"Bawa uang seratus ribu sialan ini dan angkat kaki dari rumahku sekarang juga, perempuan melarat tak tahu diuntung!"
Suara lengkingan Ibu membelah keheningan malam, disusul dengan lemparan selembar uang seratus ribu rupiah yang mendarat tepat di wajah Eli, istriku.
Lembaran merah itu lecek, bekas lipatan yang disembunyikan rapat-rapat, namun kini menjadi saksi bisu hancurnya harga diri seorang istri di rumah suaminya sendiri.
Aku berdiri mematung di ambang pintu. Napasku tertahan melihat Eli bersimpuh di lantai, memunguti pakaian-pakaian lusuhnya yang baru saja dilemparkan Ibu dari dalam lemari.
Air mata membasahi wajah ayunya yang pucat, tetapi tak ada satu pun isakan yang keluar dari bibirnya. Ia hanya menunduk, menanggung malu dan sakit yang tak terkira.
"Bu, uang itu ... itu tabungan Eli untuk—"
"Alah, diam kamu!" potong Ibu dengan mata melotot garang.
"Semenjak menikah dengan Fajar, kamu cuma bisa menumpang hidup! Makan dari keringat anakku, tidur di rumahku, dan sekarang berani-beraninya kamu menyembunyikan uang di bawah kasur? Mau mencuri kamu, hah?!"
Tubuh Eli bergetar hebat. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatapku dengan sepasang netra yang merah dan basah.
Tatapan itu seolah memohon, menantikan satu saja kata pembelaan dari bibirku. Namun, lidahku terasa kelu. Kakiku terpaku di atas ubin yang dingin.
Aku tak berani melawan Ibu. Seumur hidup, doktrin tentang anak durhaka yang akan masuk neraka jika membantah ibunya telah mengakar kuat di kepalaku.
Aku memilih menelan ludah, membuang muka, dan membiarkan istri yang telah menemaniku melewati masa-masa sulit itu mengemasi barangnya dalam kehinaan.
***
Malam itu, Eli melangkah keluar dari rumah ini. Ia pergi menembus hujan, memunggungiku tanpa menoleh lagi, sementara aku hanya mengunci pintu dan bersembunyi di balik selimut, dihantui rasa pengecut yang luar biasa.
Pagi harinya, suasana rumah terasa asing. Tidak ada aroma kopi di meja makan, tidak ada kemeja yang tersetrika rapi.
Ibu sedang duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton televisi, terlihat sangat puas seolah baru saja membuang sebuah parasit dari rumah ini.
Dengan langkah gontai, aku masuk kembali ke kamarku dan Eli.
Rencananya, aku ingin membereskan sisa-sisa barang peninggalannya agar tak lagi memancing amarah Ibu.
Aku membersihkan laci meja rias, memeriksa sela-sela lemari, hingga tanganku meraba sebuah amplop cokelat tebal yang diselipkan dengan sangat rapi di bagian belakang cermin.
Tanganku bergetar saat membuka segel amplop tersebut.
Tidak ada uang tunai. Tidak ada perhiasan, apalagi buku tabungan.
Tentu saja, Eli bukanlah wanita bodoh yang akan meninggalkan hartanya begitu saja di rumah yang telah membuangnya.
Yang tertinggal di sana hanyalah kenyataan yang selama ini tertutup rapat dari mataku.
Di dalam amplop itu, terdapat sebuah map berlogo rumah sakit swasta bertaraf internasional.
Napasku seakan berhenti ketika membaca rincian tagihan operasi jantung Ibu beberapa bulan lalu, operasi berbiaya ratusan juta yang Ibu bilang dibiayai oleh kerabat jauhnya.
Di bagian bawah kertas itu, tertera cap lunas yang dicetak tebal.
Dan di kolom penyetor, tertera jelas sebuah nama: Eli.
Tepat di balik kwitansi bernominal fantastis itu, ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan Eli yang sangat kukenal.
[Mas Fajar, uang seratus ribu di bawah kasur itu adalah sisa terakhir dari uang bulananku. Aku sengaja menyisihkannya untuk membelikan kado ulang tahunmu besok. Maaf, aku belum sempat memberikannya.]
Kakiku lemas tak bertulang. Aku ambruk ke lantai, meremas kertas itu sambil menangis sejadi-jadinya.
Seratus ribu rupiah yang membuat ibuku murka dan mengusir istriku layaknya binatang, ternyata hanyalah uang sisa setelah Eli membongkar identitasnya dan mengorbankan ratusan juta demi menyelamatkan nyawa ibuku.
Di saat dadaku sesak oleh rasa penyesalan yang rasanya bisa membunuhku, pintu kamar tiba-tiba didorong kasar dari luar.
"Ganti seprai kasur itu, Fajar! Ibu jijik membayangkan bekas keringat perempuan melarat itu menempel di sana!" teriak Ibu dari ambang pintu, membuatku perlahan mendongak.
Aku menatap nanar pada selembar bukti pembayaran di tanganku, bangkit berdiri, lalu menatap tajam ke arah ibuku sambil membalas dengan suara bergetar hebat.
"Perempuan melarat yang baru saja Ibu usir, adalah orang yang menebus nyawa Ibu di meja operasi."
***
Bab 2
"Kamu pasti sudah gila, Fajar! Kertas rongsokan dari mana yang kamu palsukan demi membela perempuan miskin itu?!"
Ibu merampas kasar selembar bukti pembayaran itu dari tanganku. Matanya yang sedari tadi menatap remeh kini terpaku pada deretan angka ratusan juta dan stempel lunas dari rumah sakit.
Wajah rentanya seketika pucat pasi, namun ego di dadanya masih menolak percaya.
"Ini pasti bohong! Operasi jantung Ibu dibayar oleh Tante Rini! Saudara jauh ayahmu yang kaya raya di Jakarta itu!" suara Ibu meninggi, meski getar panik mulai terdengar jelas di ujung kalimatnya.
Aku tertawa sumbang, tawa yang terdengar lebih mirip isakan menyedihkan.
Tanpa membuang waktu, aku merogoh ponsel di saku celanaku, mencari kontak Tante Rini, dan menyalakan pengeras suara agar Ibu bisa mendengar kebenarannya sendiri.
Panggilan tersambung pada dering ketiga.
"Halo, Fajar? Tumben menelepon pagi-pagi, ada apa?" sapa Tante Rini dari seberang sana.
"Tante," suaraku serak, menahan sesak di tenggorokan.
"Fajar cuma mau tanya satu hal. Tolong jawab jujur di depan Ibu. Apakah benar Tante yang menanggung biaya operasi jantung Ibu enam bulan lalu?"
Hening sejenak di ujung telepon. Terdengar helaan napas panjang sebelum Tante Rini menjawab dengan nada bersalah.
"Maafkan Tante, Fajar, Mbakyu. Tante sebenarnya tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun. Waktu itu, seorang asisten pribadi datang menemui Tante. Dia bilang atasannya yang membiayai semuanya, tapi Tante disuruh tutup mulut dan mengaku kalau itu uang Tante. Tante juga bingung, tapi lho, memangnya istrimu, Nak Eli, tidak cerita apa-apa ke kalian?"
Telepon terputus, entah karena Tante Rini yang mematikannya atau Ibu yang tak sengaja menyenggol ponselku hingga jatuh.
Tubuh Ibu meluruh ke lantai. Lututnya seolah kehilangan fungsi penyangga. Tangan keriputnya perlahan merambat naik, meremas dada kirinya tepat di atas bekas sayatan operasi.
Di sanalah, sebuah jantung yang sehat berdetak kencang, jantung yang nyawanya ditebus oleh keringat dan harta menantu yang semalam ia usir seperti gembel jalanan.
"Ya Allah, apa yang sudah Ibu lakukan, Fajar?" Ibu meratap, air mata penyesalan mulai membanjiri wajahnya. Ia memukul-mukul lantai ubin yang dingin.
"Menantu yang menyelamatkan nyawa Ibu, malah Ibu lempar dengan uang seratus ribu? Ibu usir dia malam-malam. Ya Tuhan, cari istrimu, Fajar! Bawa Eli pulang sekarang juga!"
"Ke mana Fajar harus mencari, Bu?!" balasku frustrasi, mengusap wajah dengan kasar.
"Selama ini kita tidak pernah peduli dari mana dia berasal! Kita tidak tahu siapa temannya, di mana keluarganya, kita hanya tahu menghinanya!"
Penyesalan mengurungku dalam ruang hampa.
Aku menyusuri setiap sudut kamar, membongkar lemari yang kini melompong, berharap menemukan satu saja petunjuk tentang keberadaan Eli. Nihil.
Eli benar-benar pergi tanpa jejak. Bahkan pakaian ganti dan dompet usangnya pun tak bersisa.
Namun, saat aku menggeser ranjang dengan kalut, mataku menangkap sebuah benda pipih di sudut lantai bawah ranjang.
Ponsel lama Eli yang layarnya sudah retak di ujungnya. Ponsel yang sering dihina Ibu karena saking jadulnya.
Jantungku berdegup kencang. Aku meraih ponsel itu. Masih menyala.
Tepat saat aku menyentuh layarnya untuk mencari kontak, sebuah panggilan masuk. Nomor tanpa nama, hanya deretan angka yang tak kukenali.
Dengan tangan bergetar, aku menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinga.
Aku menahan napas, berharap mendengar suara lembut Eli di seberang sana.
Namun, yang kudengar bukanlah suara istriku. Melainkan suara bariton seorang pria yang sangat formal, dingin, dan menusuk.
"Selamat pagi, Nona Muda. Instruksi Anda sudah kami jalankan. Seluruh fasilitas medis VVIP untuk mantan ibu mertua Anda di rumah sakit telah kami cabut secara permanen pagi ini. Selanjutnya, apakah kami perlu mengirim tim ke sana untuk menyita rumah mereka sekarang juga?"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar