Senin, 20 April 2026

Istriku Ditemukan di Tempat Pembuangan Sampah dalam Kondisi Gila. Ternyata Selama ini Istriku Diperlakukan Buruk oleh Ibu Kandungku Sendiri. Kutunjukkan Siapa Aku Sebenarnya pada Mereka!

 "Jangan dipukul, Bu. Aisyah janji bersihin lantainya sampai mengkilap, tapi tolong, jangan buang Aisyah ke luar lagi. Di sana dingin, Bu. Gelap, Aisyah takut."


Tubuh Aisyah meringkuk gemetar di sudut ranjang rumah sakit, memeluk kedua lututnya dengan erat. Pandangannya kosong dan liar. 


Penampilannya sangat memprihatinkan, pakaiannya compang-camping dan kotor, dan kerudung yang selalu ia kenakan dengan rapi kini entah ke mana, digantikan oleh rambut yang kusut masai.


Hatiku hancur lebur. Aku, Arshad, pria yang bersumpah di depan penghulu untuk menjaganya, justru menemukan bidadariku tertidur meringkuk kedinginan di dekat tempat pembuangan akhir beberapa jam yang lalu.


"Aisyah, ini aku, Sayang. Ini Mas Arshad," bisikku dengan suara bergetar, mencoba merengkuh tubuh mungilnya.


Namun, Aisyah justru menjerit histeris dan menepis tanganku kuat-kuat hingga punggungku membentur dinding.


"Pergi! Kamu buruh pabrik miskin! Ibumu bilang kamu cuma anak pembawa sial! Karena kamu miskin, Aisyah yang harus dihukum! Pergi, Mas! Nanti ibu pukul Aisyah lagi!" teriaknya sambil memukuli kepalanya sendiri dengan panik.


Setiap kata yang keluar dari bibir bergetar istriku bagai ribuan belati yang mengoyak jantungku. 


Fakta kejam ini menamparku dengan keras hingga napasku terasa sesak.


Selama satu tahun pernikahan kami, aku memilih menyembunyikan identitasku yang sebenarnya. 


Aku menyamar sebagai buruh pabrik biasa dengan gaji pas-pasan, semata-mata untuk menguji ketulusan keluarga kandungku terhadap wanita sederhana yang kupilih sebagai istri. 


Aku menitipkan Aisyah di rumah utama keluargaku setiap kali aku beralasan harus berangkat kerja sift malam di pabrik.


Kupikir ibu kandungku akan membimbingnya. Kupikir darah dagingku sendiri tak akan mungkin bertindak sekejam iblis.


Namun aku salah besar. Ibu kandungku sendiri, wanita yang selalu tampil anggun di acara sosialita, telah merenggut kewarasan istriku. 


Hanya karena aku dianggap anak tak berguna dan menantu yang tak membawa harta, ibuku tega membuang Aisyah ke jalanan.


Pintu ruang rawat terbuka perlahan. Dimas, asisten pribadiku, masuk dengan langkah tergesa namun tetap menunduk hormat.


"Tuan Arshad, kami sudah mengamankan rekaman CCTV dari rumah utama. Nyonya Besar memang memerintahkan para pelayan untuk menyeret dan mengusir Nyonya Aisyah pagi tadi, setelah sebelumnya Nyonya Aisyah dikurung di gudang belakang selama tiga hari tanpa diberi makan dan minum," lapor Dimas dengan rahang mengeras, ikut menahan amarah.


Tanganku mengepal hingga buku-buku jariku memutih. Keputusanku untuk hidup sederhana demi mencari ketulusan justru menghancurkan satu-satunya wanita yang mencintaiku apa adanya.


Aku bangkit dari sisi ranjang. Kurapikan kemejaku yang kotor usai menggendong Aisyah dari tempat mengenaskan itu, lalu menatap Dimas dengan tatapan sedingin es. 


Tidak ada lagi Arshad si anak penurut yang rela dihina. Malam ini, iblis yang sesungguhnya telah mereka bangunkan.


"Blokir semua akses keuangan keluarga, cabut seluruh fasilitasnya, dan beli panti jompo paling terpencil di kota ini malam ini juga. Sudah waktunya 'buruh pabrik' miskin ini pulang untuk memberi pelajaran pada mereka yang menyakiti istriku."


***

Bab 2

"Bakar semua sisa pakaian menantu gembel itu! Aku tidak sudi istana megahku ini tertempel debu kemiskinan dari perempuan tak tahu diuntung itu!"


Suara melengking ibu kandungku, menggema di penjuru ruang tamu saat kakiku baru saja melangkah melewati pintu utama. 


Di atas sofa kulit mahalnya, ia duduk bersilang kaki sambil menyesap teh dari cangkir porselen berhias emas, tampak begitu menikmati hidup. 


Sama sekali tidak ada raut penyesalan di wajahnya setelah menghancurkan mental Aisyah, menantunya sendiri.


Langkahku bergema di atas lantai marmer, membuat ibuku dan beberapa pelayan menoleh.

Melihat kedatanganku, ibuku mendelik jijik. Matanya menyapu kemejaku yang kusam dari atas hingga bawah. 


"Berani sekali kamu menginjakkan kaki di karpet mahalku dengan sepatumu yang kotor itu, Arshad?! Kalau kamu mau mengemis biaya rumah sakit untuk istrimu yang gila itu, lebih baik kamu angkat kaki sekarang juga!"


Aku berdiri mematung. Dulu, aku akan menunduk dan menerima semua hinaannya demi menjaga bakti seorang anak.


Tapi hari ini, setelah melihat tubuh gemetar istriku di sudut rumah sakit, rasa hormat itu sudah mati tak bersisa.


"Di mana Ibu menyembunyikan cincin kawin Aisyah?" tanyaku dengan suara rendah, sangat dingin hingga membuat udara di ruangan itu terasa membeku.


Ibuku tertawa meremehkan. 


"Cincin murahan dari buruh pabrik sepertimu? Sudah kujual! Uangnya kugunakan untuk membayar salon anjing peliharaan adikmu. Itu jauh lebih berharga daripada menempel di jari perempuan yang kerjanya cuma menyusahkan keluarga ini!"


Rahangku mengeras. Kepalanku terkepal kuat hingga kuku-kukuku menusuk telapak tangan. 


"Ibu lupa, siapa yang selalu membawakan air hangat saat kaki Ibu sakit? Siapa yang merawat Ibu saat adik-adikku sibuk foya-foya di luar negeri? Aisyah, Bu. Istriku yang selalu Ibu hina!"


"Cukup, Arshad!" Ibuku menggebrak meja, membuat cangkir tehnya berdenting keras. 


"Aku yang melahirkanmu! Berani kamu melawan ibumu sendiri demi perempuan miskin itu?! Ceraikan dia, atau kamu tidak akan pernah mendapatkan sepeser pun dari harta warisan ayahmu di rumah ini!"


Di belakangku, Dimas, asisten pribadiku, melangkah maju. Ia membuka sebuah map kulit berwarna hitam dan meletakkannya tepat di atas meja di hadapan ibuku.


"Maaf, Nyonya Besar," ucap Dimas dengan nada datar dan profesional. 


"Mungkin Anda perlu membaca ulang sertifikat kepemilikan rumah ini, beserta seluruh aset perusahaan dan fasilitas kartu kredit yang Anda gunakan selama ini."


Ibuku mengerutkan kening, menatap Dimas dengan angkuh.


"Siapa laki-laki berseragam rapi ini, Arshad? Teman sesama buruh pabrikmu yang mau berlagak kaya?"


Dengan tangan gemetar karena emosi yang kutahan, aku mencondongkan tubuhku ke depan, menatap tajam tepat ke manik mata wanita yang telah melahirkanku itu.


"Dia asisten pribadiku, Bu. Dan dokumen itu adalah bukti bahwa tidak ada satu pun harta di rumah ini yang milik Ibu," bisikku tajam, membuat wajah angkuh ibuku seketika pias. 


"Silakan habiskan teh terakhirmu. Karena dalam lima menit, satpam akan menyeret Ibu keluar dari rumahku hanya dengan pakaian yang melekat di badan, persis seperti yang Ibu lakukan pada istriku."


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar