Senin, 20 April 2026

Suamiku Mengusirku dan Ibu Mertua karena Menikah Lagi dengan Wanita Kaya. Tak Kusangka Setelahnya Hidupku dan Ibu Mertua Berubah ketika Kami Dijemput Mobil Mewah. Ternyata Ibu Mertuaku Tidak Miskin. Ibu Mertuaku adalah...

 


"Bawa koper murahmu ini dan angkat kaki dari rumahku sekarang juga! Aku butuh rumah ini untuk istri baruku yang levelnya jauh di atas kalian berdua!"


Suara bantingan pintu menyusul teriakan melengking itu. Koper kain milikku terlempar ke halaman berdebu, isinya nyaris berhamburan. 


Aku tergugu, menatap pria yang selama lima tahun ini kupanggil suami, kini menatapku dengan sorot mata penuh kebencian. 


Di sebelahnya, seorang wanita dengan riasan tebal dan perhiasan berkilau memeluk lengan suamiku sambil tersenyum merendahkan.


Tapi yang membuat hatiku paling hancur bukanlah pengkhianatan Mas Iqbal kepadaku. Melainkan fakta bahwa pria itu juga mengusir ibu kandungnya sendiri.


"Iqbal, istighfar, Nak." Ibu mertuaku, Ibu Marni, bersimpuh di dekat kakiku dengan air mata yang sudah membasahi kerudung lusuhnya. 


"Ibu yang melahirkan dan membesarkanmu. Kenapa kamu tega menukar ibu demi perempuan ini?"


"Jangan drama, Bu!" sentak Mas Iqbal tajam, tanpa sedikit pun rasa hormat. 


"Siska ini anak pengusaha kaya. Dia bisa memberiku modal usaha dan kehidupan layak. Tidak seperti Ibu yang cuma bisa menyusahkan dan istri udik yang tidak bisa apa-apa ini! Pergi kalian!"


Pintu jati itu ditutup rapat dari dalam. Meninggalkan aku dan Ibu Marni yang mematung di bawah terik matahari siang. Langit seolah ikut menertawakan nasib kami. 


Aku bergegas merangkul pundak renta itu, memapahnya menjauh dari pekarangan rumah yang dulu kami bangun dari nol bersama-sama.


"Maafkan Ibu, Ayu. Maafkan anak Ibu yang tidak tahu diri itu," isak Ibu Marni saat kami duduk berteduh di halte ujung jalan perumahan.


"Ibu tidak perlu minta maaf. Mas Iqbal yang sudah buta hatinya, Bu," jawabku sambil mengusap air matanya, meski dadaku sendiri terasa sesak menahan tangis. 


Uang di sakuku hanya tersisa beberapa lembar puluhan ribu. Entah ke mana kami harus pergi malam ini.


Namun, belum sempat aku memikirkan nasib kami selanjutnya, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam, sebuah sedan keluaran terbaru yang harganya pasti miliaran, perlahan menepi tepat di depan halte tempat kami duduk.


Kaca mobil perlahan turun. Aku menahan napas. Dari kursi kemudi, turun seorang pria dengan kemeja rapi yang digulung hingga siku. 


Wajahnya tegas, rahangnya kokoh, dan ada aura ketegasan yang membuat siapa pun pasti segan menatapnya. Pria tampan itu berjalan menghampiri kami dengan langkah panjang.


Aku refleks berdiri menutupi Ibu Marni, takut jika pria itu adalah suruhan keluarga Siska yang ingin menyakiti kami lebih jauh.


Namun, alih-alih marah, pria itu justru berlutut tepat di hadapan ibu mertuaku. Mata tajamnya mendadak meredup, penuh dengan kerinduan yang mendalam.


"Ibu," panggil pria itu dengan suara serak.


Aku terkesiap. Menoleh tak percaya pada Ibu Marni yang kini gemetar hebat. Wajah keriputnya pias, namun kedua tangannya terulur menyentuh wajah pria asing di hadapan kami ini.


"Arkan? Ini benar kamu, Nak?" bisik Ibu Marni dengan suara bergetar.


Pria bernama Arkan itu mengangguk tegas, lalu mencium punggung tangan Ibu Marni dengan takzim. 


Pemandangan yang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dari apa yang dilakukan Mas Iqbal setengah jam yang lalu.


Ibu Marni perlahan bangkit dibantu oleh Arkan. 


Air mata kesedihan di wajah mertuaku menguap begitu saja, digantikan oleh sorot mata tajam yang belum pernah kulihat sebelumnya. Beliau menoleh menatapku, lalu menatap rumah besar Mas Iqbal di kejauhan.


"Hapus air matamu, Ayu. Mulai detik ini, kita tidak akan pernah menangis lagi untuk pengkhianat itu. Kenalkan, ini Arkan, anak kandung Ibu yang lain. Dan bersamanya, Ibu pastikan Iqbal akan merangkak memohon ampun untuk menebus semua kesombongannya hari ini!"


***


Bab 2

"Bahkan debu di pekarangan rumah pria miskin hati itu terlalu kotor untuk menempel di ujung sepatumu, Bu. Silakan masuk, sudah saatnya Ratu kembali ke istananya yang sesungguhnya."


Suara berat dan berwibawa Arkan memecah keheningan yang sempat membekukan darahku. 


Dengan cekatan, pria berjas mahal itu membukakan pintu penumpang bagian belakang. Tangannya dengan lembut menuntun Ibu Marni yang masih gemetar karena luapan emosi, lalu menoleh padaku dengan anggukan sopan, mempersilakanku masuk ke dalam mobil yang aroma interior kulitnya saja sudah meneriakkan kemewahan.


Aku duduk dengan perasaan campur aduk. Tubuhku seolah tenggelam di kursi yang begitu empuk. 


Dari balik kaca jendela yang gelap, mataku masih sempat menangkap siluet rumah Mas Iqbal, rumah yang kini terasa begitu asing dan menjijikkan.


Saat mobil mulai melaju membelah jalanan, kecanggungan menyelimuti kami.


Ibu Marni terus menggenggam tangan Arkan yang mengemudi di depan, seolah takut pria ini hanya ilusi yang akan menghilang jika dilepaskan.


"Kamu ke mana saja selama ini, Nak? Ibu pikir Ibu tidak akan pernah melihatmu lagi setelah ayah tirimu mengusirmu belasan tahun lalu," suara Ibu Marni parau, memecah kebisuan.


Aku terkesiap. Pantas saja Mas Iqbal tidak pernah menceritakan tentang Arkan. 


Ternyata pria ini adalah kakak tiri Mas Iqbal, anak dari pernikahan pertama Ibu Marni yang terpaksa pergi karena ditolak oleh ayah kandung Mas Iqbal.


Arkan menatap ibunya dari kaca spion tengah. Matanya yang tajam menyiratkan kelembutan yang luar biasa. 


"Arkan kerja keras dari nol, Bu. Arkan merantau, jatuh bangun membangun usaha dagang sampai akhirnya bisa mendirikan perusahaan sendiri. Begitu Arkan punya cukup kekuasaan untuk melindungi Ibu, Arkan langsung mencari kalian. Tapi Arkan tidak menyangka." 


Rahang pria itu mengeras, cengkeramannya pada setir mobil menguat. 


"Arkan justru menemukan Ibu dibuang seperti sampah oleh anak kebanggaan ayah tiriku itu."


Aku menunduk, meremas ujung bajuku. Perasaan bersalah dan hina kembali menyergap. 


"Maafkan aku, Mas Arkan. Seandainya saja aku istri yang lebih berguna, mungkin Mas Iqbal tidak akan sampai mengusir Ibu."


Mobil tiba-tiba menepi dengan halus di depan sebuah gerbang besi menjulang tinggi. Arkan menoleh ke belakang, menatapku dengan sorot mata yang membuat nyaliku menciut, tapi kata-katanya justru meneduhkan.


"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Ayu. Laki-laki yang mengkhianati istri dan membuang ibu kandungnya tidak pantas mendapatkan setetes pun air matamu. Mulai sekarang, ini adalah rumah kalian."


Gerbang terbuka perlahan, menampilkan sebuah rumah mewah berlantai tiga dengan pilar-pilar kokoh bergaya klasik dan taman yang sangat luas. 


Aku menahan napas. Jangankan memiliki rumah seperti ini, bermimpi menginjakkan kaki di halamannya saja aku tidak berani.


Beberapa asisten rumah tangga berseragam rapi sudah berjejer menyambut kami begitu kami turun dari mobil. 


Mereka menunduk hormat, mengambil alih koper lusuhku seolah itu barang berharga. Ibu Marni menangis lagi, tapi kali ini air mata bahagia.


Setelah memastikan Ibu Marni beristirahat di kamar utama yang luasnya melebihi ukuran rumahku dan Mas Iqbal dulu, Arkan menemuiku di ruang tengah. Dia menyodorkan secangkir teh hangat ke hadapanku.


"Aku sudah meminta orang-orangku mencari tahu semua tentang wanita yang baru saja dinikahi Iqbal," ucap Arkan tiba-tiba, suaranya kini berubah dingin, sangat bertolak belakang dengan kelembutannya pada Ibu Marni.


Aku mendongak, menatapnya penuh tanya. 


"Maksud Mas Arkan barusan itu Siska?"


Senyum miring yang teramat sinis tercetak di bibir Arkan. Ia menyesap kopinya perlahan, menatap lurus ke arahku dengan kilat mata yang memancarkan aura dominasi mutlak.


"Iqbal sangat bangga mengusir kalian karena merasa sudah memenangkan dunia dengan menikahi Siska, putri dari keluarga kaya raya itu, bukan? Sayang sekali, dia tidak tahu kalau sejak kemarin sore, ayah mertua barunya itu sudah berlutut menangis di ruanganku, memohon agar perusahaannya yang di ambang kebangkrutan tidak aku sita."


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(7) Aku Baru Pulang dari Luar Negeri dan Pura-Pura jadi Pria Gila. Ibu Kandungku Mengusirku, sementara Istriku justru Menangis dan Merawatku. Akhirnya Kuberi Pelajaran untuk Keluargaku!

  "Kembalikan adikku! Apa yang sebenarnya Ibu lakukan pada Nisa, Bagas?! Jangan tersenyum gila seperti itu, katakan di mana adikku seka...