Selasa, 21 April 2026

Video Suamiku dan Selingkuhannya Viral di Sosial Media. Aku Pura-Pura Tak Tahu. Kubuat Mereka Lebih Hancur!

 


"Jangan pernah meragukan cintaku, Nad. Sampai kapan pun, cuma kamu satu-satunya ratu di hidupku."


Suara bariton Rafi terdengar begitu meyakinkan, bertepatan dengan sepasang lengannya yang melingkar hangat memeluk pinggangku dari belakang. 


Aku tersenyum tipis, membiarkan suamiku itu mengecup puncak kepalaku dengan mesra. Tanganku dengan tenang menekan tombol lock pada layar ponsel yang sejak tadi kugenggam erat.


Tepat sebelum layar itu menggelap, sebuah unggahan anonim di media sosial dan video berdurasi empat puluh lima detik dengan lebih dari empat juta tayangan masih terputar tanpa suara. 


Kolom komentarnya dipenuhi ribuan cacian dari netizen. Gambar pratinjau video itu sangat jelas: seorang pria berkemeja biru muda, kemeja yang sama persis dengan yang kupilihkan untuknya kemarin pagi, sedang memojokkan dan meraup bibir seorang perempuan bergaun ketat di lorong remang sebuah hotel mewah.


Pria itu suamiku, Rafi. Dan perempuan yang melingkarkan lengannya di leher suamiku itu adalah Alana, rekan kerjanya yang selama ini selalu ia sebut sebagai 'adik'.


Napas Rafi berhembus teratur di ceruk leherku. Betapa hebatnya pria ini bersandiwara. 


Jika aku adalah Nadhira yang lama, aku pasti sudah menjerit, menangis histeris, dan melemparkan ponsel ini tepat ke wajah tampannya. 


Aku bisa saja meminta cerai hari ini juga dan membiarkan semuanya berakhir begitu saja.

Tapi tidak. Air mataku terlalu mahal untuk menangisi pengkhianat.


Menangis dan mengamuk hanya akan membuatnya berkelit, meminta maaf, atau lebih parahnya, memposisikan dirinya sebagai korban. 


Jika dunia maya saja sudah cukup untuk mempermalukan mereka berdua, maka aku harus memberikan panggung kehancuran yang jauh lebih megah di dunia nyata. 


Sesuatu yang akan merenggut segala hal yang mereka banggakan, perlahan-lahan, tanpa mereka sadari dari mana asalnya.


Aku memutar tubuh, membalas pelukannya sambil merapikan dasinya yang sedikit miring. Kutatap sepasang mata legam yang selama tiga tahun ini membohongiku mentah-mentah.


"Kamu ini bicara apa sih, Mas? Tiba-tiba romantis begini," balasku dengan nada selembut mungkin, memainkan peran sebagai istri penurut yang buta akan segalanya.


Rafi terkekeh pelan, mengusap pipiku dengan ibu jarinya. 


"Aku cuma mau memastikan kamu tahu betapa berartinya kamu buat aku. Hari ini rapat penentuan promosi jabatanku sebagai Direktur Utama. Kalau aku berhasil, ini semua untuk kamu."


Untukku, atau untuk membelikan tas mewah keluaran terbaru untuk Alana? batinku tersenyum sinis.


"Aku berangkat ke kantor dulu ya, Sayang," pamit Rafi, meraih tas kerjanya di atas meja. 


"Doakan presentasiku di depan seluruh jajaran direksi dan investor hari ini berjalan sempurna."


Aku tersenyum sangat manis, mengantarnya hingga ke ambang pintu.


"Pasti, Mas. Berangkatlah. Aku selalu memastikan hari-harimu berakhir dengan 'kejutan' yang sangat pantas untukmu," ucapku lembut.


Rafi membalas senyumku tanpa curiga, lalu masuk ke dalam mobilnya. 


Begitu lampu belakang mobilnya menghilang di ujung jalan, senyum di bibirku lenyap seketika, berganti dengan tatapan sedingin es.


Aku menempelkan ponsel ke telinga, menekan sebuah nomor kontak yang sudah kupersiapkan sejak semalam.


"Halo, Kairo? Ya, ini aku," desisku begitu panggilan terhubung. 


"Retas proyektor utama di ruang rapat direksi perusahaan suamiku pagi ini. Putar video viral itu di layar raksasa tepat saat dia memulai presentasinya. Mari kita lihat, seberapa hebat pria itu mengemis di depan para petinggi yang akan memecatnya."


***

Bab 2

"Pastikan kamu berdandan yang pantas siang ini, Nadhira. Jangan buat anakku malu di perayaan pengangkatannya sebagai Direktur Utama nanti karena penampilan istrinya yang kucel seperti pembantu."


Suara cempreng Ibu mertuaku, Ibu Widya, mengalun tajam dari pelantang suara ponsel. Aku bisa membayangkan dagunya yang terangkat angkuh di seberang sana. 


Selama ini, wanita tua bermulut nyinyir itu selalu membanggakan Rafi seolah putranya adalah pangeran tak tertandingi, dan aku hanyalah parasit yang beruntung menumpang hidup.


"Tentu, Bu," jawabku dengan nada patuh yang sudah sangat kuhafal. "Nadhira akan pakai baju yang paling 'pantas' untuk Mas Rafi hari ini."


Aku mematikan panggilan sepihak.


Senyum sinis tercetak di wajahku saat aku melangkah menuju lemari pakaian. 


Kusingkirkan deretan gamis polos dan kemeja pudar yang selalu kukenakan selama tiga tahun ini demi menjaga ego suamiku. 


Tanganku meraba panel rahasia di bagian belakang lemari, menekannya pelan hingga sebuah ruang penyimpanan tersembunyi terbuka.


Deretan setelan desainer ternama, sepatu hak tinggi keluaran terbatas, dan perhiasan yang harganya bisa membeli harga diri Rafi dan ibunya, terpampang nyata.


Sudah cukup aku menyembunyikan identitasku dan berpura-pura menjadi wanita sederhana tanpa latar belakang demi cinta yang ternyata palsu. 


Jika Rafi mengira ia adalah raja di dunia bisnisnya, ia lupa siapa yang diam-diam menyuntikkan dana ke perusahaannya saat hampir bangkrut dua tahun lalu.

Ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Kairo masuk.


[Pertunjukan sedang berlangsung, Bos. Ruang rapat utama kacau balau. Aku mengunci sistemnya, video itu akan terus berputar sampai layar proyektornya dihancurkan.]


Aku tersenyum puas, memoles lipstik merah marun ke bibirku. 


"Waktunya datang ke pesta, Mas," gumamku pada pantulan diriku di cermin.


***


Empat puluh menit kemudian, sepatu hak tinggiku berketuk elegan menyusuri lantai marmer di lobi perusahaan Rafi. Kacamata hitam besar bertengger di wajahku. 


Beberapa karyawan yang mengenalku sebagai 'istri udik Pak Rafi' menatapku dengan rahang menganga, tak mengenali aura dingin dan mahal yang kini memancar dariku.


Namun, bukan penampilanku yang membuat suasana kantor ini tegang. 


Sepanjang lorong, kulihat karyawan bergerombol, berbisik-bisik sambil menatap ngeri ke arah ponsel mereka. Berita itu sudah meledak di grup internal.


Aku melangkah pasti menuju lift VIP, naik langsung ke lantai tempat ruang rapat direksi berada. Baru saja pintu lift terbuka, teriakan panik Rafi sudah terdengar menggema hingga ke lorong.


"Matikan layarnya! Cepat panggil IT! Siapa yang berani meretas sistem ini?!"


Aku berjalan santai mendekati pintu ruang rapat ganda yang terbuka lebar. Pemandangan di dalam sana sungguh sebuah mahakarya. 


Di layar raksasa seukuran dinding, adegan Rafi dan Alana di lorong hotel berputar tanpa henti dengan resolusi tinggi. 


Para jajaran direksi dan investor menatap dengan wajah merah padam karena jijik dan marah.


Di sudut meja, Alana menangis sesenggukan, menutupi wajahnya dengan map, sementara Rafi tampak seperti orang gila, berusaha mencabut kabel proyektor yang entah kenapa tak membuahkan hasil.


Langkahku terhenti tepat di ambang pintu. Suara ketukan sepatuku membuat seluruh mata di ruangan itu menoleh, termasuk Rafi.


Wajah suamiku pucat pasi seperti mayat melihatku berdiri di sana dengan penampilan yang jauh berbeda, menatap tepat ke arah layar yang menampilkan perselingkuhannya.


"N—Nadhira, Sayang!" Rafi setengah berlari menghampiriku. Keringat dingin membasahi kemeja mahalnya. Ia meraih kedua tanganku dengan gemetar, wajahnya memelas penuh keputusasaan.


"Nad, tolong dengarkan aku! Ini semua editan! Video itu palsu, Sayang. Ada orang dalam yang iri dan sengaja ingin menghancurkan karierku tepat di hari promosiku! Tolong percaya padaku, Nad."


Aku menatap mata paniknya, lalu beralih menatap Alana yang kini menatapku dengan wajah memelas yang dibuat-buat. 


Perlahan, aku mengelus rahang Rafi yang berkeringat, menampilkan senyum paling lembut dan penuh pengertian yang bisa kuberikan.


Aku memajukan wajahku, mendekatkan bibirku tepat ke telinganya, memastikan hanya dia yang bisa mendengar kalimatku selanjutnya.


"Tentu saja ada yang sengaja ingin menghancurkanmu, Mas," bisikku pelan, nadaku sedingin es batu. 


"Dan tebak, orang itu sedang di hadapamu sekarang."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(7) Aku Baru Pulang dari Luar Negeri dan Pura-Pura jadi Pria Gila. Ibu Kandungku Mengusirku, sementara Istriku justru Menangis dan Merawatku. Akhirnya Kuberi Pelajaran untuk Keluargaku!

  "Kembalikan adikku! Apa yang sebenarnya Ibu lakukan pada Nisa, Bagas?! Jangan tersenyum gila seperti itu, katakan di mana adikku seka...