita berhasil melacak keberadaan Nona Nisa. Dan sepertinya, kita tidak perlu mencarinya jauh-jauh ke seluruh penjuru kota."
"Maksudmu? Nisa ada di mana sekarang?" desak Yuni, matanya kembali berkaca-kaca dipenuhi seberkas harapan.
Reno menatapku dan Yuni bergantian, lalu menghela napas panjang seolah beban berat baru saja menimpa pundaknya.
"Suruh dia masuk sekarang juga, Reno! Aku ingin segera memeluk adikku! Aku ingin minta maaf padanya!" seru Yuni tak sabar, bersiap bangkit dari sofa untuk berlari ke arah pintu depan.
"Tahan, Mbak Yuni," cegah Reno cepat, menghalangi langkah istriku dengan raut wajah sangat tegang.
"Nona Nisa memang sedang berdiri di depan gerbang utama kita saat ini. Tapi beliau tidak datang untuk melepas rindu. Nona Nisa datang membawa puluhan pengacara untuk menyerahkan surat eksekusi sita jaminan, karena suami Nona Nisa adalah bos mafia tanah yang bulan lalu diam-diam telah membeli sertifikat rumah ini dari tangan Ibu dan Bagas!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar