"Dasar wanita gila! Istri tidak berguna, memalukan! Membantu acara keluargaku saja kau menolak, untuk apa aku memeliharamu di rumah ini?!"
Baskara berteriak murka, suaranya menggelegar membelah suasana sore yang tegang.
Tanpa sisa belas kasih, tangannya dengan tega melemparkan sebongkah batu ke arah Kinan, istrinya sendiri.
Batu berujung tajam itu mendarat telak, menggores pelipis Kinan.
Namun, alih-alih menjerit, menangis, atau memohon ampun seperti yang Baskara harapkan, wanita itu hanya terdiam.
Kinan menatap suaminya dengan sorot mata yang sangat sulit diartikan, dingin, kosong, dan menusuk tajam bak belati es. Tatapan tanpa emosi itu justru membuat harga diri Baskara semakin terinjak-injak.
"Masih berani menatapku seperti itu?! Benar-benar tidak tahu diuntung!" umpat Baskara lagi.
Dengan kasar, pria itu mencengkeram lengan Kinan, menyeret tubuh rapuh istrinya menuju halaman belakang rumah.
Tujuannya hanya satu: gudang tua yang pengap, kotor, dan tak berjendela. Baskara mendorong Kinan masuk hingga wanita itu terjerembap ke lantai berdebu, lalu menutup pintu besi itu dengan bantingan keras.
Baskara memasang gembok besar dari luar. Dia menghela napas kasar, merasa sangat puas dan lega.
Sebentar lagi keluarga besarnya akan datang untuk mengadakan acara syukuran di rumah ini, dan dia benar-benar malu jika keluarganya melihat Kinan yang akhir-akhir ini selalu bertingkah dingin dan menolak berbaur. Mengurungnya di gudang adalah pilihan paling tepat.
Sambil membersihkan tangannya yang kotor, Baskara merapikan kerah kemejanya. Dia mengeluarkan ponsel, mengetik sebuah pesan dengan senyum miring yang terukir di bibirnya.
[Halo, Sayang. Malam ini aku bebas. Istri gilaku sudah aman, aku kurung di gudang. Tunggu aku di apartemenmu.]
Pesan itu terkirim pada Viona, wanita simpanannya yang jauh lebih cantik dan penurut. Setelah memastikan acara keluarganya di ruang depan berjalan lancar dan diurus oleh ibunya, Baskara diam-diam melenggang pergi meninggalkan rumah.
Berfoya-foya dan mencari kehangatan di tempat lain, tanpa sedikit pun memedulikan istrinya yang terkurung di ruangan sempit tanpa makanan dan minuman.
***
Matahari sudah mengintip dari ufuk timur saat Baskara kembali memarkirkan mobilnya di garasi.
Rumah sudah sepi. Acara keluarga besar semalam telah usai, dan sisa-sisa kekacauan pesta telah dibersihkan oleh asisten rumah tangga.
Sambil merenggangkan otot lehernya yang pegal setelah semalaman bersenang-senang dengan Viona, Baskara tiba-tiba teringat pada Kinan. Sudut bibirnya menyeringai puas.
Wanita keras kepala itu pasti sekarang sedang meringkuk kedinginan, kelaparan, dan siap bersujud memohon ampun di bawah kakinya.
Dengan langkah santai dan angkuh, Baskara berjalan menuju halaman belakang. Gembok besar di pintu gudang masih terpasang rapi, persis seperti semalam.
Tidak ada tanda-tanda kerusakan atau congkelan sama sekali.
Dia membuka kunci gembok itu dengan kasar, menarik pintunya lebar-lebar untuk membiarkan cahaya pagi masuk menerangi kegelapan gudang.
"Heh, Wanita Gila! Sudah sadar diri kau di dala—"
Kalimat Baskara tercekat di tenggorokan. Matanya membelalak ngeri hingga rasanya mau copot.
Gudang itu kosong melompong.
Tidak ada Kinan. Tidak ada siapa pun. Gudang itu hanya berisi tumpukan barang rongsokan dan hembusan debu.
Baskara melangkah masuk dengan napas memburu, mengedarkan pandangan ke segala sudut.
Ruangan ini tidak memiliki jendela, tidak ada ventilasi yang cukup besar untuk dilewati manusia, dan pintunya terkunci rapat dari luar!
Ke mana dia? Bagaimana mungkin ada orang yang bisa menghilang dari ruangan tertutup?!
Jantung Baskara mulai berpacu liar. Pandangannya kemudian jatuh pada lantai di sudut ruangan.
Tergeletak sebuah alat perekam suara kecil yang lampu merahnya berkedip-kedip pelan.
Dengan tangan gemetar hebat, Baskara memungut benda itu dan menekan tombol play.
Terdengar suara helaan napas yang sangat ia kenal, disusul oleh sebuah tawa pelan yang dingin dan meremangkan bulu roma.
Lalu, suara Kinan menggema dari alat kecil itu, mengantarkan sebuah kalimat yang langsung membuat darah Baskara seolah berhenti mengalir.
"Kau pikir bisa mengurungku dengan gembok murahanmu, Mas? Nikmati saja napas terakhir dari kesombonganmu, karena saat kau mendengar ini, kehancuran keluargamu baru saja aku mulai."
***
Bab 2
"Gudang kotor itu terlalu sempit untuk ambisiku menghancurkanmu, Mas Baskara. Daripada kau mematung di sana, sebaiknya kau lari ke kamar ibumu sekarang, sebelum wanita tua itu jantungan melihat isi brankasnya!"
Suara dari rekaman kecil di tangan Baskara itu berlanjut, mengiris kesunyian pagi bagai sembilu.
Baskara terbelalak. Darahnya berdesir hebat hingga wajahnya sepucat kapas. Tanpa membuang waktu sedetik pun, pria itu melempar alat perekam tersebut dan berlari terbirit-birit masuk ke dalam rumah.
"Ibu! Ibu!" teriak Baskara panik, kakinya tersandung karpet ruang tengah.
Namun, sebelum dia sempat mencapai kamar sang ibu, sebuah jeritan melengking lebih dulu memecahkan seisi rumah.
"Baskara! Hartaku! Semua perhiasan dan sertifikat tanah keluarga kita hilang!"
Baskara membeku di ambang pintu. Sang ibu terduduk lemas di lantai kamarnya, menangis histeris di depan lemari yang kini pintunya terbuka lebar. Kosong melompong. Tidak ada satu pun barang berharga yang tersisa di sana.
Pikiran Baskara berputar liar.
Bagaimana mungkin? Kinan jelas-jelas dia kunci di gudang belakang sejak sore!Gemboknya utuh, tidak ada jendela!
Bagaimana wanita yang selalu ia anggap remeh itu bisa keluar, menguras brankas dengan kode rahasia yang bahkan Baskara sendiri tidak tahu, lalu menghilang tanpa jejak bak ditelan bumi?
"Mas Bas!"
Panggilan itu membuat Baskara menoleh dengan gusar. Adik bungsunya, Ziva, berlari menaiki tangga dengan wajah memucat dan napas terengah-engah. Gadis itu menyodorkan sebuah tablet miliknya dengan tangan gemetar.
"Mas, l-lihat ini! Baru saja ada yang mengunggah video ke grup keluarga besar kita, dan ... dan di seluruh akun gosip!"
Dengan kasar, Baskara merampas tablet itu. Matanya langsung disuguhi sebuah tayangan yang membuat lututnya seketika lemas.
Di layar itu, terpampang jelas rekaman CCTV rumahnya semalam.
Bukan rekaman biasa, melainkan rekaman dari sudut yang sangat jelas menampilkan adegan Baskara menyeret Kinan, melempar wanita itu dengan batu hingga berdarah, lalu menguncinya di gudang.
Namun, bukan hanya itu yang membuat napas Baskara tercekat.
Tepat setelah adegan itu, video berganti menampilkan rentetan foto-foto.
Foto dirinya sedang memeluk Viona di lobi apartemen, hingga mutasi rekening yang memperlihatkan aliran dana perusahaan keluarga yang selama ini digelapkan Baskara untuk memanjakan wanita simpanannya itu.
Kinan tahu. Wanita itu tahu segalanya!
Baskara mengusap wajahnya dengan kasar. Keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari pelipisnya.
Reputasinya, kehormatan keluarganya, semuanya hancur lebur hanya dalam satu malam.
Tiba-tiba, ponsel di saku celana Baskara bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor tidak dikenal.
Dengan tangan yang masih bergetar hebat, Baskara menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"K-Kinan? Berani sekali kau! Di mana kau sekarang?! Kembalikan semuanya atau aku akan melaporkanmu ke polisi karena pencurian!" ancam Baskara dengan napas memburu, berusaha menutupi kepanikannya.
Terdengar kekehan pelan di seberang sana. Suara yang sangat elegan, tenang, namun memancarkan aura mengintimidasi yang begitu kental.
"Laporkan saja, Mas. Tapi sebelum kau sibuk menangis di kantor polisi, sebaiknya kau buka pintu depan rumahmu sekarang. Kenalkan dirimu dengan sopan pada para tamu berjas hitam di sana, karena mulai detik ini, rumah mewah kebanggaanmu itu sudah resmi menjadi milikku."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar