"Anak durhaka! Baru pulang bawa uang receh dari perantauan saja kelakuanmu sudah seperti raja! Berani kamu ancam mau memenjarakan kakakmu demi perempuan gembel perayu itu?! Kupastikan istrimu itu mati membusuk kalau kamu berani macam-macam pada keluargamu sendiri, Danu!"
Lengkingan tajam dari seberang sambungan telepon itu membuat telingaku berdenging keras.
Itu suara Ibuku. Ibu kandung yang selama enam tahun ini selalu kupuja, kuhormati, dan kukirimi uang belanja bulanan tanpa pernah terlewat satu bulan pun.
Aku berdiri mematung di balkon kamar presidential suite hotel bintang lima, menatap gemerlap lampu kota yang terasa begitu kontras dengan kegelapan di hatiku. Melalui pintu kaca yang sedikit terbuka, aku bisa melihat ke dalam kamar.
Di sana, di atas ranjang king size beralaskan seprai putih bersih, Bintang sedang tertidur lelap setelah menghabiskan dua porsi sup iga hangat.
Di sampingnya, Sari duduk bersandar dengan jubah mandi tebal. Istriku itu belum tidur, matanya yang bengkak masih terus menatap ke arah sekeliling kamar mewah ini seolah takut semua ini hanya mimpi yang akan segera menghilang jika ia memejamkan mata.
Darahku kembali mendidih. Aku menempelkan ponsel lebih erat ke telinga.
"Uang receh, Bu?" balasku dengan suara rendah, menekan gemuruh amarah yang siap meledak di kerongkonganku.
"Satu miliar lebih yang kukirimkan selama enam tahun ini Ibu sebut receh? Uang yang Ibu dan Mbak Rini pakai untuk membangun istana dan foya-foya ke salon, sementara menantu dan cucu kandung Ibu kelaparan meminum air selokan?"
"Halah, jangan lebay kamu! Perempuan murahan seperti Sari itu memang pantas dikasih pelajaran! Dia itu pembawa sial, cuma mau menumpang hidup!"
Mulut ibuku menyemburkan kata-kata berbisa dengan sangat lancar, nyenyes tanpa sedikit pun nada penyesalan.
Nada bicaranya begitu merendahkan, seolah menyiksa istriku adalah sebuah kebanggaan besar.
"Untung masih Ibu izinkan dia bikin gubuk di tanah kita! Kalau tidak, sudah Ibu tendang dia jadi pengemis lampu merah! Lagipula uangmu itu ya uang Ibu! Surga di telapak kaki Ibu, Danu! Jangan berani-berani kamu melawan ibumu sendiri!"
Rahangku mengeras hingga gigiku bergemeretak.
Dulu, setiap kali meneleponku ke Taiwan, suara Ibu selalu lembut mendoakan keselamatanku.
Ternyata, itu hanya topeng manis untuk terus menguras hasil keringat darahku di atas kapal.
Rasa hormatku pada wanita yang melahirkanku ini menguap tak bersisa, digantikan rasa jijik yang luar biasa.
Bukan hanya Mbak Rini. Ternyata ibuku sendirilah dalang utama di balik penderitaan istri dan anakku.
"Surga?" Aku tertawa sumbang, sebuah tawa dingin yang membuat hening sejenak merayap di ujung telepon sana.
"Aku tidak peduli lagi tentang surga yang Ibu ancamkan padaku, karena Ibu sendiri yang sudah menciptakan neraka untuk keluargaku di dunia ini."
"D-Danu! Jaga bicaramu! Jangan sampai Ibu kutuk kamu jadi batu!" suara Ibu mulai terdengar panik, namun ego kesombongannya masih berusaha menutupi.
"Sini kamu pulang! Minta maaf sama kakakmu, atau Ibu coret kamu dari Kartu Keluarga!"
Aku memutar tubuhku, membelakangi angin malam yang berhembus kencang. Mataku menatap tajam ke arah bayanganku sendiri di kaca jendela balkon.
Air mataku sudah mengering, menyisakan tatapan seorang pria yang hatinya telah membatu untuk keluarganya sendiri.
"Tidak perlu repot-repot mencoretku, Bu. Karena sejak sore tadi, pengacaraku sudah mengurus semuanya," ucapku dengan nada sedingin es.
"P-pengacara apa maksudmu?! Jangan macam-macam kamu, Danu!"
Aku tersenyum miring.
"Kemas saja daster kalian malam ini, Bu. Karena besok pagi pukul delapan tepat, buldoser sewaanku akan meratakan rumah mewah itu dengan tanah, dan kupastikan gubuk reyot berbau kotoran di sebelahnya adalah satu-satunya tempat yang tersisa untuk Ibu dan Mbak Rini berteduh seumur hidup."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar