"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah! Alhamdulillah!"
Gemuruh kata 'sah' dan rapalan doa itu menghentikan langkahku tepat di gapura bambu yang melengkung indah.
Senyum di bibirku pudar, digantikan oleh debar jantung yang memburu. Kotak kue tart berlapis cokelat kesukaan Mas Ilham yang kupegang erat, kini terasa dingin dan berat.
Hari ini tanggal 20 April. Empat tahun lamanya aku merantau, memeras keringat menjadi TKW di negeri orang, mengumpulkan setiap sen demi membangun istana kecil kami.
Aku sengaja pulang tanpa memberi kabar, berniat memberikan kejutan terbesar tepat di hari ulang tahun suamiku tercinta.
Namun, kejutan itu justru berbalik menghantam ulu hatiku.
Tenda biru nan megah terpasang menutupi seluruh halaman rumah yang dibangun dari uang hasil jerih payahku.
Wangi bunga melati menguar, bercampur dengan tawa bahagia para tamu undangan.
Mataku nanar menatap lurus ke depan, ke arah pelaminan mewah di mana seorang pria berjas rapi tengah tersenyum lega.
Mas Ilham. Suamiku.
Di sebelahnya, duduk seorang wanita cantik berbalut kebaya putih modern dan hijab menjuntai, tersipu malu saat Mas Ilham menyematkan cincin emas di jari manisnya.
Cincin yang ukirannya sangat kukenali, cincin yang bulan lalu kuminta Mas Ilham belikan untuk investasi kita berdua.
"Loh, Mbak Vera?"
Sebuah suara serak dari arah ibu-ibu rewang memecah hening di kepalaku. Bisik-bisik mulai terdengar berdengung seperti lebah.
Beberapa tetangga menatapku ngeri, seolah melihat hantu di siang bolong. Koper besarku yang beroda berderit pelan saat aku melangkah maju, membelah kerumunan tamu yang tiba-tiba membeku.
Aku tidak menangis. Anehnya, air mataku justru mengering. Rasa sakit yang teramat sangat ini telah berubah menjadi amarah yang mendidih di setiap aliran darahku.
Aku melangkah pasti, menaiki satu per satu undakan pelaminan.
Wajah bahagia Mas Ilham berubah pias dalam hitungan detik. Matanya membelalak lebar, seakan bola matanya nyaris melompat keluar.
Tubuhnya bergetar, dan genggaman tangannya pada istri barunya terlepas begitu saja.
"V-Vera, kamu ... kapan pulang?" suaranya tercekat di tenggorokan.
Sang istri baru yang kebingungan menatapku atas bawah dengan tatapan tidak suka.
Aku tersenyum manis, sangat manis. Kugeser posisi wanita itu perlahan namun tegas, lalu berdiri tepat di hadapan laki-laki yang berstatus suamiku itu.
Kuletakkan kotak kue tart yang sudah sedikit penyok di atas meja akad di depan mereka.
"Kejutan untuk ulang tahunmu sudah kusiapkan, Mas," ucapku dengan nada suara yang tenang namun menggema di seluruh tenda, seraya merogoh tas dan menghempaskan tumpukan map berisi sertifikat rumah, mutasi rekening, dan bukti transfer ke wajah piasnya.
"Selamat atas pernikahan kalian, dan selamat menikmati sisa pestanya. Karena mulai besok pagi, rumah ini akan kubongkar rata dengan tanah, dan kalian berdua bisa melangsungkan bulan madu di jalanan!"
***
Bab 2
"Jaga mulutmu, perempuan tidak tahu diri! Empat tahun ninggalin suami, pulang-pulang bukannya cium tangan, malah bikin malu keluarga di depan banyak orang!"
Suara melengking itu membelah keheningan tenda.
Ibu mertuaku, wanita yang selama ini selalu kukirimi uang bulanan tanpa absen, menerobos kerumunan tamu dan langsung menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya yang dihiasi cincin emas, cincin yang kubelikan dari gaji pertamaku.
Aku menoleh, menatap wajah garang wanita paruh baya itu dengan senyum miring.
"Bikin malu, Bu? Harusnya Ibu yang malu. Ngemis-ngemis minta tambahan uang setiap bulan katanya untuk modal usaha Mas Ilham, ternyata untuk modal nikah lagi?"
Wajah Ibu mertuaku memerah padam, seolah siap meledak. Bisik-bisik tamu undangan yang tadinya menahan napas, kini mulai berdengung jelas.
Beberapa ibu-ibu tetangga bahkan sudah mulai mengarahkan kamera ponsel mereka ke arah kami.
"Vera tolong, Dek. Jaga lisanmu. Kita bicarakan ini di dalam, ya? Jangan bikin ribut di sini."
Mas Ilham akhirnya bersuara. Ia melangkah maju, mencoba meraih tanganku. Tangannya sedingin es, wajahnya basah oleh keringat panik.
Kutepis tangannya dengan kasar hingga ia terhuyung mundur.
"Jangan berani sentuh aku dengan tangan yang baru saja memakaikan cincin ke perempuan lain, Mas!" desisku tajam.
Kualihkan pandanganku pada perempuan berbalut kebaya putih yang sejak tadi bersembunyi di balik punggung suamiku. Wajahnya yang dipoles makeup tebal tampak pias ketakutan.
"Dan kamu," tunjukku pada pengantin baru itu. "Kamu tahu dia punya istri yang sedang banting tulang di negeri orang, atau kamu cuma peduli sama dompet tebalnya yang ternyata isinya uang keringatku?"
"Mbak, Mas Ilham bilang, kalian sudah mau cerai. Kata Ibu, Mbak Vera sudah kawin lari sama majikan di sana," cicit perempuan itu dengan suara bergetar.
Aku tertawa sarkas. Tawa yang membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya mungkin ikut merinding.
Hebat sekali karangan suamiku dan keluarganya ini.
Fitnah apalagi yang mereka sebar pada orang-orang kampung di belakangku?
"Cerai? Kawin lari?" Aku memungut salah satu map berisi mutasi rekening yang tadi kulempar, lalu menjejalkannya ke dada Mas Ilham.
"Lihat ini! Bukti transfer bulan lalu, lima belas juta! Katanya untuk biaya operasi usus buntu Ibumu! Usus buntu sebelah mana yang dipotong untuk bayar katering dan sewa tenda mewah ini, Mas?!"
Skakmat.
Mas Ilham menunduk dalam, tak berani menatap mataku, apalagi menatap para tamu yang kini terang-terangan mencibirnya.
Ibu mertuaku mendadak memegangi dadanya, berpura-pura sesak napas seperti adegan sinetron andalannya.
Namun, anehnya kali ini tidak ada satu pun keluarga atau tetangga yang peduli untuk menolongnya. Mereka sudah muak melihat buktinya.
Aku sudah tidak sudi berlama-lama menghirup udara yang sama dengan pengkhianat ini. Tak ada lagi air mata, tak ada lagi rasa iba.
Empat tahun hidupku yang keras di negeri orang hanya dibalas dengan tikaman dari belakang.
Aku berbalik, meraih gagang koper besarku. Kugulirkan rodanya perlahan menuruni undakan pelaminan.
Namun sebelum benar-benar keluar dari kerumunan, aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arah sepasang pengantin yang masih terpaku bagai patung.
"Silakan lanjutkan akad nikah kalian yang penuh berkah ini," ucapku dengan suara lantang dan senyum kemenangan yang mematikan.
"Oh ya, Mbak Pengantin, tolong ingatkan suamimu yang tampan itu. Mobil HRV putih yang terparkir manis di depan sana itu masih atas namaku, dan kuncinya, baru saja kubawa pergi. Selamat jalan kaki buat bulan madunya!"
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar