"Kamu pikir dengan berlutut, menangis tersedu-sedu, dan mencium punggung kakiku seperti ini, uang miliaran rupiah yang kamu curi untuk membiayai gaya hidup wanita simpananmu itu bisa kembali perusahaanku, Mas?"
Suaraku menggema dingin di ruang tamu rumah mewahku.
Aku menarik kakiku menjauh, membiarkan dahi Hakim membentur lantai marmer yang dingin.
Pria yang pagi tadi berteriak memanggilku perempuan kampung dan mengusirku dari kantor itu, kini gemetar ketakutan.
Begitu ia pulang dari kantor, Hakim langsung bersimpuh di depanku. Kesombongannya menguap tanpa sisa.
Tentu saja, ia baru menyadari bahwa rumah mewah yang ia tempati, mobil yang ia kendarai, hingga kursi empuk di ruang kerjanya, semuanya adalah milikku.
"Jannah, Sayang. Mas mohon ampun! Mas khilaf!" rengek Hakim, wajahnya basah oleh air mata dan keringat. Ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Mas dijebak oleh Restu! Dia yang merengek minta dibelikan tas mahal dan perhiasan! Mas buta, Jannah. Tolong jangan laporkan Mas ke polisi. Mas janji akan berubah, Mas akan ceraikan dia detik ini juga!"
Aku tersenyum miring, menatap jijik pada pria pengecut di bawahku ini. Saat ketahuan, watak aslinya keluar, melemparkan semua kesalahan pada selingkuhannya sendiri.
"Menceraikan dia? Jangan terburu-buru, Mas," ucapku santai, lalu melemparkan sebuah amplop hitam tebal berukir tinta emas ke hadapannya.
"Buka itu."
Tangan Hakim yang gemetar meraih amplop tersebut. Matanya membaca deretan huruf di atas kartu undangan VVIP itu.
"Ulang tahun Grup Wiryawan? T-tapi kenapa ..."
"Akhir pekan ini adalah perayaan malam puncak ulang tahun perusahaanku. Banyak media dan kolega bisnis yang hadir," jelasku sambil bersandar di sofa, menyilangkan kaki dengan anggun.
"Aku adalah pengusaha, Mas. Aku tidak suka skandal perceraian dan kasus penggelapan dana meledak begitu saja dan merusak harga sahamku."
Hakim menelan ludah. Secercah harapan konyol mulai muncul di matanya.
Pria narsis ini pasti berpikir aku masih mencintainya dan sedang berusaha menutupi aibnya demi menyelamatkan rumah tangga kami.
"Aku menuntut satu hal," lanjutku dengan nada mutlak.
"Datang ke acara itu sebagai Manajer Pemasaran, dan bawa Restu sebagai pendampingmu. Dandani dia dengan pakaian paling mewah. Berjalanlah di karpet merah dengan kepala tegak seolah kalian tidak punya dosa."
"J-Jannah, kamu menyuruhku membawa Restu ke pestamu? T-tapi untuk apa?" Hakim tergagap, bingung.
"Aku ingin seluruh dewan direksi melihat secara langsung, wanita seperti apa yang membuat Manajer Pemasaran kami rela mempertaruhkan harga diri dan menggelapkan dana miliaran rupiah."
Aku mencondongkan tubuh ke depan, menatap matanya tajam.
"Jika kalian bisa bermain peran dengan baik dan tidak membuatku malu di depan media, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menunda laporan kepolisianmu."
Hakim mengangguk cepat, matanya berbinar lega.
"Mas janji, Jannah! Mas akan bawa dia dan bersikap profesional! Mas akan buktikan kalau Mas masih pantas bekerja di perusahaanmu!"
Hakim bergegas berdiri dan berlari ke kamarnya dengan sisa-sisa semangat. Betapa bodohnya.
Dia benar-benar berpikir aku memberinya kesempatan kedua.
Dia tidak tahu, undangan VVIP itu adalah tiket masuk menuju neraka yang sudah kupersiapkan.
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar