Jumat, 17 April 2026

(2) Selingkuhan Suamiku Mempermalukanku di Arisan. Dia Tidak Tahu Saja Kartu Kredit yang Dipakai Suamiku adalah Milikku. Akan Kubuat Mereka Menyesal!

"Atas nama Jannah Putri?! Bagaimana mungkin BPKB mobil seharga nyaris dua miliar ini tertulis atas namamu, sementara kerjamu setiap hari cuma mencuci piring di rumah ini?!"


Hakim berlari keluar dari ruang kerjanya, membanting buku bersampul biru itu ke atas meja makan dengan kasar. 


Napasnya memburu, wajahnya memerah, sementara telunjuknya gemetar menunjuk deretan nama yang tercetak resmi di atas dokumen berhologram tersebut.


Aku meletakkan cangkir tehku pelan, menatap matanya yang membelalak penuh ketidakpercayaan. 


"Kenapa terkejut, Mas? Bukankah wajar jika sebuah mobil mewah terdaftar atas nama pemilik aslinya?"


"Pemilik asli apanya?!" bentak Hakim, urat di lehernya menonjol keluar. 


"Ini pasti ulahmu! Kamu diam-diam memanipulasi pihak showroom saat pembelian, kan?! Kamu memakai uang bonus tahunanku dan sengaja mendaftarkannya atas namamu! Dasar perempuan licik!"


Hakim yang diliputi ego dan kepanikan buta, memilih untuk meyakini kebohongannya sendiri. 


Dengan kasar, ia menyambar tas tanganku di atas sofa, mengobrak-abrik isinya, dan menarik kartu debit tempat ia biasa menitipkan gajinya.


"Mulai sekarang, ATM gajiku aku pegang sendiri! Kamu tidak berhak mengelola sepeser pun hasil keringatku!" Hakim merampas kunci mobil di atas meja dengan kasar. 


"Dan mobil ini tetap aku yang pakai! Ini dibeli pakai uangku!"


Ia melangkah pergi dan membanting pintu depan hingga pigura di dinding sedikit bergetar. 


Aku hanya menggeleng pelan. Biarlah dia membawa kartu debit berisi gajinya yang tak seberapa itu. 


Dia tidak tahu, biaya perawatan mobil, asuransi, hingga listrik rumah mewah ini, jauh lebih besar dari total gajinya selama setahun penuh.


Belum genap setengah jam rumah terasa tenang, pintu depan kembali terbuka. Kali ini tanpa ketukan.


Ibu mertua melangkah masuk dengan dagu terangkat tinggi. Pergelangan tangannya penuh dengan gelang emas keroncong yang bergemerincing setiap kali ia bergerak.


"Heh, Jannah! Mana jatah bulanan Ibu?" Ibu mertua langsung menengadahkan tangan, menatapku dengan sorot merendahkan. 


"Hakim bilang gajinya bulan ini sudah ditransfer semua ke kamu. Cepat berikan, Ibu mau pergi arisan emas siang ini. Jangan bilang kamu sudah menghabiskannya untuk keluargamu yang miskin itu!"


Aku merapikan meja makan tanpa terburu-buru, menatap wanita paruh baya yang selama ini selalu kuperlakukan dengan hormat, namun selalu membalasku dengan hinaan.


"Maaf, Ibu mertua. Mas Hakim baru saja mengambil semua ATM-nya dari dompetku. Silakan Ibu minta langsung pada anak kesayangan Ibu itu," jawabku tenang.


Mata Ibu mertua mendelik tajam. 


"Alasan saja kamu! Dasar istri pelit, tidak berguna! Pantas saja Hakim mengeluh kamu ini menyusahkan. Asal kamu tahu ya, Restu siang ini mau mentraktir Ibu makan di restoran mewah. Dia itu wanita berkelas, tahu cara memanjakan mertua. Tidak seperti kamu yang kampungan dan bisanya cuma menumpang hidup pada anakku!"


"Benarkah?" Aku tersenyum tipis, sangat tipis hingga ia tidak menyadari ada nada kasihan di suaraku. 


"Semoga saja Restu punya cukup uang tunai siang ini untuk mentraktir Ibu. Kudengar, kartu kredit Mas Hakim sedang bermasalah semalam."


"Ah, cerewet kamu! Ibu tidak butuh alasanmu!" Ibu mertua mendengus kasar, memutar tubuhnya dan keluar rumah sambil membanting pintu. Persis seperti kelakuan putranya.


Aku tersenyum lebar. Sungguh pagi yang sangat menghibur.

Aku berjalan menuju kamar, mengunci pintu, lalu membuka lukisan besar di dinding yang menyembunyikan brankas pribadiku. 


Dari dalam sana, aku mengeluarkan sebuah ponsel hitam yang sangat jarang kugunakan—ponsel yang menghubungkanku langsung dengan lingkar kekuasaan Grup Wiryawan.


Aku menekan nomor asisten kepercayaanku. Panggilan itu diangkat pada dering kedua.


"Selamat pagi, Bu Jannah. Ada yang bisa saya bantu?" sapa suara bariton yang tegas di seberang sana.


Aku menatap pantulan diriku di cermin. Menanggalkan apron, dan membiarkan senyum seorang pewaris tunggal kerajaan bisnis Wiryawan mengembang di wajahku. 


Masa bermain rumah-rumahanku dengan Hakim sudah selesai.


"Sudah saatnya masa cutiku berakhir, Pak Dirman. Siapkan ruangan Direktur Utama di kantor pusat untukku besok pagi. Dan tolong pastikan, Manajer Pemasaran yang bernama Hakim, menjadi orang pertama yang menyajikan kopi ke mejaku."


***​



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(2) Suamiku Mengambil Sertifikat Rumah Warisan Orangtuaku untuk Selingkuhannya. Dia Pikir Aku Bodoh? Dia Tidak Tahu Saja Kalau Aku Sudah...

  "Halo, Adel? Suaramu berisik sekali. Jangan teriak-teriak, kasihan pita suaramu. Lagipula, penyewa yang gagal melunasi sisa tagihan s...