"Perempuan udik sepertimu memimpin PT. Mega Karya?! Jangan melucu! Kau itu cuma parasit yang menumpang hidup pada anakku! Mana mungkin pemegang saham membiarkan gembel sepertimu duduk di kursi kehormatan Mas Ari?!"
Suara lengkingan Ibu mertuaku menembus celah kaca mobil yang baru kuturunkan setengah.
Mulutnya yang memang terkenal nyenyes dan tak pernah bisa direm itu terus menyemburkan racun, diiringi telunjuknya yang menuding-nuding arogan ke arahku.
"Kita lihat saja nanti, Nyonya," balasku tenang, lalu menekan tombol untuk menaikkan kembali kaca mobil.
Aku memerintahkan supir pribadiku untuk melajukan mobil, meninggalkan Ibu mertua dan Viona yang masih mencak-mencak memaki pagar besi rumah yang dulu menjadi kebanggaan mereka.
***
Tiga puluh menit kemudian, sedan mewahku berhenti tepat di depan lobi utama gedung pencakar langit PT. Mega Karya.
Para staf dan direksi sudah berbaris rapi menyambutku. Di barisan paling depan, berdiri seorang pemuda tampan dengan setelan jas slim-fit modern.
Namanya Gala, asisten pribadi utusanku yang sengaja kurekrut untuk mengurus segala transisi kekuasaan ini. Pemikirannya yang tajam dan gaya kerjanya yang serba cepat ala anak Gen Z sangat kubutuhkan saat ini.
"Selamat pagi, Bu Cici. Semua dewan direksi sudah menyetujui pemindahan hak suara mutlak atas nama Anda, sesuai dengan surat wasiat Bapak mertua Anda," sapa Gala sambil menunduk hormat, menyodorkan sebuah tablet berisi laporan.
Baru saja aku mengangguk dan hendak melangkah masuk ke lift khusus direktur, keributan pecah di pintu putar lobi.
"Minggir kalian semua! Aku ini ibunya Ari! Direktur Utama kalian! Aku perintahkan bekukan semua rekening perusahaan dan cabut akses perempuan sialan itu sekarang juga!" teriak Ibu mertua yang entah bagaimana berhasil menyusul ke kantor dengan taksi, menerobos barisan satpam bersama Viona.
Langkahku terhenti. Aku berbalik perlahan, menatap kedua wanita itu dengan pandangan dingin. Seluruh karyawan di lobi terdiam menahan napas.
Gala langsung memberi isyarat pada kepala keamanan. Namun sebelum satpam menyeret mereka, aku mengangkat tangan, memberi tanda untuk berhenti. Aku berjalan mendekati Ibu mertuaku yang napasnya memburu.
"Masih belum puas mempermalukan diri sendiri di rumah, sekarang Ibu mau jadi tontonan gratis di perusahaanku?" desisku tajam.
"Perusahaanmu?! Ini perusahaan suamiku dan anakku! Kau yang merampok kami!" jerit Ibu mertua.
Mulut nyenyes-nya benar-benar tidak mengenal tempat.
Aku mengambil tablet dari tangan Gala dan memutarnya tepat di depan wajah Ibu mertua.
Di layar itu terpampang jelas akta pendirian perusahaan dan struktur saham terbaru.
Tujuh puluh persen saham perusahaan ini didirikan murni menggunakan modal dari almarhum Bapak mertua yang dialihkan atas namaku sebelum ia meninggal, bukan atas nama suaminya, apalagi atas nama Mas Ari.
Mata Ibu mertua membelalak lebar melihat dokumen digital resmi berlambang hukum tersebut. Mulutnya yang tadinya sibuk mencaci maki mendadak terkunci rapat.
"Gala, panggil polisi jika dua orang gelandangan ini masih berani menginjakkan kaki di lobi perusahaanku. Aku banyak urusan," ucapku tanpa menoleh lagi, melangkah anggun memasuki lift VIP yang pintunya langsung tertutup rapat.
Dua jam berlalu di ruang kerja baruku. Aku sedang meneliti laporan keuangan perusahaan yang ternyata banyak digelapkan oleh Ibu mertua selama Mas Ari memimpin, ketika pintu ruanganku diketuk pelan.
Gala masuk dengan raut wajah sangat serius. Ia tidak membawa tablet seperti biasa, melainkan sebuah map merah yang tertutup rapat.
"Ada apa, Gala?" tanyaku heran.
"Sesuai perintah Ibu tadi pagi, saya sudah menyewa detektif swasta untuk menyelidiki ulang bangkai mobil Pak Ari dan meminta salinan utuh CCTV dari rumah lama Anda," ucap Gala dengan nada tertahan, meletakkan map merah itu di atas mejaku.
Tanganku tiba-tiba terasa dingin. Aku membuka map itu perlahan. Terdapat beberapa foto kolong mobil Mas Ari yang hancur, dan sebuah flashdisk.
"Apa maksudnya ini?" tanyaku dengan suara bergetar.
Gala menatap mataku lekat-lekat, menyuarakan kenyataan pahit yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak.
"Kecelakaan Pak Ari sama sekali bukan musibah, Bu. Rem mobilnya sengaja dirusak sesaat sebelum beliau berangkat kerja pagi itu. Dan yang lebih gila lagi, rekaman CCTV garasi membuktikan bahwa orang terakhir yang masuk ke sana dan memotong kabel remnya adalah Ibu mertua Anda sendiri."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar