"Angkat kakimu dari rumah anakku sekarang juga, wanita benalu! Jangan bawa apa pun selain baju murah yang menempel di badanmu itu. Kita lihat, berapa lama kamu bisa bertahan hidup jadi gembel di jalanan!"
Teriakan Ibu mertuaku menggema lantang di ruang tamu, diiringi tawa merendahkan yang keluar dari bibirnya. Ia memandangku dari atas ke bawah seolah aku adalah kotoran yang menjijikkan.
Belum sempat aku menjawab, adik iparku, Siska, melangkah maju dan merampas tas tangan yang baru saja kuraih dari atas sofa.
"Tas ini buat aku saja, Mbak! Orang miskin yang mau jadi gembel nggak pantas pakai barang bagus seperti ini," ejek Siska sambil tersenyum sinis, memeluk tasku erat-erat.
Aku menoleh ke arah Mas Bayu, pria yang lima tahun ini berstatus sebagai suamiku.
Aku berharap setidaknya ada secercah pembelaan dari matanya. Namun, pria itu hanya berdiri angkuh dengan kedua tangan terlipat di dada.
"Sudahlah, Ma. Usir saja dia," ucap Mas Bayu dingin, tanpa sedikit pun rasa bersalah.
"Untung saja aku baru diangkat menjadi Manajer Senior di perusahaan besar. Masa depanku cerah. Aku sudah tidak butuh istri beban dan tak tahu diuntung sepertinya."
Aku menarik napas panjang, mengucap Astaghfirullah di dalam hati untuk meredam gemuruh di dada.
Sakit? Tentu saja.
Namun, rasa sakit itu dengan cepat menguap, berganti dengan senyum tipis yang tak bisa kutahan.
Selama lima tahun, aku hidup sederhana, menekan egoku, dan menyembunyikan identitas asliku murni hanya karena ingin melihat ketulusan Mas Bayu dan keluarganya.
Aku ingin dicintai apa adanya, bukan karena harta. Tapi hari ini, tabir itu tersingkap sudah. Kesombongan telah membutakan mata mereka.
"Baik. Kalau itu mau kalian, aku akan pergi detik ini juga," ucapku tenang.
Sama sekali tidak ada air mata yang menetes, sesuatu yang tampaknya membuat Ibu mertuaku sedikit terkejut.
Aku merapikan ujung hijabku, membalikkan badan dengan dagu terangkat, dan melangkah keluar dari rumah yang dulunya kuanggap sebagai surga kecil kami.
Dari belakang, terdengar sorakan kemenangan mereka, diakhiri dengan suara bantingan pintu yang sangat keras.
Begitu pagar besi tinggi itu tertutup di belakangku, aku merogoh saku luar rokku. Mengeluarkan sebuah ponsel pipih yang selama ini selalu kusembunyikan dari mereka.
Layarnya menyala, dan aku langsung menekan satu nomor speed dial. Panggilan itu dijawab hanya pada dering kedua.
"Halo, Pak Dirga. Rombak ulang jadwal penyambutan CEO baru besok pagi. Saya ingin Bayu Anggara, Manajer baru kita, menjadi orang pertama yang mempresentasikan laporan di hadapan saya."
***
Bab 2
"Istri gembelku sudah resmi kuusir tadi malam. Sekarang, aku hanya perlu fokus mengambil hati CEO baru kita hari ini, dan kursi Direktur pasti akan segera jatuh ke tanganku!"
Suara tawa Mas Bayu terdengar begitu pongah, menggema di lorong lantai eksekutif.
Aku yang sedang berdiri di balik dinding kaca buram ruang presdir hanya bisa tersenyum miring mendengar kesombongannya.
Pagi ini, tidak ada lagi wanita berbalut gamis pudar dan jilbab lusuh. Penampilanku telah berubah 180 derajat.
Balutan setelan blazer elegan keluaran desainer ternama, hijab sutra mahal yang menjuntai rapi, dipadukan dengan sepatu hak tinggi berkelas, memancarkan aura kekuasaan yang selama lima tahun ini sengaja kukubur dalam-dalam.
"Semua manajer sudah berkumpul di ruang rapat utama, Bu Kanaya," lapor Pak Dirga, asisten kepercayaanku, sambil menunduk hormat dengan draf dokumen di tangannya.
"Bagus," jawabku singkat, menyesap pelan kopi di mejaku. "Pastikan layar proyektornya menyala terang, Pak Dirga. Aku ingin melihat seberapa brilian presentasi dari manajer kebanggaan kita itu."
Pak Dirga mengangguk patuh dan membukakan pintu untukku. Langkah kakiku yang beradu dengan lantai marmer memecah keheningan koridor menuju ruang rapat.
Dalam hati, aku mengucap Bismillah.
Hari pembalasan ini akhirnya tiba lebih cepat dari dugaanku.
Mas Bayu pikir, membuangku adalah jalan pintas menuju puncak kesuksesan.
Dia lupa, bahwa selama ini, doaku dan uangku secara diam-diam yang selalu memuluskan jalan karirnya dari posisi staf biasa hingga ke titik ini.
Saat Pak Dirga mendorong pintu ganda ruang rapat, suasana yang tadinya riuh oleh obrolan langsung hening seketika.
Seluruh mata tertuju ke arah pintu. Di depan sana, Mas Bayu berdiri dengan dada dibusungkan, merapikan dasi mahalnya, dan menyunggingkan senyum paling karismatik yang pernah ia latih untuk menjilat atasan.
"Mari kita sambut, Pemilik sekaligus CEO baru perusahaan ini," suara bariton Pak Dirga menggema tegas ke seluruh penjuru ruangan.
Aku melangkah masuk dengan dagu terangkat dan tatapan tajam yang langsung mengunci satu titik.
Senyum di wajah Mas Bayu perlahan luntur seolah disiram air keras. Tubuhnya kaku bak patung es.
Matanya membelalak lebar, nyaris keluar dari sarangnya seakan baru saja melihat hantu di siang bolong.
Berkas presentasi di tangannya bergetar hebat, terlepas, dan jatuh berserakan di atas lantai. Pria yang tadi malam meneriakiku benalu itu kini terlihat seperti tikus yang terpojok.
Aku berjalan perlahan menuju kursi utama di ujung meja bundar itu, lalu duduk dengan menyilangkan kaki secara anggun.
Kutebarkan pandangan ke seluruh ruangan, sebelum akhirnya menatap lurus ke arah pria yang keringat dinginnya mulai bercucuran.
"Selamat pagi, semuanya. Terutama untuk Anda, Manajer Bayu. Kudengar Anda sangat bersemangat mempresentasikan masa depan Anda di hadapan 'gembel' ini. Silakan dimulai."
***


Tidak ada komentar:
Posting Komentar