"Kirim para penagih utang itu sekarang, Bara. Kenapa harus menunggu besok kalau kita bisa menghancurkan sisa kesombongan mereka sore ini juga? Pastikan pihak kreditur tahu persis bahwa penjamin utama mereka sedang berada di depan ruko Sudirman."
Aku menyeringai puas mendengar tawa menggelegar Bara dari seberang telepon.
"Sesuai perintahmu, Tuan Putri. Siapkan teh hangatmu, karena tim eksekusi lapangan baru saja bergerak."
Sambungan terputus. Aku menatap layar iPad-ku yang masih menyiarkan kekacauan dari kamera keamanan di seberang ruko.
Di sana, Rizwan, Adel, dan Ibu Lastri masih saling menyalahkan.
Adel menangis histeris meratapi tamparan mantan calon mertuanya, sementara Ibu Lastri terus memukuli dada Rizwan, merutuki nasib putranya yang ternyata berbohong soal rekam medisnya.
Mereka terlalu sibuk bertengkar hingga tidak menyadari tiga buah mobil SUV hitam pekat baru saja berhenti mendadak, mengepung area depan ruko tersebut.
Pintu mobil terbuka. Enam pria berjas hitam rapi namun berwajah sangat tegas dan mengintimidasi melangkah turun.
Mereka bukan preman jalanan, melainkan agen penagihan khusus untuk utang-utang korporat bernilai miliaran. Suasana jalanan yang tadinya ramai oleh tontonan drama keluarga, seketika senyap.
Pria paling depan, yang memegang sebuah map kulit tebal, berjalan santai menghampiri Rizwan yang mendadak membeku bak patung es.
"Bapak Rizwan Ardiansyah?" tegur pria itu dengan suara bariton yang menggema dingin.
Tanpa basa-basi, ia menyodorkan selembar surat berkop resmi.
"Kami dari firma hukum yang mewakili pihak kreditur. Ke mana uang sepuluh miliar yang Anda pinjam, Pak?! Jatuh tempo sudah lewat, dan perusahaan properti tempat Anda bekerja baru saja mengonfirmasi bahwa utang itu murni tanggung jawab pribadi Anda, bukan perusahaan!"
"A-ampun, Pak! Tolong kasih saya waktu!" Suara Rizwan terdengar melengking, tangannya gemetar hebat menerima surat tersebut.
Keringat sebesar biji jagung membasahi wajahnya yang pias.
"S-saya janji bakal bayar! Saya ini mantan Direktur! Saya punya aset! Istri saya kaya raya!"
"Istri yang mana? Mantan istri Anda sudah mencabut seluruh akses finansial Anda secara hukum." Pria berjas itu menatap Rizwan dengan tatapan meremehkan.
"Karena Anda sudah tidak memiliki aset sepeser pun, kami akan mengeksekusi penjamin utang Anda. Mana perempuan yang bernama Adelia?!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar