"Urus saja dua beban tua itu sendiri, Hesti! Aku tidak sudi menghabiskan gajiku untuk penyakit yang sengaja dibuat-buat!"
Suara bentakan Roni menggelegar ke seluruh penjuru ruang tamu yang sempit itu. Jari telunjuknya mengarah tajam ke wajahku, sementara matanya menyorotkan rasa muak yang tak lagi ditutup-tutupi.
Di sudut ruangan, di atas kasur lipat yang kapuknya sudah menipis, Bapak dan Ibu mertuaku terbaring lemah.
Napas Bapak terdengar berat, sedangkan Ibu hanya bisa meneteskan air mata dalam diam mendengar kalimat durhaka dari anak kandung yang dulu paling disayanginya itu.
"Astaghfirullah, Mas Roni! Mereka ini orang tuamu!" balasku dengan suara bergetar, menahan sesak yang menghantam dada.
"Sakit mereka ini nyata, Mas! Dokter bilang tubuh mereka drop karena—"
"Alah, dokter puskesmas saja kau percaya!" potong Roni sinis, menyambar kunci mobil di atas meja dengan kasar.
"Mbak Tari dan Mas Gilang saja sudah angkat tangan dan memblokir nomor telepon mereka. Kenapa aku yang paling bungsu harus berkorban dan repot? Aku mau pergi, ada urusan bisnis di luar kota. Dan ingat, jangan berani-berani menghubungiku untuk minta uang berobat!"
Urusan bisnis. Hatiku mencelos perih mendengarnya.
Aku tahu pasti, 'bisnis' yang dimaksud suamiku itu adalah menemani selingkuhannya.
Perempuan gatal yang belakangan ini selalu memonopoli waktu suamiku.
Roni lebih rela menghamburkan jutaan rupiah untuk membelikan tas mewah bagi perempuan itu daripada sekadar menebus obat penurun panas untuk orang tuanya sendiri.
Pintu depan dibanting dengan keras, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam rumah. Aku mengusap air mata yang nyaris jatuh, menarik napas panjang, lalu bergegas mengambil baskom berisi air hangat.
Perlahan, kuusap kening Ibu mertuaku yang keriput. Kini, tidak ada lagi yang tersisa untuk merawat mereka.
Tiga anak kandung yang dulu dibesarkan dengan darah dan keringat, kini kompak membuang mereka bak tumpukan sampah.
Semua itu terjadi hanya karena mendengar kabar bahwa sisa aset Bapak bangkrut total dan menyisakan utang, kabar yang bahkan belum jelas kebenarannya.
"Maafkan Mas Roni ya, Bu, Pak," bisikku lirih, memeras waslap dan meletakkannya kembali di dahi Ibu.
L"Hesti akan rawat Ibu dan Bapak semampu Hesti. Biarpun Hesti harus berutang ke warung atau banting tulang mencuci baju tetangga, Hesti tidak akan pernah meninggalkan kalian."
Tiba-tiba, sebuah tangan yang hangat dan bertenaga, sama sekali tidak terasa seperti tangan orang sakit yang sedang sekarat, menggenggam pergelanganku dengan sangat erat. Aku terkesiap mundur.
Ibu mertuaku perlahan membuka matanya. Tidak ada lagi tatapan sayu atau rintihan kesakitan di sana. Yang ada hanyalah kilat ketegasan luar biasa yang seketika membuat darahku berdesir.
Beliau menatapku lekat, lalu menarik sudut bibirnya, tersenyum penuh arti.
"Air matamu terlalu mahal untuk ditangisi buat laki-laki miskin sungguhan seperti Roni, Nduk. Hapus air matamu sekarang, karena besok pagi, Ibu dan Bapak akan membawamu pulang ke 'istana' kita yang sebenarnya."
***
Bab 2
"Istana apa, Bu? Ya Allah, tolong jangan membuat Hesti semakin takut. Bapak dan Ibu sedang sakit parah, mana mungkin kita bicara soal istana di saat token listrik kontrakan ini saja sudah berbunyi?"
Aku memekik tertahan, nyaris menangis karena panik melihat tatapan Ibu mertuaku yang tiba-tiba berubah drastis.
Pikiranku sudah melayang ke mana-mana, mengira beliau sedang mengigau karena demam tinggi atau, naudzubillah, sedang meregang nyawa.
Namun, alih-alih kembali berbaring lemah, Ibu justru tertawa pelan. Tawa yang terdengar sangat sehat, bernada penuh wibawa, dan jauh dari kesan wanita renta yang sedang sekarat.
Dengan gerakan gesit yang membuatku terperangah, beliau menyingkirkan selimut lusuh bermotif pudar itu dan duduk tegak.
