"Makan ini, perempuan pelit tak berguna! Diminta uang tabungan untuk bantu biaya pernikahan adikku saja perhitungan. Mulai detik ini, angkat kakimu dari rumahku!"
Piring kaleng itu terlempar kasar ke arahku.
Aku memejamkan mata saat butiran nasi yang sudah berbau basi itu berhamburan, menempel di wajah dan hijabku. Bau asamnya menyeruak, tapi rasa sakit di dadaku jauh lebih menyengat.
Aku mengusap wajahku dengan tangan gemetar. Di hadapanku, Putra, lelaki yang lima tahun ini mengucap janji suci padaku, menatap dengan dada naik turun penuh amarah.
Sementara itu, Ibu mertuaku tersenyum sinis dari ambang pintu dapur, melipat tangan di dada dengan tatapan puas.
"Betul itu, Putra! Usir saja benalu miskin ini. Sudah menumpang hidup, disuruh menyumbang untuk adik iparnya sendiri saja lagaknya seperti nyonya besar!" timpal Ibu Marni tajam.
Aku menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Tabungan ratusan juta di rekeningku itu adalah uang hasil jerih payahku bekerja siang malam dari bisnis online yang selama ini kurintis diam-diam.
Putra pikir aku hanya istri pengangguran yang kerjaannya cuma memasak dan mengepel lantai.
Dia dan keluarganya tidak pernah tahu bahwa saldo di rekeningku jauh melebihi gajinya sebagai karyawan rendahan.
Dulu, aku menyembunyikannya karena tahu sifat tamak mereka. Kini, terbukti sudah.
"Baik, Mas Putra," ucapku pelan namun penuh penekanan.
Aku mengangkat wajah, menatap lurus ke dalam manik matanya tanpa ada lagi sisa air mata.
"Aku akan pergi sekarang juga. Tapi ingat satu hal, suatu saat nanti, kamu dan keluargamu yang akan menangis darah di hadapanku."
"Halah! Jangan mimpi kamu, gembel! Cepat kemasi pakaian rongsokanmu dan minggat dari sini!" tawa Putra meledak meremehkan.
Tanpa menoleh lagi, aku melangkah masuk ke kamar, memasukkan beberapa potong baju ke dalam koper kecil.
Aku meninggalkan rumah sempit yang penuh luka itu dengan kepala tegak. Membawa serta sebuah rahasia besar yang akan segera melatih kesombongan mereka.
***
Tiga hari berlalu dengan cepat.
Hari ini adalah hari resepsi pernikahan Siska, adik Putra, yang digelar mewah di sebuah gedung serbaguna.
Kabarnya, Putra nekat meminjam uang ke rentenir dengan bunga tinggi demi menutupi kekurangan biaya, karena ia gagal merampas tabunganku.
Aku tersenyum tipis menatap pantulan diriku di cermin. Dress elegan rancangan desainer ternama membalut tubuhku dengan sempurna. Riasan wajah yang flawless membuatku nyaris tak dikenali.
Hari ini, aku bukan lagi Rita si istri penurut yang pasrah dilempari nasi basi.
"Sudah siap, Bu Rita?" tanya sopir pribadiku, membukakan pintu mobil Alphard keluaran terbaru yang baru saja kubeli secara tunai dari profit perusahaanku minggu ini.
"Jalan ke gedung pernikahan Siska, Pak," titahku dingin.
Di halaman gedung pernikahan, suasana tampak ramai.
Putra, Ibu Marni, dan Siska berdiri di area penyambutan tamu dengan wajah angkuh, tersenyum lebar seolah mereka adalah keluarga konglomerat sungguhan.
Namun, tawa sombong itu terhenti seketika saat mobil mewahku meluncur mulus dan berhenti tepat di lobi karpet merah.
Semua mata, termasuk para tamu undangan, langsung tertuju pada kemewahan yang datang tiba-tiba.
Putra bahkan terlihat tergesa-gesa merapikan jas sewaannya, mengira yang datang adalah pejabat atau bos besar dari perusahaannya.
Sopirku turun lebih dulu, membukakan pintu penumpang dengan sangat hormat. High heels merahku menyentuh karpet, disusul penampilanku yang sukses membuat rahang Putra seolah lepas dari engselnya. Matanya melotot lebar nyaris keluar.
Ibu mertuaku mematung, sampai-sampai dompet pesta di tangannya merosot jatuh ke lantai.
Aku melangkah anggun menghampiri mereka yang memucat seperti melihat hantu di siang bolong.
Aku menghentikan langkah tepat di hadapan mantan suamiku, lalu mengukir senyum paling mematikan.
"Kenapa wajahmu pucat begitu, Putra? Terkejut melihat gembel yang kau lempari nasi basi ini datang membawa hadiah kehancuran untuk pesta mewahmu?"
***
Bab 2
"Jangan gila hormat kamu, Rita! Nyewa mobil dan gaun begini habis berapa juta, hah? Pasti ngutang keliling demi kelihatan kaya di depan kami, kan?!"
Suara Putra menggelegar, memecah hening yang sempat menyelimuti lobi gedung. Urat-urat di lehernya menonjol, wajahnya merah padam antara malu dan tak sudi mengakui kekalahannya.
Ia menunjuk-nunjuk ke arahku, berusaha meruntuhkan harga diriku di depan para tamu undangan yang kini mulai berkerumun.
Aku tertawa pelan. Tawa yang tak bernada bahagia, melainkan penuh ejekan yang elegan.
Ibu Marni yang tadi mematung kini ikut tersadar. Dia maju selangkah, menatapku dari atas ke bawah meski matanya tak bisa berbohong melihat kilau perhiasan yang melingkar di leherku.
"Benar kata Putra! Kamu ini memang perempuan tidak tahu malu! Habis diusir malah sok-sokan datang bawa mobil sewaan. Sengaja mau mengacaukan hari bahagia anakku, ya?!" rutuk mantan ibu mertuaku dengan bibir bergetar.
Kasak-kusuk para tamu semakin riuh.
Siska, sang ratu sehari yang sedari tadi berdiri di pelaminan, rupanya menyadari keributan ini. Ia turun tergesa-gesa menghampiri kami sambil mengangkat gaun pengantinnya.
"Ada apa ini, Mas? Kenapa perempuan ini bisa ada di sini?!" Siska menatapku dengan mata melotot, lalu melirik mobil mewah di belakangku dengan tatapan iri yang tak bisa disembunyikan.
Alih-alih terpancing emosi, aku melangkah santai mendekati Siska.
Aku merogoh tas tanganku yang harganya mungkin bisa melunasi seluruh biaya sewa gedung ini, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal.
"Tenang, Siska. Aku datang bukan untuk mengemis makanan seperti yang keluargamu tuduhkan," ucapku dengan nada suara yang dingin namun tajam, memastikan para tamu di barisan depan bisa mendengarnya.
"Aku datang murni untuk memberikan kado pernikahan yang sangat spesial."
Aku menyodorkan amplop itu. Siska merebutnya dengan kasar. Putra dan Ibu Marni langsung merapat, penasaran ingin melihat isinya.
Mungkin di otak serakah mereka, amplop tebal itu berisi tumpukan uang tunai.
Begitu Siska menarik kertas di dalamnya, wajahnya seketika seputih kapas. Tangan Putra bergetar hebat.
Itu bukan uang.
Amplop itu berisi salinan surat gugatan ceraiku dari Pengadilan Agama, dan di lembar kedua, terlampir salinan surat perjanjian utang-piutang dari rentenir kelas kakap atas nama Putra, dengan jaminan sertifikat rumah tempat mereka tinggal, rumah yang selama ini sertifikat aslinya selalu kusimpan rapat-rapat, namun Putra menipuku dengan sertifikat palsu.
"R-Rita, d-dari mana kamu dapat salinan ini?!" napas Putra memburu.
Kesombongannya runtuh tanpa sisa, tergantikan oleh keringat dingin yang mengucur di dahinya.
Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku merapikan sedikit kerah jas sewaan yang dipakai Putra, lalu tersenyum simpul menatap tiga orang rakus di hadapanku itu.
Aku berbalik anggun, siap melangkah kembali ke dalam mobilku yang nyaman.
Sebelum sopirku menutup pintu, aku menoleh untuk yang terakhir kalinya.
"Nikmati sisa pesta mewah kalian malam ini. Karena besok pagi saat rentenir itu datang menyita rumah kalian, kalian akan tahu rasanya menjadi gembel yang sesungguhnya."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar