"Siap, laksanakan, Tuan Aji! Pasukan taktis kami telah mengepung seluruh akses perumahan Anda. Kurang dari tiga menit, kami pastikan Darmawan dan seluruh komplotan penagih utang ilegalnya diseret ke balik jeruji besi malam ini juga!"
Suara bariton tegas Jenderal Polisi dari loudspeaker ponselku memecah keheningan sore, langsung menggilas habis sisa-sisa kesombongan para preman di halaman rumahku.
Terdengar bunyi dentingan beruntun saat tongkat-tongkat baja yang tadi digenggam garang oleh anak buah Bos Darma kini berjatuhan ke lantai marmer.
Nyali mereka ciut seketika. Bos Darma sendiri yang tadinya angkuh menghisap cerutu, kini wajahnya pucat pasi. Tubuhnya bergetar ketakutan, membuatnya langsung berlutut memohon ampun tanpa berani menatap wajahku.
"T-Tuan Aji, s-saya mohon ampun. Saya benar-benar tidak tahu kalau wanita ini istri Tuan. Saya ditipu oleh Bagas, Tuan! Tolong ampuni saya," ratap Bos Darma dengan nada suara yang bergetar hebat.
Aku menatapnya dengan sorot mata sedingin es.
"Orang yang berani mengancam istriku tidak pantas mendapat ampunan. Nikmati masa tuamu di balik jeruji besi."
Belum sempat Bos Darma berbicara lagi, raungan sirene polisi terdengar memekakkan telinga dari arah gerbang.
Puluhan petugas berseragam merangsek masuk, menyergap komplotan penagih utang itu tanpa perlawanan berarti.
Melihat kekacauan itu, Bagas yang sejak tadi mematung panik, tiba-tiba memohon padaku dengan suara putus asa.
"Mas Aji! Mas Aji, tolong aku! Aku ini adik kandungmu, Mas! Kita sedarah! Tolong jangan biarkan polisi membawaku, Mas! Aku janji akan berubah, aku janji nggak akan mengganggu Mbak Yuni lagi!" teriak Bagas histeris.
Yuni yang berdiri di belakangku membuang muka, tak sanggup melihat wajah orang yang baru saja berniat menghancurkan hidupnya. Aku berdiri tegap, menatap Bagas tanpa belas kasihan sedikit pun.
"Darah daging, katamu? Di mataku, adik kandungku sudah mati sejak ia berniat merampas rumah ini dan mengorbankan kakak iparnya sendiri demi menutupi utang judinya."
Dua orang polisi bertubuh besar langsung menarik lengan Bagas, memborgol tangannya dengan tegas. Pemberontakan Bagas sia-sia. Ia ditarik paksa menuju mobil patroli.
Suasana berangsur tenang seiring bergeraknya mobil-mobil polisi itu ke luar gerbang. Aku berbalik, menatap Yuni yang masih terlihat shock dengan semua kejadian yang berjalan begitu cepat. Kupeluk bahunya dengan lembut, memberinya rasa aman.
"Semuanya sudah selesai, Yuni. Orang-orang jahat itu tidak akan pernah mengganggumu lagi. Sekarang, hanya ada kita," bisikku menenangkan.
Yuni mengangguk pelan. Senyum lega akhirnya terukir di bibirnya. Kami pun berbalik, bersiap melangkah masuk ke dalam rumah untuk beristirahat dan menata hidup baru.
Namun, tepat sebelum kakiku melewati pintu, terdengar suara tawa sumbang yang sangat keras dan sarat akan kebencian dari arah mobil polisi.
Itu suara Bagas, yang sengaja menahan langkahnya di dekat pagar demi meneriakkan kalimat terakhirnya.
Langkahku terhenti seketika. Yuni ikut menegang di pelukanku.
Bagas menatap tajam ke arah kami. Matanya memerah, menyeringai layaknya orang yang sudah tak punya harapan hidup, tapi ingin menyeret kebahagiaan orang lain agar hancur bersamanya.
"Silakan tersenyum puas, Kakak tersayang! Tapi sebelum aku dibawa pergi, kau harus tahu betapa kejamnya Ibu yang selama ini kau hormati! Kau pikir adik perempuan Yuni kabur bertahun-tahun lalu karena malu jadi orang miskin?! Bukan! Ibu yang sengaja mencacinya setiap hari, memfitnahnya mencuri perhiasan dengan mulut kejamnya, lalu mengusirnya paksa ke jalanan tanpa sepeser uang pun karena Ibu tak sudi menampung keluarganya di rumah ini!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar