Selasa, 21 April 2026

Istriku pulang setelah 3 hari dimakamkan karena kecelakaan pesawat. Betapa kagetnya kami, karena tak percaya istriku hidup lagi. Setelah kucari tau ternyata...

 


"Mas, di luar dingin sekali. Kenapa kamu menggembok pintunya dari dalam?"


Gelas berisi kopi panas yang baru saja kuseduh meluncur begitu saja dari tanganku, pecah berkeping-keping menghantam lantai dapur. 


Aku mematung. Seluruh aliran darahku terasa berhenti berdesir. Suara lembut itu ... suara yang selama tiga hari ini terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak.


Dengan gerakan patah-patah, aku memutar tubuh.


Di sana, berdiri di ambang pintu ruang tengah, adalah Althea. Istriku.


Istriku yang jasadnya baru saja kumasukkan ke liang lahat tiga hari yang lalu.


Ia mengenakan gaun rajut berwarna hitam, pakaian yang sama persis saat terakhir kali kuantar ia ke bandara. Rambut panjangnya tergerai rapi. 


Tidak ada luka. Wajahnya secantik dan sesempurna biasanya, hanya saja terlihat sedikit lebih pucat di bawah cahaya lampu yang temaram.


"A—Althea?" panggilku dengan suara bergetar parah. Lututku nyaris kehilangan fungsi untuk menopang tubuh.


Althea tersenyum tipis. Ia melangkah perlahan mendekatiku, menghindari pecahan beling di lantai dengan anggun. 


"Kamu kenapa pucat begitu, Mas? Kayak habis lihat hantu saja."


Ini gila. Ini benar-benar gila. Aku pasti sudah kehilangan kewarasanku karena terlalu banyak menangis. 


Tapi saat tangan Althea terulur dan menyentuh rahangku, sentuhan itu nyata. Kulitnya terasa sangat dingin, seperti bongkahan es, tapi ia bernapas. 


Air mataku tumpah seketika. Tanpa peduli pada logika yang berteriak di kepalaku, aku merengkuh tubuhnya erat-erat. 


"Ya Tuhan, Althea! Kamu selamat? Ini mukjizat! T-tapi bagaimana mungkin? Pihak maskapai bilang tidak ada korban selamat. Aku melihat jasadnya, Althea. Jasad itu memakai cincin kawin pesanan khusus kita!"


Aku menangis tersedu-sedu di ceruk lehernya. Rasa lega, bingung, dan ketakutan bercampur aduk menjadi satu. 


Jika istriku ada di sini, memelukku, mengusap punggungku dengan lembut seperti yang selalu ia lakukan, lalu jasad siapa yang kutangisi di pemakaman itu? Kesalahan identifikasi macam apa yang sedemikian fatal?


Althea membiarkanku menangis cukup lama. Ia menepuk-nepuk punggungku dengan ritme yang pelan dan teratur. Terlalu teratur.


Perlahan, ia mengurai pelukan kami. Tangannya yang sedingin es menangkup wajahku yang basah oleh air mata. 


Senyum lembut masih terukir di bibirnya, menatap mataku dengan tatapan yang sangat dalam dan tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja selamat dari maut.


"Aku tahu kamu sangat terpukul, Mas. Aku melihatmu menangis tersedu-sedu dari dahan pohon kamboja waktu pemakaman itu," bisiknya lembut, menatapku tanpa berkedip. 


"Tapi Mas, kalau aku sudah ada di sini, lalu siapa yang semalaman ini terus menggedor-gedor minta dikeluarkan dari dalam kuburan di bawah tanah sana?"


***


Bab 2

"Leluconmu sama sekali tidak lucu, Althea! Aku sendiri yang turun ke liang lahat, mengadzankan jasad itu, dan melihat dengan mata kepalaku sendiri tanah kuburan menimbunnya!"


Sentakanku menggema di ruang tengah, memecah keheningan yang mencekik. 


Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku menepis kedua tangannya dari wajahku.

Sentuhan kulitnya yang sedingin es langsung terlepas, meninggalkan sensasi beku yang menjalar hingga ke sumsum tulangku. 


Aku melangkah mundur tak beraturan, dadaku naik-turun memburu pasokan oksigen. 


Kewarasanku benar-benar sedang diuji di titik batasnya.

Namun, perempuan yang berdiri di hadapanku itu sama sekali tidak marah.


Ia memiringkan wajahnya sedikit, menatapku dengan mata yang memancarkan kelembutan yang selalu kurindukan. Ia menghela napas panjang, lalu menunduk menatap pecahan gelas dan genangan kopi di lantai.


"Biar aku bersihkan ya, Mas. Nanti telapak kakimu bisa terluka," ucapnya dengan nada keibuan yang sangat tenang. Terlalu tenang.


Tanpa menungguku menjawab, Althea berjongkok. Ia memunguti pecahan beling tajam itu dengan tangan kosong. 


Mataku membelalak ngeri saat kulihat sebuah pecahan kaca yang cukup besar menggores dalam telapak tangannya.


Aku nyaris berteriak untuk memperingatkannya, tapi suaraku tertahan di tenggorokan.


Goresan di telapak tangannya itu terbuka menganga, namun tidak ada setetes darah pun yang mengalir keluar. 


Daging di balik kulitnya terlihat pucat, kering, dan kelabu. Althea bahkan tidak meringis atau berkedip. Ia terus memunguti kaca seolah rasa sakit sudah tak lagi memiliki arti pada tubuhnya.


"A—apa yang terjadi padamu?" bisikku, merinding hingga ke ubun-ubun. 


Kakiku terus melangkah mundur perlahan hingga punggungku menabrak dinding dingin di dekat meja telepon.


Althea bangkit berdiri, menggenggam beling-beling tajam itu seolah itu hanya remah-remah roti. Ia menatapku dengan senyum tipis yang entah mengapa kini terlihat sangat menyedihkan.


"Tidak ada yang terjadi, Mas. Aku hanya pulang," jawabnya pelan, suaranya mengalun seperti angin malam yang menyusup lewat celah jendela. 


"Kamu tidak tahu kan rasanya sendirian di tempat yang gelap dan sempit? Kedinginan, menunggu seseorang yang tak kunjung datang menolongmu."


Bulu kudukku meremang hebat. Perkataannya barusan bukan sekadar kiasan, melainkan ancaman yang dibungkus dengan nada rintihan.


Aku tidak bisa di sini. Aku harus mencari bantuan. 


Dengan tangan gemetar parah, aku meraba meja di belakangku, berusaha meraih ponselku yang tergeletak di sana.


Namun, sebelum jemariku berhasil menyentuh layarnya, benda pipih itu berdering memecah kesunyian.


Layar ponsel menyala terang di ruangan yang remang-remang, menampilkan nama si penelepon: Pak Yanto - Penjaga Makam.


Jantungku berdegup seribu kali lebih cepat. 


Sambil terus mengawasi sosok Althea yang berdiri diam memperhatikanku dari ujung ruangan, aku menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinga.


"Halo, Pak Kael? Maaf saya menelepon dini hari begini." 


Suara parau Pak Yanto di seberang sana bergetar hebat, diselingi napasnya yang terputus-putus seolah ia sedang menggigil ketakutan. 


"Pak, Bapak bisa ke makam istri Bapak sekarang? Tanah kuburannya tiba-tiba amblas ke dalam, dan Pak, saya mendengar suara perempuan menangis dari bawah tanah minta digalikan!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(7) Aku Baru Pulang dari Luar Negeri dan Pura-Pura jadi Pria Gila. Ibu Kandungku Mengusirku, sementara Istriku justru Menangis dan Merawatku. Akhirnya Kuberi Pelajaran untuk Keluargaku!

  "Kembalikan adikku! Apa yang sebenarnya Ibu lakukan pada Nisa, Bagas?! Jangan tersenyum gila seperti itu, katakan di mana adikku seka...