"Tanda tangani surat cerai ini sekarang, Vito! Citra sedang dalam perjalanan kemari, dan Ibu tidak mau calon menantu kesayangan Ibu melihat perempuan udik ini masih menginjakkan kaki di rumah mewah kita!"
Suara lantang Ibu membelah keheningan pagi, diiringi selembar map biru yang dilemparkan dengan kasar ke atas meja makan. Kopi hitam yang baru saja kusesap nyaris tumpah.
Di sampingku, Firda duduk menunduk dalam diam. Namun kali ini tubuhnya tidak lagi bergetar ketakutan, karena di bawah taplak meja, tanganku menggenggam erat jemarinya, menyalurkan kekuatan yang selama ini ia butuhkan.
Aku menatap map berisi draf surat perceraian itu dengan senyum tipis yang dingin.
Pagi ini, Ibu dan Nisa sudah berdandan sangat menor. Nisa bahkan dengan bangganya memamerkan kalung milik istriku di lehernya.
"Betul, Mas," timpal Nisa sambil mengoleskan selai ke atas rotinya dengan gaya angkuh.
"Buat apa sih mempertahankan istri beban yang mentalnya sudah rusak? Mbak Citra itu cantik, pengusaha sukses, dan punya butik besar. Beda jauh sama Firda yang kerjanya cuma bisa meracau dan bikin malu keluarga!"
"Rumah mewah kita?" tanyaku pelan, sengaja mengulang kalimat Ibu dengan nada menguji.
"Tentu saja!" Ibu berkacak pinggang dengan dagu terangkat.
"Selama kamu jadi kuli di luar negeri, Ibu yang merenovasi rumah ini jadi megah! Makanya, kamu harus turuti kata Ibu. Ceraikan Firda, atau kamu yang angkat kaki dari rumah ini dan jangan pernah panggil aku Ibu mertua untuk istri barumu nanti!"
Belum sempat aku menjawab, suara deru mesin mobil yang halus terdengar memasuki pekarangan. Mata Nisa langsung berbinar kegirangan. Ia berlari ke arah jendela ruang tamu.
"Ibu! Mbak Citra datang, Bu! Wah, dia bawa mobil keluaran terbaru!" seru Nisa antusias, seolah sedang menyambut seorang dewi penyelamat.
Pintu utama terbuka. Sosok Citra melangkah masuk dengan balutan gaun sutra mahal dan tas bermerek yang bergelayut manja di lengannya.
Wangi parfum menyengat langsung memenuhi ruangan. Ia tersenyum semringah, mencium tangan Ibu dengan takzim, lalu cipika-cipiki dengan Nisa bak saudara kandung yang sudah lama tak bersua.
Saat pandangannya beralih padaku, Citra memasang wajah prihatin yang dibuat-buat. Ia melirik remeh ke arah Firda yang memakai daster lusuhnya, lalu menatapku dengan raut iba yang sangat menjijikkan di mataku.
"Pagi, Mas Vito. Maaf aku datang tiba-tiba. Aku dengar dari Nisa kondisi Mbak Firda makin parah, ya?" ucap Citra dengan suara selembut sutra.
Ia merogoh tas mahalnya, lalu mengeluarkan segepok uang tunai dan meletakkannya di dekat map biru itu.
"Mas Vito yang sabar ya. Merawat orang depresi memang berat. Kalau Mas butuh tambahan biaya untuk membuang—maksudku, memasukkan Mbak Firda ke panti rehabilitasi, pakai saja uangku. Anggap saja ini tanda simpatiku."
Ibu dan Nisa tersenyum lebar, menatap tumpukan uang itu dengan mata berbinar serakah.
Aku terdiam sejenak.
Perlahan, aku melepaskan genggaman tanganku pada Firda, lalu berdiri.
Aku mengambil tumpukan uang tunai yang disodorkan Citra, menimbang-nimbangnya dengan raut wajah meremehkan, lalu membuangnya begitu saja ke lantai hingga lembaran merah itu berserakan di bawah kaki mereka.
Ruang makan mendadak hening. Senyum di wajah Citra, Ibu, dan Nisa luntur seketika.
Dengan gerakan santai, aku merogoh saku jasku. Mengeluarkan buku tabungan atas nama Firda yang saldonya sudah terkuras habis, beserta sebuah alat perekam suara mini.
Tanpa keraguan sedikit pun, aku melempar kedua benda itu tepat ke atas map surat cerai.
"Simpati yang luar biasa, Citra. Tapi sebelum kamu berlagak menjadi wanita kaya yang berbaik hati meminjamkan uang padaku,"
Aku menatap tajam tepat di manik matanya, membiarkan auraku sebagai penguasa yang sesungguhnya menguar
"Bukankah lebih etis jika kamu mengembalikan dulu ratusan juta uang istriku yang kalian curi untuk membangun butik palsumu itu?"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar