"Seret suamimu yang gila ini keluar dari pekarangan rumahku sekarang juga, Yuni! Aku benar-benar malu! Bertahun-tahun kerja di luar negeri, bukannya pulang bawa emas permata, malah pulang jadi gembel!"
Suara melengking Ibu kandungku menggema ke seluruh penjuru rumah, diiringi suara bantingan koper lusuhku yang dilempar kasar ke tanah berdebu.
Aku, Aji, hanya bisa duduk meringkuk di dekat teras sambil tertawa cekikikan, memainkan ujung kemejaku yang sengaja kurobek-robek.
Dari balik tatapan kosong yang kubuat-buat ini, mataku merekam segalanya dengan sangat tajam.
"Ibu, istighfar, Bu! Ini Mas Aji, anak kandung Ibu sendiri!"
Yuni, istriku yang berpakaian daster pudar, langsung berhambur memeluk tubuhku yang sengaja kubalut dengan debu jalanan.
Air matanya jatuh berderai, membersihkan noda tanah di pipiku dengan ujung kerudungnya.
"Anak kandung apanya?!" dengus Ibu. "Anakku yang kubanggakan itu pintar, bakal jadi orang kaya! Bukan gembel gila yang bau got begini! Pasti dia dipecat dan jadi gelandangan di sana. Mulai detik ini, aku coret dia dari kartu keluarga! Bawa dia pergi, jangan sampai tetangga melihat dan bikin malu keluarga kita!"
"Betul kata Ibu, Mbak Yuni. Bawa saja Mas Aji pergi. Kami nggak mau ketularan sial!" timpal Bagas, adik kandungku yang dulu biaya sekolahnya selalu kukirimkan dari hasil keringatku.
Kini, anak itu menatapku dengan raut jijik luar biasa, seolah aku adalah sampah paling menjijikkan di dunia.
Hatiku mendidih. Rasanya seperti ditikam belati dari belakang.
Selama lima tahun aku bekerja banting tulang di Jerman, membangun perusahaan rintisan dari nol hingga kini bernilai triliunan rupiah.
Aku sengaja berdandan seperti orang gila berpenyakitan hari ini, hanya untuk satu tujuan: menguji siapa yang benar-benar tulus menyayangiku, dan siapa yang hanya menempel demi hartaku.
Kini jawabannya sudah sangat jelas. Ibu kandung dan adik yang selama ini kusokong hidupnya, membuangku tanpa ragu sedetik pun.
Sementara Yuni, istri yang dulu sering dicibir Ibu karena berasal dari keluarga miskin, justru mendekapku erat. Tubuhnya bergetar, tapi tatapannya menantang Ibu dan Bagas.
"Biar! Biar saya yang bawa Mas Aji pergi! Kalau Ibu dan Bagas sudah tidak sudi menerimanya, saya yang akan merawat suami saya sampai sembuh. Ayo, Mas, kita pergi dari sini," isak Yuni sambil memapah tubuhku yang pura-pura lunglai.
Dengan langkah tertatih, Yuni membawaku pergi dari rumah megah yang sebenarnya kubeli dengan uangku sendiri itu.
Ia membawaku ke rumah tua milik ayahnya di ujung desa.
Sepanjang jalan, ia tak henti-hentinya menangis sambil mengusap kepalaku, seolah aku adalah permata paling berharga yang tak akan pernah ia lepaskan.
Sesampainya di gubuk reyot itu, Yuni mendudukkanku di atas dipan bambu. Ia mengambil baskom berisi air hangat dan mulai membasuh wajahku dengan lembut. Air matanya masih menetes, jatuh tepat di punggung tanganku.
"Mas Aji nggak usah takut ya, ada Yuni di sini. Yuni bakal kerja keras jadi buruh cuci demi beli makan dan obat buat Mas. Yuni janji nggak akan pernah ninggalin Mas Aji," ucap Yuni dengan suara bergetar, memeluk tubuhku erat.
Aku memejamkan mata sejenak, mengunci rapat-rapat rasa haru yang membuncah di dada.
Saat pelukannya merenggang, perlahan aku menegakkan punggungku. Kutatap mata sembab istriku dengan sorot yang tak lagi kosong, melainkan tajam dan penuh wibawa.
Tiba-tiba, tanganku yang sedari tadi gemetar pura-pura, kini bergerak mantap menghapus air mata di pipinya.
"Simpan air matamu, Sayang. Mulai besok, bukan kamu yang akan jadi buruh cuci, tapi kitalah yang akan membuat mereka berlutut mengemis untuk memungut sampah di istana kita."
***
Bab 2
"Mas Aji, k-kamu waras, Mas? Atau kamu lagi kesurupan jin penunggu jalan desa?!" Yuni terlonjak mundur hingga menabrak dinding gedek bambu, menatapku dengan mata membelalak ngeri.
Aku tak kuasa menahan senyum melihat tingkah istriku yang polos ini.
Perlahan, aku berdiri tegap. Postur membungkuk dan raut wajah idiot yang sejak tadi kupertahankan langsung lenyap, berganti dengan karisma seorang pemimpin perusahaan yang biasa menundukkan ratusan karyawan.
Kuraih kedua pundak Yuni yang masih gemetar.
"Ssst ... tenang, Sayang. Ini aku, suamimu. Aku tidak gila, tidak cacat, dan sama sekali tidak kesurupan. Aku seratus persen sadar."
"T-tapi bajumu robek-robek, bau comberan, terus tadi di depan Ibu ..." Yuni terbata-bata, masih belum sepenuhnya mencerna apa yang terjadi di depan matanya.
"Itu semua cuma sandiwara, Yuni," ucapku lembut sambil merapikan helaian rambutnya yang berantakan.
"Selama lima tahun di Jerman, aku tak pernah berhenti bekerja keras. Aku mengirimkan uang puluhan juta setiap bulan untuk Ibu dan Bagas, berharap mereka hidup layak dan memperlakukanmu dengan baik. Tapi apa yang kudengar dari tetangga yang merantau ke sana? Mereka menjadikanmu pembantu di rumahku sendiri, kan?"
Mata Yuni kembali berkaca-kaca. Ia menunduk, tak berani menatapku, membenarkan semua penderitaan yang selama ini ia sembunyikan dariku.
"Karena itulah aku pulang dengan cara seperti ini," lanjutku, nada suaraku memberat menahan amarah setiap kali mengingat wajah culas Ibu dan adikku.
"Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kalau aku jatuh miskin dan gila, siapa yang akan bertahan. Ternyata benar, darah dagingku sendiri membuangku seperti kotoran. Hanya kamu, Yuni. Hanya kamu yang memelukku saat aku berada di titik paling rendah."
Yuni langsung berhambur ke pelukanku, terisak kencang melepaskan semua beban yang mengganjal di dadanya.
Aku membalas pelukannya dengan erat, berjanji dalam hati tak akan membiarkan setetes pun air matanya jatuh karena dihina lagi.
Di tengah suasana haru itu, tiba-tiba terdengar nada dering yang sangat elegan dan asing di telinga.
Yuni mengusap air matanya, celingukan mencari sumber suara di dalam gubuk tua ini.
Matanya membulat sempurna saat melihatku merogoh saku celana lusuhku, mengeluarkan sebuah ponsel keluaran terbaru yang harganya bisa untuk membeli sebuah mobil mewah.
"Halo, Reno," sapaku pada asisten pribadiku di seberang telepon, mengubah nada bicaraku menjadi tegas dan dingin.
"Selamat malam, Tuan Aji. Saya sudah mendarat di bandara terdekat beserta tim pengacara. Kami juga sudah memantau pergerakan keluarga Anda. Tuan Bagas baru saja menelepon calo tanah, mereka berencana memalsukan tanda tangan Anda besok pagi untuk menjual rumah mewah yang Tuan beli lima tahun lalu."
Aku mendengus pelan. Hebat sekali keluargaku. Belum genap sehari membuangku, mereka sudah rakus ingin merampas hartaku.
Yuni menatapku dengan mulut sedikit terbuka, masih shock melihat suaminya yang disangka gembel gila kini berbicara fasih tentang pengacara dan aset miliaran.
Aku menatap mata istriku, memberinya isyarat bahwa masa-masa penderitaannya sudah berakhir.
"Biarkan saja Ibu dan Bagas berpesta malam ini dan berkhayal menjadi miliarder," ucapku dengan senyum miring yang membuat Yuni menahan napas.
"Besok pagi jam delapan tepat, pastikan surat pengosongan paksa dari pengadilan sudah terpaku di pagar rumah itu. Mari kita tonton, bagaimana wajah sombong mereka saat diusir layaknya gembel dari rumah yang kubeli dengan keringatku sendiri."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar