Rabu, 22 April 2026

(6) Suamiku Koma dan Aku Diusir Mertua, Aset Kami Dirampas. Mereka Mentertawakanku yang Harus Makan Nasi Garam. Tapi Mereka Tak Tahu di Dalam Mesin Usang itu Terdapat Rahasia...

 


"Seorang harimau kelaparan pun tak akan pernah memangsa anak kandungnya sendiri! Tapi wanita itu, dia memotong kabel rem mobil darah dagingnya sendiri?! Katakan padaku, Gala, terbuat dari apa hati perempuan itu?!"


Suaraku bergetar hebat menahan amarah yang meledak hingga ke ubun-ubun. Tanganku mencengkeram tepi meja kerja dengan buku-buku jari yang memutih. 


Di layar laptop di hadapanku, sebuah rekaman CCTV yang buram namun jelas memperlihatkan siluet Ibu mertuaku mengendap-endap di garasi rumah lama kami, tepat di malam sebelum kecelakaan nahas itu terjadi.


Gala berdiri dengan wajah pias, namun tatapannya tetap profesional. 


"Uang, Bu Cici. Uang bernilai fantastis. Tim kami berhasil meretas data rahasia pribadi Ibu mertua Anda yang tertinggal di rumah."


Gala meletakkan selembar salinan dokumen ke atas mejaku. Mataku menyipit membacanya. 


Itu adalah salinan polis asuransi jiwa premium atas nama Mas Ari.


"Dua puluh miliar rupiah?" bisikku tak percaya.


"Benar. Dan ahli waris tunggal yang tercantum dalam draf lama polis itu adalah Ibu mertua Anda," jelas Gala dingin. 


"Beliau terlilit hutang arisan berlian dan sosialita bodong hingga miliaran rupiah. Pak Ari sudah menolak membayarnya lagi. Karena putus asa dan serakah, beliau merencanakan kecelakaan itu. Beliau pikir, dengan kematian putranya, beliau akan mendapat guyuran dua puluh miliar murni tanpa potongan."


Aku tertawa sumbang. Air mataku menetes, bukan meratapi nasibku, melainkan meratapi nasib suamiku yang begitu mencintai dan menghormati ibunya, namun nyawanya hanya dihargai sebatas lembaran rupiah untuk menutupi gaya hidup foya-foya.


"Bodohnya wanita tua itu. Dia rela membunuh anaknya sendiri, tanpa tahu bahwa tepat sebulan sebelum kecelakaan, Mas Ari sudah memperbarui polis asuransinya dan mengganti nama ahli waris tunggalnya menjadi namaku," desisku tajam.


Aku mengusap air mata dengan kasar. Rasa kasihan dan simpatiku pada keluarga itu telah mati seutuhnya hari ini. 


Penjara saja tidak akan cukup untuk menebus dosa Ibu mertuaku. 


Aku ingin dia merasakan jatuh dari tempat tertinggi, hancur berkeping-keping hingga tak bersisa.


Tiba-tiba, tablet di tangan Gala berbunyi nyaring, sebuah alarm peringatan berwarna merah berkedip dari sistem keamanan pintar yang sengaja kami pasang di ruang ICU Mas Ari.


"Bu Cici, gawat!" Gala menyentuh layar tabletnya dan memperbesar tayangan CCTV dari ruang rawat rumah sakit. 


"Seseorang berpakaian suster menyusup masuk ke ruang VIP Pak Ari. Penjaga di depan pintu baru saja disuruh pergi mengambil resep palsu."


Dari layar beresolusi tinggi itu, terlihat jelas sosok berbalut seragam perawat kebesaran lengkap dengan masker medis. 


Namun, dari postur tubuh dan cincin giok besar yang menyembul dari balik sarung tangan lateksnya, aku tahu betul siapa dia. Itu Ibu mertuaku.


Di layar, wanita tua itu tampak gemetar mendekati ranjang pasien. Tangannya perlahan terulur, meraih selang ventilator penyambung nyawa yang menempel pada mesin. Ia berniat menyelesaikan pekerjaan kotornya yang gagal di jalan tol waktu itu!


"Kita harus menelepon polisi dan pihak keamanan rumah sakit sekarang juga, Bu! Kalau selang itu dicabut—"


Gala hendak menekan tombol panik, namun tanganku bergerak lebih cepat menahan lengannya. Aku menatap layar tablet itu dengan senyum miring yang sedingin es.


"Biarkan saja dia mencabut selang itu, Gala. Rekam setiap gerakannya dari segala sudut dengan jelas," potongku tenang, menatap lekat-lekat pada sosok pembunuh di layar itu. 


"Lagipula, pria yang terbaring di balik selimut itu bukanlah suamiku, melainkan manekin silikon yang sudah kupasangi kamera tersembunyi. Mari kita saksikan bersama, bagaimana ekspresi Ibu mertuaku saat menyadari dia baru saja mencekik guling palsu, sementara Mas Ari yang asli sudah kupindahkan ke luar negeri sejak tadi pagi."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar