Selasa, 21 April 2026

(6) Suamiku Mengambil Sertifikat Rumah Warisan Orangtuaku untuk Selingkuhannya. Dia Pikir Aku Bodoh? Dia Tidak Tahu Saja Kalau Aku Sudah...

 


"Bohong! Bela pasti cuma mengarang cerita untuk menghancurkan kita, kan?! Jawab Ibu, Rizwan! Laki-laki mandul yang dia maksud itu bukan kamu, kan?!"


Teriakan Ibu Lastri melengking membelah keramaian di depan ruko Sudirman. 


Wanita paruh baya itu mencengkeram kerah kemeja Rizwan yang baru saja tiba dengan napas tersengal-sengal dan kemeja basah oleh keringat setelah berjalan kaki di bawah terik matahari.


Di layar iPad-ku yang masih tersambung dengan panggilan video Pak Dimas, pemandangan itu terlihat lebih seru dari drama televisi mana pun.


Rizwan terbelalak. Wajahnya yang sudah sekuyu kain pel kini berubah semakin pucat pasi, seolah aliran darahnya baru saja berhenti total. Ia menatap ibunya, lalu beralih menatap Adel yang kini gemetar hebat dengan wajah penuh peluh.


"M-maksud Ibu apa? Bela bilang apa sama Ibu?" suara Rizwan bergetar, nyaris seperti cicitan tikus.


"Istrimu yang kurang ajar itu bilang kalau kamu mandul permanen! Kalau begitu, anak siapa yang dikandung Adel?!" Ibu Lastri mengguncang tubuh putranya dengan kasar. 


"Bilang ke Ibu kalau Bela cuma fitnah!"


Rizwan terdiam kaku. Matanya menatap perut rata Adel dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya rahangnya mengeras. Kepalan tangannya memutih.


"Adel," desis Rizwan dengan suara berat yang menyimpan kemarahan mematikan. "Jadi selama ini, kamu tidur dengan siapa lagi di belakangku, hah?!"


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Adel, bukan dari Rizwan, melainkan dari tangan Ibu Lastri yang sudah gelap mata.


"Perempuan licik! Berani-beraninya kamu memeras harta anakku pakai anak harammu itu!" maki Ibu Lastri histeris. 


Tumpeng yang tadi berserakan kini terinjak-injak oleh langkah mundur Adel yang menangis memegangi pipinya.


"Mas Rizwan yang bodoh! Kalian pikir aku mau sama laki-laki yang nggak punya apa-apa?!" teriak Adel tak kalah keras, urat lehernya menonjol. Kedok manisnya hancur lebur. 


"Mas Rizwan sendiri yang nipu Bela! Dia tahu dia mandul, tapi dia biarin istrinya minum obat penyubur bertahun-tahun dan disalahkan sama keluarga kalian! Kalian itu keluarga sakit jiwa!"


Aku mematikan layar iPad-ku dengan tenang. Pertunjukan utamanya sudah selesai.


Aku menyandarkan kepala di sofa, menghela napas panjang. Ucapan Adel barusan sama sekali tidak mengejutkanku. 


Sebulan yang lalu, saat aku membongkar laci rahasia Rizwan untuk mencari bukti mutasi rekening, aku menemukan amplop dari laboratorium kesuburan.


Selama lima tahun pernikahan kami, Ibu Lastri selalu menghinaku sebagai wanita pembawa sial yang tidak bisa memberikan keturunan. 


Rizwan selalu diam, berpura-pura menjadi suami penyabar yang menenangkan tangisku setiap malam setelah ibunya memaki-makiku. 


Padahal, dia tahu betul sejak tiga tahun lalu bahwa sperma miliknya sama sekali tidak berfungsi. Dia menjadikan rahimku sebagai tameng untuk menutupi kecacatannya sendiri.


Penghianatan finansialnya menyakitkan, tapi pengkhianatan mental yang ia lakukan padaku, itu yang membuatku bersumpah akan menghancurkannya hingga ke tulang.


Ponselku tiba-tiba berdering, membuyarkan lamunanku. Sebuah nama yang sudah kutunggu-tunggu muncul di layar: Bara.


Bara adalah teman lama dari masa kuliah sekaligus pemilik firma hukum dan investigasi swasta yang selama sebulan terakhir membantuku bergerak dalam senyap.


"Halo, Bara," sapaku sambil menuangkan teh baru ke cangkir. "Kudengar dari suaramu, sepertinya ada kabar baik."


"Halo, Bela. Kudengar drama tumpeng tumpahnya berjalan sangat lancar," suara bariton Bara terdengar diiringi tawa renyah. 


"Ngomong-ngomong, aku baru saja meretas dan menemukan satu dokumen yang sangat, sangat menarik. Cukup untuk membuat mantan suamimu itu berharap dia tidak pernah dilahirkan."


Aku tersenyum miring. "Oh ya? Kejutan apa lagi yang disembunyikan laki-laki itu?"


"Ternyata, selain menggelapkan dana, Rizwan diam-diam meminjam uang sepuluh miliar ke sindikat lintah darat rahasia menggunakan cap palsu perusahaan ayahmu," jelas Bara dengan nada santai namun mematikan. 


"Dan karena dia sudah kau tendang dari kursi direktur, utang itu kini sepenuhnya jatuh sebagai tanggungan pribadinya. Tapi tebak siapa yang dia jadikan penjamin darurat di dokumen itu?"


Matahari sore menembus jendela kaca ruang tengahku, membuat senyum di wajahku terasa semakin hangat. 


"Jangan bilang, dia memakai nama Adel?"


"Tepat sekali," Bara terkekeh pelan. "Jadi, Nyonya Bela, haruskah aku mengirim gerombolan debt collector paling beringas yang kumiliki ke ruko itu sekarang, atau kita biarkan mereka saling cakar-cakaran dulu sampai besok pagi?"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(9) Selingkuhan Suamiku Mempermalukanku di Arisan. Dia Tidak Tahu Saja Kartu Kredit yang Dipakai Suamiku adalah Milikku. Akan Kubuat Mereka Menyesal!

  "Heh, Satpam! Cepat hancurkan gembok ini pakai palu! Di dalam sana ada koleksi tas, baju sutra, dan perhiasan emasku! Berani-beraniny...