Selasa, 21 April 2026

(7) Selingkuhan Suamiku Mempermalukanku di Arisan. Dia Tidak Tahu Saja Kartu Kredit yang Dipakai Suamiku adalah Milikku. Akan Kubuat Mereka Menyesal!

 


"Ibu tenang saja. Perempuan kusam yang bisanya cuma menumpang hidup pada Mas Hakim itu pasti sekarang sedang menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya di rumah. Malam ini, biar semua orang tahu kalau saya, Restu Anggraini, adalah satu-satunya ratu yang pantas mendampingi kesuksesan putra kebanggaan Ibu."

Suara manja Restu mengalun penuh percaya diri di tengah riuhnya denting gelas kaca dan alunan musik orkestra di aula utama hotel. 

Ia dengan sengaja menggandeng lengan Hakim erat-erat, membusungkan dada untuk memamerkan kalung berlian, yang dibeli dari uang curian, di lehernya.

Di hadapannya, Ibu mertua tertawa puas hingga deretan gelang keroncong emas di pergelangan tangannya bergemerincing. 

Wanita paruh baya itu ternyata ikut dibawa serta untuk menyaksikan puncak kejayaan putranya.

"Tentu saja, Calon Menantuku! Hakim memang tidak salah pilih. Pakaianmu elegan, tasmu mahal, benar-benar berkelas!" puji Ibu mertua dengan suara yang sengaja dikeraskan agar beberapa tamu di meja sebelah menoleh. 

"Tidak seperti si Jannah itu. Jangankan diundang ke pesta mewah begini, melihat karpet merah saja dia pasti sudah gemetar ketakutan!"

Hakim hanya tersenyum kaku. Sesekali ia mengusap keringat dingin di tengkuknya sambil mengedarkan pandangan cemas ke sekeliling ruangan, mencari-cari keberadaanku. 

Hakim pikir, jika ia bersikap manis dan membawa Restu sesuai perintahku, aku akan memaafkannya dan skandal penggelapan dananya akan terkubur selamanya.

Betapa naifnya laki-laki itu.

Tiba-tiba, musik orkestra berhenti. Lampu utama di aula meredup, menyisakan satu sorot lampu putih yang mengarah tepat ke panggung utama. 

Suasana yang tadinya riuh mendadak hening. Pak Dirman melangkah naik ke podium dengan wibawa yang membuat seluruh dewan direksi dan tamu kehormatan terdiam hormat.

"Selamat malam, hadirin sekalian," sapa Pak Dirman dengan suara baritonnya yang menggema. 

"Malam ini bukan sekadar perayaan hari jadi Grup Wiryawan. Malam ini, adalah momen bersejarah di mana kita akan menyambut kembali sang pewaris tunggal, pemegang saham mayoritas, sekaligus Direktur Utama kita yang baru. Mari kita sambut, Ibu Jannah Putri Wiryawan!"

***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(7) Aku Baru Pulang dari Luar Negeri dan Pura-Pura jadi Pria Gila. Ibu Kandungku Mengusirku, sementara Istriku justru Menangis dan Merawatku. Akhirnya Kuberi Pelajaran untuk Keluargaku!

  "Kembalikan adikku! Apa yang sebenarnya Ibu lakukan pada Nisa, Bagas?! Jangan tersenyum gila seperti itu, katakan di mana adikku seka...