Di sebelahnya, Bapak yang sedari tadi napasnya terdengar berat dan tersengal-sengal, tiba-tiba ikut bangkit. Beliau meregangkan otot punggungnya dan memutar lehernya dengan santai.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga sandiwara ini, Bu. Encok Bapak rasanya sungguhan mau kumat saking lamanya pura-pura lumpuh di kasur tipis ini," keluh Bapak dengan suara baritonnya yang tegas dan jernih.
Aku mematung di tempat. Baskom kecil di tanganku nyaris meluncur jatuh saking terkejutnya. Jantungku berdetak tak karuan melihat kedua mertuaku yang tiba-tiba bugar seketika.
"Bapak, Ibu, ini maksudnya apa? Kalian berdua ... tidak sakit?"
Ibu tersenyum teduh. Ia meraih tanganku yang masih gemetar dan mengusapnya dengan kelembutan yang menyentuh relung hatiku.
"Kami sehat walafiat, Nduk. Sangat sehat," ucap Ibu tenang.
"Kabar soal Bapakmu yang bangkrut, ditipu rekan bisnis, dan menyisakan utang miliaran itu, semua sengaja kami sebar ke telinga Gilang, Tari, dan suamimu, Roni. Kami sengaja pindah ke rumah petak kumuh ini dan menyuap dokter kenalan Bapak untuk memalsukan rekam medis."
"T—tapi, untuk apa, Bu?" tanyaku terbata-bata, masih berusaha mencerna kenyataan yang terlalu tiba-tiba ini.
"Untuk melihat warna asli dari darah daging kami sendiri," jawab Bapak. Rahangnya mengeras, dan ada kilat kekecewaan yang sangat dalam di sorot matanya.
"Harta Bapak masih utuh, Hesti. Bahkan bisnis properti kita di luar kota baru saja meraup untung besar. Tapi nyatanya? Saat mengira kami jatuh miskin dan penyakitan, anak-anak yang kami besarkan dengan harta melimpah itu justru berlari menjauh."
Bapak menghela napas kasar.
"Mbak Tari dan Mas Gilang memblokir nomor kami seolah kami ini penagih utang. Dan Roni, suamimu yang paling bungsu itu, kamu lihat sendiri kelakuannya barusan. Dia lebih memilih menghidupi perempuan murahan daripada mengurus orang tuanya."
Air mataku menetes, kali ini bukan karena sedih, melainkan karena rasa campur aduk antara lega dan sakit hati. Roni sungguh sudah keterlaluan.
Bapak kemudian merogoh bagian bawah bantal kasur lipat itu dan mengeluarkan sebuah ponsel keluaran terbaru, ponsel layar lipat yang harganya setara dengan biaya hidup kami berbulan-bulan. Beliau menempelkannya ke telinga.
"Halo, Dimas? Bawa Alphard hitam ke alamat kontrakan yang saya kirimkan tadi pagi. Ya, sekarang juga. Kami pulang malam ini."
Bapak menutup teleponnya, lalu menatapku dengan pandangan kebapakan yang hangat.
"Kemasi barang-barangmu, Hesti."
"Hesti ... Hesti ikut kalian, Pak?" tanyaku ragu.
"Tentu saja!" sahut Ibu mertuaku cepat. "Mulai detik ini, kamu bukan lagi babu gratisan di rumah suamimu ini. Bawa baju dan barang berhargamu saja. Tinggalkan semua perabotan murahan yang dibeli Roni di sini."
Tanganku bergerak cepat mengambil sebuah koper sedang. Aku hanya memasukkan pakaianku dan beberapa dokumen penting.
Tidak butuh waktu lama, karena memang tidak banyak barang mewah yang pernah Roni berikan padaku.
Saat aku kembali ke ruang tamu, Bapak dan Ibu sudah berganti pakaian rapi yang entah sejak kapan mereka sembunyikan di dalam tas usang mereka.
Terdengar suara klakson mobil halus dari luar pagar kontrakan. Sorot lampu mobil mewah itu menembus celah jendela.
Aku melangkah ke ambang pintu, menatap sejenak ruang tamu sempit ini.
Tempat di mana aku sering menangis sendirian saat Roni pulang larut malam dengan aroma parfum wanita lain. Tempat di mana aku dihina dan direndahkan.
"Jangan menoleh ke belakang lagi, Hesti," ucap Ibu mertuaku dingin. Sorot matanya tajam, memancarkan aura nyonya besar yang selama ini ia sembunyikan, menatap lurus ke arah pintu rumah yang perlahan kututup.
"Biarkan anak durhaka itu bersenang-senang dengan selingkuhannya malam ini. Karena besok pagi saat dia pulang, dia akan sadar bahwa dia baru saja membuang berlian sungguhan demi memungut tumpukan sampah."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar