"Bawa mesin jahit rongsokan ini dan angkat kaki dari rumahku! Mulai detik ini, kau bukan siapa-siapa lagi. Makanlah nasi dengan garam, itu level yang pantas untuk wanita pembawa sial sepertimu!"
Kalimat menyakitkan itu masih terngiang di telingaku, bersamaan dengan suara bantingan pintu utama yang ditutup rapat-rapat oleh Ibu mertuaku.
Di bawah rintik hujan, aku berdiri gemetar menahan dingin. Tanganku memeluk erat sebuah mesin jahit kayu tua, milik Bapak mertuaku yang sudah meninggal.
Hanya ini yang dilemparkan Ibu mertuaku ke halaman, sementara seluruh hartaku dan Mas Ari. Rumah, mobil, hingga perhiasan, dirampas paksa olehnya sesaat setelah Mas Ari divonis koma akibat kecelakaan minggu lalu.
"Mbak Cici pergi saja, jangan buat Ibu marah lagi! Lagipula Mas Ari sudah koma, buat apa Mbak bertahan di sini? Semua aset sudah dikuasai Ibu!" cibir adik iparku dari balik jendela, menatapku dengan senyum mengejek sebelum menutup gorden.
Aku menggigit bibir hingga terasa amis darah. Air mataku luruh.
Mas Ari sedang berjuang antara hidup dan mati di ruang ICU, tapi keluarganya justru sibuk merampok habis-habisan dan menendangku ke jalanan.
Dengan sisa tenaga, aku menyeret langkah sambil memanggul mesin jahit tua yang terasa sangat berat ini.
Entah kenapa, saat mengusirku tadi, Ibu mertua bersikeras menyuruhku membawa benda usang ini.
“Bapak mertuamu yang miskin itu meninggalkannya untukmu. Bawa rongsokan ini, sekalian buat menjahit mulutmu yang bisanya cuma menangis itu!” makinya tadi siang.
***
Malam harinya, di sebuah kamar kos petakan yang sempit dan pengap, aku duduk bersimpuh di lantai. Perutku melilit perih.
Sisa uang di sakuku hanya cukup untuk membayar uang muka sewa kamar ini.
Dengan tangan bergetar, aku menyuapkan kepalan nasi putih berhias taburan garam ke dalam mulutku.
Nasi yang keras itu terasa seret melewati tenggorokan, membuatku tersedak dan menangis sejadi-jadinya.
Mereka pasti sedang tertawa puas di rumah mewahku sekarang, menikmati tidur di kasur empuk sementara aku harus menelan nasi garam.
Setelah tangisku reda, pandanganku jatuh pada mesin jahit tua berdebu di sudut ruangan. Benda itu terbuat dari besi hitam pekat dengan meja kayu jati yang sudah keropos di beberapa bagian.
Bapak mertua adalah satu-satunya orang di keluarga itu yang menyayangiku.
Sebelum meninggal dua tahun lalu, ia memang sering mengusap mesin jahit ini sambil tersenyum penuh arti padaku.
Aku berjalan mendekat, berniat membersihkan debu tebal yang menempel di badan mesin.
Namun, saat kain lapku tak sengaja menekan ukiran bunga mawar di bagian bawah meja kayu tersebut, terdengar bunyi yang aneh.
Sebuah bilah kayu di bagian bawah meja itu tiba-tiba terlepas, menampilkan sebuah rongga rahasia yang memanjang.
Jantungku berdegup kencang. Dengan tangan gemetar, aku meraih ke dalam rongga sempit itu.
Jari-jariku menyentuh sebuah kotak kayu berukir dan sebuah map plastik tebal yang dilakban rapat.
Aku membuka kotak kayu itu lebih dulu, dan napasku langsung tercekat.
Isinya adalah tumpukan perhiasan emas antik bertahtakan berlian dan zamrud, harta karun turun-temurun peninggalan leluhur Bapak mertua yang selama ini dikira hilang oleh Ibu mertuaku.
Namun, yang membuat tubuhku benar-benar kaku adalah isi dari map plastik tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah buku harian kusam milik Bapak mertua dan setumpuk Sertifikat Hak Milik (SHM) tanah asli.
Saat aku membaca lembar demi lembar buku harian itu, mataku terbelalak lebar.
Ternyata, selama ini Ibu mertuaku diam-diam telah menggadaikan semua aset awal keluarga demi gaya hidup mewahnya.
Untuk menyelamatkan perusahaan, Bapak mertua perlahan-lahan membeli kembali aset-aset itu dengan uang pribadinya, tapi ia tidak menggunakan namanya atau nama istrinya.
Bapak mertua membeli tanah tempat pabrik utama keluarga berdiri, sekaligus tanah tempat rumah mewah Ibu mertuaku berada sekarang, murni menggunakan namaku, menantu yang paling dipercayainya!
“Cici, anakku. Jika suatu saat Bapak pergi dan istri Bapak mengusirmu, buka map ini. Biarkan mereka merasa menang telah mengambil cangkangnya, karena inti dari kekayaan keluarga ini, tanah tempat mereka berpijak, adalah milikmu sepenuhnya.”
Tawaku tiba-tiba pecah. Bukan tawa bahagia, melainkan tawa kepahitan yang perlahan berubah menjadi seringai dingin.
Aku menatap tajam ke arah luar jendela kamar kos yang gelap, menggenggam sertifikat tanah atas namaku itu erat-erat.
"Tertawalah sepuasnya di atas penderitaanku malam ini, Bu. Kalian pikir kalian sudah merampas segalanya, tapi kalian lupa, istana megah yang kalian tempati sekarang berdiri di atas tanahku. Kita lihat, siapa yang akan menangis darah memohon ampun saat buldoserku meratakan rumah itu esok pagi."
***
Bab 2
"Tiga miliar rupiah bersih, sudah kami transfer ke rekening prioritas baru Anda, Mbak Cici. Harga kalung berlian dan zamrud antik ini sungguh luar biasa di pasaran kolektor. Apakah masih ada barang peninggalan lain yang ingin Anda lelang hari ini?"
Suara ramah dari manajer toko perhiasan elit itu menyapukan kehangatan di telingaku. Aku tersenyum tipis, menggeleng pelan sambil menatap pantulan diriku di cermin besar toko tersebut.
Hanya bermodal satu kalung tua dari dalam kotak kayu peninggalan Bapak mertua, hidupku berbalik 180 derajat dalam hitungan jam.
Semalam aku masih menangis tersedak menelan nasi bergaram di kosan sempit, tapi siang ini, aku berdiri mengenakan blazer elegan berwarna nude dan sepatu hak tinggi keluaran desainer ternama.
"Cukup untuk hari ini. Terima kasih," ucapku seraya melangkah keluar dari butik perhiasan itu.
Dadaku terasa lapang. Harta karun ini baru sebagian kecil.
Senjata utamaku yang sebenarnya adalah setumpuk Sertifikat Hak Milik atas tanah pabrik dan rumah mewah yang selama ini diklaim sebagai milik Ibu mertuaku.
Tujuan pertamaku sekarang hanya satu: Rumah Sakit.
Aku harus memastikan Mas Ari mendapatkan perawatan terbaik, bukan dari belas kasihan keluarganya yang serakah, tapi dari uangku sendiri.
Sesampainya di lorong ruang VIP rumah sakit, langkahku terhenti.
Dari kejauhan, terdengar suara melengking yang sangat kukenal sedang berdebat dengan suster jaga.
"Pindahkan saja Ari ke bangsal kelas tiga yang paling murah! Atau kalau perlu, bawa pulang saja paksa! Buat apa pakai ruang VIP begini? Dia itu cuma koma, cuma tiduran tidak jelas, buang-buang uang saja!" teriak Viona, adik iparku, tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Ibu mertua yang berdiri di sebelahnya ikut menimpali sambil melipat tangan di dada.
"Benar kata anak saya, Sus! Uang kami lebih baik dipakai untuk modal arisan dan arisan berlian daripada mengurus orang yang belum tentu bangun! Cabut saja fasilitas VIP-nya hari ini juga!"
Darahku mendidih. Mas Ari adalah tulang punggung yang selama ini membiayai gaya hidup mewah mereka hingga ia kelelahan dan kecelakaan.
Namun saat suaminya terbaring tak berdaya, darah dagingnya sendiri membuangnya layaknya sampah!
Aku melangkah maju, ketukan sepatu hak tinggiku memecah ketegangan di meja perawat.
"Jangan ada yang dipindahkan. Biar saya yang melunasi seluruh tunggakan dan biaya perawatan VIP Mas Ari untuk satu tahun ke depan secara penuh," ucapku tegas sambil meletakkan kartu debit kelap-kelip berlogo prioritas di atas meja administrasi.
Suster jaga terkesiap, buru-buru mengambil mesin EDC. Sementara itu, Ibu mertua dan Viona mematung.
Mata mereka terbelalak menatap penampilanku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Daster lusuh dan wajah kusam yang semalam mereka tertawakan telah lenyap tak berbekas.
"C-Cici?! Pakaian apa yang kau pakai ini?!" pekik Viona, menunjuk blazer mahalku dengan jari gemetar.
Ibu mertua langsung menggeram marah. Wajahnya merah padam.
"Dari mana kau dapat uang sebanyak itu?! Pasti kau diam-diam mencuri brankas anakku sebelum kuusir semalam, kan?! Dasar perempuan miskin tak tahu diuntung, beraninya kau maling di rumahku!"
Ibu mertua mengangkat tangannya tinggi-tinggi, bersiap menamparku di depan umum.
Namun, dengan gerakan cepat, aku menepis pergelangan tangannya hingga wanita tua itu terhuyung ke belakang.
Kutatap matanya yang melotot kaget dengan seringai sedingin es.
"Mencuri? Maaf, Ibu mertua, aku tidak sepicik dirimu," balasku dengan nada rendah namun tajam, memajukan wajahku ke arahnya.
"Oh ya, mumpung kita bertemu di sini, tolong kemasi barang-barang mewahmu secepatnya. Bukankah sangat memalukan jika sosialita sepertimu harus diseret keluar oleh satpam besok pagi, dari rumah yang ternyata berdiri di atas tanah milik menantu yang kau paksa makan nasi garam?"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar