Jumat, 17 April 2026

(2) Istriku Ngidam Tahu Goreng, Tapi Aku Gak Punya Uang Lagi karena Kuberi Seluruh Gajiku pada Ibuku. Akhirnya Kuambil Tahu Goreng yangSudah Dibuang Di Tong Sampah. Betapa Kagetnya Aku Ketika Istriku Meninggal karena...

 


"Kamu pikir putriku hidup melarat dan memakan sisa makanan kotor karena dia sebatang kara? Dia membuang seluruh fasilitas mewahnya di istana kami, hanya untuk membuktikan bahwa laki-laki miskin pilihannya ini mampu memuliakannya, Dafa!"


Suara bariton Tuan Adiwangsa menggelegar, meremukkan sisa-sisa kewarasanku yang sudah di ambang batas. 


Di bawah rintik hujan pemakaman yang dingin, tubuhku kaku bagai tersambar petir.


Aku hanya bisa berlutut di tanah yang basah, menatap tak berdaya ketika puluhan pria berjas rapi itu mengambil alih keranda istriku dengan penuh hormat. 


Tidak ada yang berbuat kasar, namun dinding pertahanan yang mereka buat dengan tubuh mereka sama sekali tak bisa kutembus. 


Kekuasaan dan kekayaan yang terpancar dari mereka membuatku, dan bahkan para penggali kubur, seketika merasa sekecil debu.


"Bapak ... biarkan saya menguburkan Jihan dengan layak," pintaku dengan suara parau dan gemetar, mengatupkan kedua tangan di depan dada. 


"Saya suaminya."


"Kamu kehilangan hak menyebut dirimu suami sejak kamu membiarkan putriku kelaparan demi menghidupi ibumu yang serakah itu!" potong Tuan Adiwangsa dengan rahang mengeras. Tatapannya sedingin es. 


"Bawa pulang Nona Jihan. Dan pastikan laki-laki ini menangis darah karena penyesalan seumur hidupnya."


Mobil-mobil mewah itu melaju pergi, membelah senja yang kelabu, membawa pergi satu-satunya wanita yang tulus mencintaiku. 


Aku tertinggal sendirian di tanah makam yang kosong, meremas jurnal lusuh milik Jihan di dadaku. Tangisku pecah sejadi-jadinya. 


Rahasia besar ini menyiksaku. Jihan, seorang pewaris tunggal konglomerat, rela hidup di kontrakan sempit dan memakai baju pudar, hanya karena dia percaya padaku. 


Dan apa balasanku? Aku membiarkannya memakan tahu sisa dari tong sampah!


Dengan langkah gontai dan pakaian basah kuyup berlumur tanah makam, aku berjalan pulang. 


Namun, kakiku tidak membawaku ke kontrakan, melainkan ke rumah Ibu. Ada amarah yang kini mendidih di ubun-ubunku.


Saat aku mendorong pintu rumah Ibu yang sedikit terbuka, pemandangan di ruang tengah membuat darahku mendesir cepat.


Ibu dan Abizar sedang duduk santai di sofa. Di atas meja, tersaji makanan enak: sate ayam, rendang, dan sekotak pizza. 


Abizar asyik memainkan kunci motor sport barunya, sementara Ibu menghitung lembaran uang. Uang gajianku yang kuberikan. Tidak ada setitik pun raut duka di wajah mereka.


"Loh, Dafa? Kenapa kamu basah kuyup begitu? Kotor sekali masuk rumah orang!" omel Ibu saat melihatku berdiri mematung di ambang pintu. 


"Mana surat kematian Jihan? Sudah kamu urus kan? Biar besok pagi-pagi Ibu bisa langsung ke pabrikmu untuk klaim asuransinya. Lumayan, bisa untuk beli perhiasan Ibu."


Dadaku naik turun menahan emosi yang siap meledak. Aku mengepalkan tangan kuat-kuat. 


Belum sempat bibirku terbuka untuk menumpahkan segala murka, suara deru mesin mobil yang halus namun tegas terdengar berhenti tepat di halaman depan rumah.


Seorang pria rapi berkacamata, mengenakan jas mahal dan membawa koper kulit, melangkah masuk tanpa diundang. Di belakangnya, dua pria berbadan tegap berjaga di pintu.


"Siapa kamu berani masuk ke rumah saya?!" bentak Ibu, langsung berdiri dan menyimpan uangnya ke belakang punggung.


Pria berkacamata itu membetulkan letak kacamatanya, menatap Ibu dengan senyum yang sangat sopan namun mematikan. Ia mengeluarkan sebuah dokumen berstempel resmi.


"Silakan nikmati suapan terakhir Anda. Saya kuasa hukum Keluarga Adiwangsa. Mulai detik ini, rumah ini, motor sport itu, dan seluruh aset yang Anda beli menggunakan uang gajian suami Jihan, resmi kami sita, karena secara hukum itu adalah harta bersama milik mendiang putri kami yang telah Anda ambil paksa dengan penuh tipu daya!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(2) Suamiku Mengambil Sertifikat Rumah Warisan Orangtuaku untuk Selingkuhannya. Dia Pikir Aku Bodoh? Dia Tidak Tahu Saja Kalau Aku Sudah...

  "Halo, Adel? Suaramu berisik sekali. Jangan teriak-teriak, kasihan pita suaramu. Lagipula, penyewa yang gagal melunasi sisa tagihan s...