"Halo, Adel? Suaramu berisik sekali. Jangan teriak-teriak, kasihan pita suaramu. Lagipula, penyewa yang gagal melunasi sisa tagihan sewa tidak pantas membentak pemilik gedungnya."
Aku merebut ponsel itu dengan gerakan tenang dari tangan Rizwan yang masih membeku di udara.
Ujung bibirku melengkung membentuk senyuman paling mematikan saat mendengar suara napas yang tiba-tiba tertahan dari seberang telepon.
"M-Mbak ... Mbak Bela?" Suara Adel yang tadinya melengking arogan, kini mencicit seperti tikus terjepit.
"Iya, ini aku. Istri dari laki-laki yang semalam berjanji akan membayarkan sisa sewa rukomu," ujarku santai, seraya menatap mata Rizwan yang kini melebar dipenuhi kepanikan.
"Sayang sekali, sepertinya Papi Rizwan tidak punya uang sepeser pun pagi ini. Jadi, aku beri kamu waktu sampai jam dua belas siang. Lunasi sewanya, atau aku sendiri yang akan mengunci pintu butik itu dari luar dan membuang semua gaun jelekmu ke jalanan."
Aku memutus sambungan telepon secara sepihak dan melempar ponsel mahal itu kembali ke atas meja makan.
Bunyi benturannya membuat Rizwan berjengit kaget, seolah baru tersadar dari hipnotis.
"Bela! Apa-apaan kamu?!" bentak Rizwan. Wajah pucatnya kini berubah merah padam.
Dia menggebrak meja, mencoba memunculkan kembali wibawanya yang sudah hancur lebur.
"Berani kamu menyadap dan menjebak suamimu sendiri?! Kamu pikir kamu siapa, hah?! Jangan sok pintar! Kamu cuma—"
Aku membanting sebuah map tebal berwarna hitam tepat di depan hidungnya, memotong kalimat hinaannya. Rizwan terlonjak mundur.
"Cuma ibu rumah tangga bodoh? Begitu maksudmu?" tanyaku dengan suara rendah, tajam, dan dingin. "Buka map itu, Mas."
Tangan Rizwan gemetar saat ia membuka sampul map tersebut. Matanya bergerak liar membaca lembar demi lembar yang kusodorkan.
Mutasi rekening yang dicetak tebal pada setiap transaksi ke rekening Adel, bukti pemesanan hotel bintang lima setiap kali dia beralasan 'dinas luar kota', hingga foto-foto mesranya dengan Adel di berbagai pusat perbelanjaan.
Semua rahasia menjijikkannya terpampang nyata di atas meja makan kami.
"K-kamu ... sejak kapan?" Lidah Rizwan kelu.
Kemarahan sok jagonya tadi menguap tanpa sisa, berganti dengan ketakutan yang membuat lututnya lemas. Dia merosot ke kursi, menatapku seolah aku adalah hantu.
"Sejak bulan pertama kamu mengeluh perusahaan sedang sulit tapi parfummu berubah aroma," desisku, berjalan memutar meja dan berdiri tepat di belakang kursinya.
"Kamu memalsukan tanda tanganku untuk menarik tabungan bersama. Kamu pikir aku akan diam saja sambil menyetrika kemeja yang kamu pakai untuk memeluk perempuan lain?"
"B—Bela, Sayang, dengarkan Mas dulu. Ini ... ini khilaf, Bel. Mas bisa jelaskan. Perempuan itu yang terus merayu Mas!"
Rizwan tiba-tiba berbalik, mencoba meraih tanganku dengan wajah memelas yang membuatku mual.
Aku menepis tangannya dengan kasar.
"Simpan air matamu. Koper berisi bajumu sudah kusiapkan di garasi. Pergi dari rumah ini sekarang juga," usirku tanpa nada keraguan sedikit pun.
"Silakan urus selingkuhanmu yang sedang menangis di depan ruko itu."
Rizwan berdiri perlahan. Kepanikannya tiba-tiba berganti dengan tawa sumbang. Dia merapikan kerah kemejanya, mencoba memasang wajah congkak andalannya meski keringat dingin masih membasahi pelipisnya.
"Kamu mengusirku? Silakan! Toh rumah ini sudah tua!" Rizwan tersenyum meremehkan, meraih kunci mobil SUV di atas meja.
"Kamu pikir aku akan miskin hanya karena kehilangan sertifikat rumah ini? Ingat, Bel! Aku ini Direktur Utama di perusahaan properti mendiang ayahmu! Aku yang memegang kendali penuh! Tanpaku, perusahaan itu hancur dan kamu nggak akan punya uang sepeser pun!"
Mendengar ancamannya, tawaku meledak. Tawa yang benar-benar lepas dan renyah, membuat langkah Rizwan terhenti di ambang pintu ruang makan.
"Oh, soal itu." Aku menyilangkan tangan di dada, memberikan senyum paling manis yang pernah kuberikan padanya.
"Coba cek email kerjamu sekarang, Mas. Rapat Pemegang Saham Luar Biasa baru saja ditutup sepuluh menit yang lalu."
Rizwan mengerutkan kening, buru-buru merogoh ponselnya kembali.
"Jabatan Direktur Utamamu resmi dicabut dengan tidak hormat karena bukti penggelapan dana perusahaan yang kugunakan untuk mendanai tas selingkuhanmu sudah kuserahkan ke dewan direksi," ucapku telak, menikmati setiap detik perubahan warna di wajahnya.
"Selamat menikmati hari pertamamu sebagai pengangguran, Mas."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar