"Pastikan Anda siap melihatnya, Nyonya Kiera. Kondisinya sangat memprihatinkan setelah benturan keras dari lantai dua puluh itu."
Tubuhku limbung seketika mendengar ucapan petugas itu. Udara dingin di ruang jenazah ini mendadak terasa menusuk hingga ke sumsum tulang.
Di atas brankar besi di hadapanku, terbaring sebuah kantong kuning yang baru saja diturunkan ritsletingnya setengah.
Aku menutup mulut rapat-rapat, menahan gejolak di dada. Bau cairan antiseptik menguar kuat.
Wajah itu tak lagi utuh dan sulit kukenali, sebuah tragedi yang membuat pandanganku berkunang-kunang. Cincin giok kebanggaan yang melingkar di jari manisnya menjadi satu-satunya petunjuk identitas wanita ini.
Itu mertuaku. Ibu dari Egi, suamiku.
Wanita paruh baya yang pagi tadi masih sempat memakiku dengan kata-kata pedas karena hal sepele, kini terbujur kaku. Polisi bilang, beliau jatuh dari rooftop sebuah gedung apartemen mangkrak di ujung kota.
Kecelakaan? Atau ada kejadian lain?
Otakku buntu. Mertuaku memang sosok yang keras dan bermulut tajam, mulutnya selalu nyenyes jika berurusan denganku, tapi dia terlalu mencintai kemewahan hidupnya untuk mau pergi dari dunia ini dengan cara setragis itu.
"Kiera."
Suara parau itu membuatku menoleh. Di ambang pintu ruang jenazah, Egi berdiri dengan tatapan kosong. Rambutnya yang biasa tersisir rapi kini acak-acakan. Kemeja putihnya kusut masai.
Namun, bukan itu yang membuat napasku tercekat.
Mataku tertuju pada ujung sepatu pantofel mahal milik Egi.
Ada noda kecokelatan yang mulai mengering di sana. Dan di kerah kemejanya, sebuah kancing terlepas, meninggalkan robekan kecil seolah ia baru saja bersitegang hebat dengan seseorang.
Polisi menemukan Egi di gedung yang sama, terduduk di area rooftop tempat mertuaku diduga terjatuh.
Suamiku beralasan dia mencoba menolong ibunya namun terlambat. Dia bilang, ibunya terpeleset saat mereka sedang berdebat sengit di atas sana.
Aku berlari memeluknya.
"Egi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Ibu bisa sampai jatuh?" tangisku pecah di dadanya.
Alih-alih membalas pelukanku, tubuh Egi kaku seperti papan. Tangannya yang dingin perlahan mengusap punggungku, tapi pandangannya lurus dan kosong menatap kantong jenazah ibunya.
Tubuhnya sama sekali tidak bergetar seperti anak yang baru saja kehilangan orang tuanya.
Sebelum Egi sempat membuka suara, seorang detektif berpakaian preman melangkah masuk dengan raut wajah keras.
Ia memegang sebuah tablet di tangannya, menatap kami berdua secara bergantian dengan tatapan menyelidik.
"Maaf mengganggu momen duka kalian," ucap detektif itu, memecah keheningan ruangan dengan nada dingin.
"Tapi kami baru saja berhasil memulihkan file dari kamera sebuah drone yang kebetulan terbang di dekat gedung itu."
Detektif itu memutar layar tabletnya ke arahku. Jantungku seolah berhenti berdetak di detik itu juga.
Di layar kecil tersebut, kulihat siluet mertuaku yang bergelantungan di bibir rooftop, meronta dan memohon. Lalu, sosok pria yang sangat kukenali, suamiku sendiri, berdiri santai menunduk ke arah ibunya.
"Suami Anda sama sekali tidak berusaha menarik ibunya naik, Nyonya Kiera," desis detektif itu, memecah kewarasanku berkeping-keping.
"Video ini menunjukkan dengan sangat jelas, suami Anda justru melepaskan paksa cengkeraman tangan ibunya, sambil tersenyum tipis, membiarkan wanita itu jatuh ke bawah sana."
***
Bab 2
"Dia sendiri yang memintanya, Kiera. Ibu memohon padaku untuk melepaskan tangannya," bisik Egi tepat di telingaku, suaranya begitu tenang dan datar, seolah ia baru saja menyingkirkan barang rongsokan alih-alih nyawa manusia.
Tubuhku mematung. Bulu kudukku meremang hebat. Aku menatap raut wajah pria yang sudah kunikahi selama tiga tahun ini.
Tidak ada air mata. Tidak ada penyesalan. Mata hitamnya menatapku dengan sorot sedingin es, sukses membuat lambungku seakan diputar balik.
"Anda bisa menjelaskan 'permohonan' itu di kantor polisi, Saudara Egi," potong detektif itu dengan suara tegas.
Dua orang petugas berseragam langsung maju, mencengkeram lengan suamiku dan membawanya keluar dari ruang jenazah.
Sebelum melewati ambang pintu, Egi menoleh ke arahku.
"Pulanglah, Kiera. Bereskan barang-barang Ibu di kamarnya. Jangan biarkan siapa pun masuk ke sana sebelum aku kembali."
Instruksi itu terdengar seperti sebuah ancaman terselubung.
***
Satu jam kemudian, entah bagaimana caranya kakiku yang gemetar ini bisa membawaku kembali ke rumah mewah kami.
Rumah megah berlapis marmer ini kini terasa seperti peti es raksasa yang hampa. Pikiranku berkecamuk. Berbagai kepingan memori berputar cepat di kepalaku.
Aku teringat pertengkaran hebat tadi pagi. Mertuaku memang terkenal dengan mulutnya yang luar biasa nyenyes dan tak pernah bisa disaring.
Namun, kalimat terakhirnya sebelum ia pergi bersama Egi pagi tadi kembali terngiang, berputar-putar bagai kaset rusak di telingaku.
"Kamu pikir Egi mencintaimu, Kiera? Bodoh! Kamu cuma alat! Kalau kamu tahu siapa Egi sebenarnya, kamu tidak akan berani tidur satu ranjang dengannya!"
Apa maksud wanita tua itu?
Didorong oleh rasa penasaran yang mengalahkan rasa takutku, aku mengabaikan larangan Egi.
Aku melangkah gontai menuju kamar mertuaku di lantai dua. Kamar itu masih berantakan. Bau parfum khas mertuaku masih tertinggal pekat di udara.
Aku mulai menggeledah. Lemari pakaian, laci nakas, hingga di bawah kasur. Nihil. Tidak ada yang aneh.
Namun, saat aku tak sengaja menyenggol sebuah pigura foto keluarga di atas meja rias hingga terjatuh, bingkai kayunya terbelah.
Dari balik celah foto tersebut, meluncur sebuah flashdisk kecil berwarna hitam dan secarik kertas usang yang dilipat rapi.
Dengan tangan gemetar, aku membuka lipatan kertas itu. Itu adalah lembar hasil tes DNA. Mataku membelalak membaca deretan nama dan angka kecocokan genetik di sana.
Nafasku memburu. Fakta di kertas ini benar-benar tidak masuk akal!
Tepat ketika aku hendak mengambil laptop untuk membuka isi flashdisk misterius itu, derit pintu kamar yang didorong perlahan membuat darahku berdesir. Seseorang melangkah masuk.
"Jangan buang waktumu menggeledah barang-barang wanita tua itu, Kiera," sebuah suara wanita yang sangat familier mengalun lembut dari ambang pintu, diiringi suara ketukan heels yang mendekat.
"Karena alasan utama mengapa suamimu rela menyingkirkan ibunya sendiri hari ini, sedang berdiri di hadapanmu sekarang."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar