"Jangan lancang menyentuh gerbang ini! Kamu itu cuma parasit, sadar diri sedikit. Kalau bukan karena belas kasihan kami, kamu dan anak itu sudah mati membusuk di jalanan!"
Suara lengkingan itu menghantam gendang telingaku, lebih tajam dari deru mesin kapal yang menemaniku selama enam tahun di Taiwan.
Aku mematung di balik tembok pagar, tangan kananku mencengkeram erat tali koper yang terasa kian berat.
Enam tahun. Waktu yang tidak sebentar bagi seorang laki-laki sepertiku untuk mengadu nasib di negeri orang.
Aku rela dicaci maki mandor, bekerja hingga belasan jam, dan menabung setiap keping dollar yang kupunya. Semua itu kulakukan demi Sari, istriku, dan Bintang, putra kecilku.
Setiap bulan, puluhan juta rupiah kukirimkan. Aku tak pernah absen mentransfer uang untuk biaya hidup mereka dan biaya pembangunan rumah impian kami.
Namun, setiap kali aku menelepon Sari, panggilanku selalu dialihkan atau tidak diangkat.
"Sari sibuk, Nu. Dia lagi fokus urus Bintang dan pengawasan rumah baru kalian. Jangan khawatir, semua aman di tangan Ibu dan Mbak Rini," begitu dalih kakak perempuanku setiap kali aku bertanya lewat telepon.
Karena percaya pada darah daging sendiri, aku selalu menitipkan segalanya pada Mbak Rini. Termasuk uang ratusan juta untuk membangun "istana" bagi istri dan anakku.
Kini, di hadapanku berdiri sebuah rumah mewah dengan arsitektur modern yang megah. Dindingnya berlapis batu alam mahal, lampunya kristal, dan ada mobil mewah terparkir di sana.
Inikah hasil keringatku?
Namun, mataku justru tertuju pada gubuk reyot di samping tembok megah itu. Dindingnya hanya anyaman bambu yang sudah bolong-bolong, beralaskan tanah, dan atapnya hanya tumpukan rumbia lapuk.
Di sana, seorang wanita dengan pakaian sangat lusuh sedang bersimpuh di tanah. Tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat pasi. Ia sedang memeluk seorang anak laki-laki yang menangis sesenggukan sambil memegang perutnya.
"Mbak, tolong. Bintang belum makan dari kemarin. Sedikit saja nasi sisa tadi pagi," rintih wanita itu.
Hatiku mencelos. Suara itu ... meskipun parau dan lemah, aku sangat mengenalinya.
"Sari?" bisikku. Kakiku terasa lemas.
Mbak Rini, yang berdiri di teras rumah mewah itu dengan daster sutra dan perhiasan emas yang penuh di lehernya, justru mendengus jijik. Ia menyiramkan sisa air cucian piring tepat ke arah mereka.
"Nasi sisa? Bahkan pembantuku saja lebih berhak makan enak daripada kalian! Cepat pergi ke dapur belakang gubukmu itu, jangan sampai tamu-tamuku lihat ada gembel di depan rumahku!" bentak Mbak Rini dengan nada tinggi.
Darahku mendidih. Dadaku sesak seolah dihantam godam besar.
Jadi selama ini, rumah mewah yang kubangun dengan keringat darah adalah milik kakakku? Dan istriku yang kucintai justru dijadikan budak di rumah yang seharusnya miliknya sendiri?
Aku berjalan keluar dari persembunyianku. Langkahku mantap, meski hatiku hancur berkeping-keping.
Aku melihat Sari mendongak, matanya yang cekung menatapku dengan tatapan tak percaya. Air matanya jatuh berderai, bibirnya bergetar namun tak sanggup mengeluarkan kata-kata.
Mbak Rini yang melihat kehadiranku langsung berubah pucat. Wajah angkuhnya seketika luntur, digantikan ketakutan yang nyata.
"Danu? Kamu ... kamu sudah pulang? Kok nggak kasih kabar, Dek? Ayo masuk, ini rumah yang Mbak buatkan untukmu." Mbak Rini mencoba mendekat dengan senyum palsu yang memuakkan.
Aku mengabaikannya. Aku melangkah melewati Mbak Rini dan berlutut di tanah yang kotor itu, memeluk istri dan anakku yang gemetar hebat. Aroma keringat dan penderitaan tercium jelas dari tubuh mereka.
Aku menatap Mbak Rini dengan tatapan sedingin es.
"Simpan saja sandiwaramu untuk di pengadilan nanti, Mbak. Karena mulai detik ini, aku akan pastikan kamu merasakan bagaimana rasanya menjadi pengemis di rumah yang kamu curi dariku."
***
Bab 2
"Tutup mulutmu, Danu! Kamu baru pulang sudah berani mengancam kakak kandungmu sendiri demi perempuan tidak tahu diri yang sudah mengkhianatimu dan menjual habis semua perabotan rumahmu?!"
Jeritan Mbak Rini memecah keheningan sore itu. Jari telunjuknya yang dihiasi cincin emas tebal menunjuk lurus ke arah wajah Sari yang pucat pasi.
Sari tersentak keras dalam dekapanku. Tubuhnya yang sekurus ranting itu gemetar hebat. Ia menggelengkan kepalanya dengan panik, menatapku dengan mata cekungnya yang dibanjiri air mata ketakutan.
"T-tidak, Mas. Mas Danu, aku tidak pernah, Aku berani sumpah." suara Sari terbata-bata, nyaris seperti bisikan putus asa.
Tangannya yang kasar dan penuh luka goresan mencengkeram erat ujung kemejaku, seolah takut aku akan termakan hasutan itu dan membuangnya.
Aku menunduk, menatap wajah istriku yang dulu begitu bersinar kini redup tak bercahaya.
Lalu pandanganku turun pada Bintang, jagoan kecilku yang bahkan belum pernah melihat wajah ayahnya sejak lahir, kini bersembunyi ketakutan di balik tubuh ibunya.
Pakaian mereka lebih mirip kain lap kotor daripada baju yang layak pakai.
Hati laki-lakiku hancur lebur.
Dengan lembut, kubuka jaket tebal yang kukenakan dan kuselimutkan ke tubuh Sari yang kedinginan.
Aku mengusap puncak kepala Bintang, mencoba menyalurkan rasa aman yang selama enam tahun ini gagal kuberikan.
Lalu, aku berdiri. Berhadapan langsung dengan Mbak Rini yang kini bersedekap dada, memasang wajah angkuh andalannya, mencoba menutupi kepanikan yang terlihat jelas dari matanya yang gelisah.
"Mengkhianatiku? Menjual perabotan?" Aku mengulang kata-katanya dengan nada rendah, sangat tenang, namun cukup tajam untuk membuat Mbak Rini menelan ludah.
"Lalu kenapa kamu membiarkan 'perempuan pengkhianat' ini tinggal di gubuk reyot tepat di sebelah rumahmu, Mbak? Bukankah lebih masuk akal kalau kamu mengusirnya jauh-jauh?"
"I-itu karena ... karena Ibu yang minta! Ibu masih kasihan sama anak haram itu, makanya Ibu izinkan mereka numpang di tanah kita!" jawab Mbak Rini terbata-bata, membawa-bawa nama Ibu untuk berlindung.
"Tanah kita?" Aku tersenyum miring. Senyum paling dingin yang pernah kubuat.
Aku membuka ritsleting koperku yang tergeletak di tanah, mengabaikan kotak-kotak mainan mahal dan cokelat impor yang berhamburan.
Tanganku merogoh sebuah map plastik bening dan menarik setumpuk kertas dari dalamnya.
Itu adalah lembaran rekening koran tebal yang sudah kucetak sebelum aku kembali ke Tanah Air.
"Setiap bulan tanggal 25, aku mentransfer dua puluh juta rupiah ke rekeningmu. Sepuluh juta untuk operasional pembangunan rumah, lima juta untuk Ibu, dan lima juta lagi amanah mutlak dariku untuk biaya hidup Sari dan Bintang," ujarku sambil menepukkan gulungan kertas itu ke telapak tanganku, menatap tajam manik mata kakak perempuanku.
"Enam tahun, Mbak. Tujuh puluh dua bulan tanpa henti."
Wajah Mbak Rini seketika pucat pasi, seputih kertas di tanganku. Mulutnya terbuka, tapi tak ada satu pun suara yang keluar.
"Aku diam saat nomor telepon Sari selalu tidak aktif. Aku percaya saat kamu bilang Sari yang mengganti nomor karena tidak ingin diganggu. Aku menutup mata karena aku percaya pada keluargaku sendiri," kataku lagi, melangkah satu tindak maju, membuat Mbak Rini refleks mundur selangkah.
"Tapi melihat istri dan anakku kelaparan mengemis air minum di depan mataku sendiri, rasanya aku sudah terlalu bodoh menjadi manusia."
"Danu, dengar dulu penjelasan Mbak." Nada suara Mbak Rini kini melunak, tangannya mencoba meraih lenganku, namun segera kutepis dengan kasar.
Aku kembali berjongkok, merangkul bahu Sari dan menggendong Bintang dengan satu lenganku.
Tubuh anakku begitu ringan, terlalu ringan untuk anak seusianya. Air mataku nyaris tumpah, tapi sekuat tenaga kutahan. Belum saatnya aku menangis.
"Ayo kita pergi dari sini, Sayang. Mas sudah pesankan kamar hotel yang hangat untuk kalian mandi dan makan sepuasnya," bisikku pada Sari. Istriku hanya bisa mengangguk lemah sambil terus terisak, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
Aku berbalik, menatap rumah mewah berlantai dua itu dengan perasaan muak yang luar biasa, lalu menatap tajam ke arah Mbak Rini yang kini gemetar di teras rumah.
"Nikmatilah tidur nyenyak di kasur empuk itu untuk malam terakhirmu, Mbak. Karena besok pagi, polisi akan datang menjemputmu beserta bukti penggelapan dana miliaran rupiah yang sudah kusiapkan ini."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar