Kamis, 16 April 2026

(2) Kuwariskan Tanah Terbengkalai untuk Istriku karena Aku Sakit Parah. Kukira Istriku Akan Menyera, tapi Dia Justru Mengubah Hidup dan Nasib Kami!

 Bab 3


"Ambil kalung berlian ini, ambil semua perhiasanku, Resti! Tapi tolong, cabut laporan itu dan suruh polisi-polisi itu pergi! Jangan bawa anak kebanggaanku!"


Jeritan melengking itu memecah keheningan pelataran rumah. Ibu yang beberapa menit lalu berdiri angkuh bagai penguasa dunia, kini merosot jatuh ke lantai marmer teras. 


Tangannya yang dipenuhi cincin emas bergetar hebat saat menyodorkan perhiasannya ke arah lutut Resti. Riasan wajahnya luntur oleh air mata kepanikan dan rasa malu yang tak tertahankan.


Di belakangnya, dua orang petugas kepolisian berseragam rapi melangkah maju dengan tenang. 


Tidak ada kekerasan, namun ketegasan aparat penegak hukum itu cukup membuat nyali Mas Bagas menciut hingga wajahnya sepucat kertas.


"Maaf, Bu, kami tetap harus membawa Saudara Bagas Sanjaya ke kantor polisi. Bukti penggelapan dana dan penipuan investasi ini sudah lengkap. Silakan hubungi pengacara Anda," ucap salah satu petugas dengan nada datar namun mengikat.


"Tirta! Kau gila?!" 


Mas Bagas meronta panik saat borgol dingin mengunci kedua pergelangan tangannya. Matanya melotot menatapku, memancarkan ketakutan yang berusaha ia tutupi dengan sisa-sisa kesombongan. 


"Aku ini kakak kandungmu! Darah dagingmu! Berani-beraninya kau biarkan istrimu melakukan ini padaku?! Lepaskan aku sekarang juga!"


Aku menatap Mas Bagas tanpa ekspresi. Telingaku seolah tuli. 


Ingatanku justru melayang pada malam badai tujuh bulan lalu, saat tangan yang kini diborgol itu menendang koperku ke jalanan dengan tawa mengejek.


"Darah daging?" balasku dengan suara pelan namun terdengar jelas dan tajam di telinga semua orang. 


Aku menarik napas, merasakan kelegaan luar biasa di dadaku.


"Saat kau membiarkanku yang sedang sekarat kehujanan di jalanan, apakah kau ingat kita sedarah, Mas? Hukum yang akan mengurusmu sekarang. Nikmatilah sel tahananmu."


Ibu meraung histeris. Ia merangkak mendekatiku, mencengkeram ujung celana jasku. 


"Tirta, Ibu mohon! Bagas adalah penerus keluarga! Kalau dia dipenjara, hancur sudah nama baik keluarga kita! Kau anak yang baik, kan? Maafkan Ibu, Tirta. Maafkan kami."


Aku memejamkan mata sesaat. Tidak ada lagi rasa iba, hanya ada kepuasan melihat keadilan akhirnya ditegakkan.


Sebuah tangan lembut nan hangat menggenggam jemariku. Resti berdiri di sisiku, menjadi pilar kekuatanku yang tak tergoyahkan. 


Istriku menunduk, menatap Ibu dengan pandangan dingin.


"Simpan perhiasan Ibu mertua. Uang hasil menipu orang lain tidak bisa menyuap hukum," ucap Resti tenang. Ia memberi isyarat kepada Pak Yanto. "Bantu Ibu mertua mengemasi pakaiannya. Lima belas menitnya sudah habis."


Proses itu berlangsung cepat. Mobil polisi melaju meninggalkan pekarangan, membawa Mas Bagas yang masih berteriak memanggil ibu. 


Sementara itu, Ibu diseret keluar oleh kenyataan pahit. Ia dibiarkan berdiri di luar pagar besi yang menjulang tinggi, memegang sebuah koper kecil berisi pakaian seadanya.


Harta benda lainnya disita sebagai jaminan pelunasan utang perusahaan yang kini resmi dikuasai oleh Resti.


Langit sore mulai menguning. Angin berembus sejuk membawa aroma kemenangan yang begitu manis dan tuntas.


Kami benar-benar menang. Keluarga yang dulu menginjak-injak kami kini telah hancur oleh keserakahan mereka sendiri.


Namun, Ibu yang tak terima harga dirinya hancur lebur, mencengkeram jeruji gerbang dari luar. Matanya melotot penuh kebencian, menolak untuk mengakui kekalahannya


"Kalian pikir kalian menang?!" teriak Ibu dengan suara serak, wajahnya merah padam. 


"Kalian cuma pemulung yang sedang beruntung! Uang kalian tidak akan bertahan lama! Tanah rongsokan itu tidak akan membuat kalian kaya selamanya, Tirta!"


Mendengar itu, Resti tertawa pelan. Tawa elegan yang justru terdengar sangat mengintimidasi. 


Istriku merangkul lenganku dengan bangga, lalu menatap tajam mata wanita paruh baya di balik jeruji besi itu.


"Keberuntungan? Anda salah besar, Ibu mertua," ucap Resti dengan senyum kemenangan yang mematikan, suaranya menggema tegas membelah udara sore. 


"Tanah rongsokan yang Anda buang itu baru saja resmi menjadi pusat agrowisata. Dan tahukah Anda? Besok pagi, berita utama di seluruh stasiun TV bukan lagi tentang kehancuran keluarga Sanjaya, melainkan pengumuman resmi bahwa Tirta, anak yang Anda buang untuk mati di jalanan, kini resmi menjadi salah satu orang kaya di kota ini. Selamat menikmati hidup di pinggir jalan."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(3) "Mobilmu sudah kujual untuk modal usaha adikku. Lagian kamu kan cuma ibu rumah tangga, kemana-mana naik ojek saja!" Kuceraikan suamiku karena seenaknya sendiri, dan kupermalukan dia di acara perusahaannya, karena aku adalah...

  "Batalkan pengumuman identitas asliku malam ini, Bram. Perkenalkan aku hanya sebagai Nyonya Gita, perwakilan tunggal dari pemegang sa...