Minggu, 19 April 2026

(5) Aku Baru Pulang dari Luar Negeri dan Pura-Pura jadi Pria Gila. Ibu Kandungku Mengusirku, sementara Istriku justru Menangis dan Merawatku. Akhirnya Kuberi Pelajaran untuk Keluargaku!

 


Bab 5


"Dobrak pintunya! Seret perempuan bernama Yuni itu ke hadapanku sekarang juga! Kalau dia menolak jadi istri simpananku, pastikan dia merangkul kaki kalian memohon ampun untuk melunasi utang sepuluh miliar si pecundang Bagas!"


Suara serak dan arogan itu menggelegar dari halaman depan, memecah ketenangan sore di rumah mewah kami.


Sesuai perintahku, para petugas keamanan memang sengaja membuka gerbang lebar-lebar, membiarkan mereka masuk ke dalam perangkap.


Yuni langsung mencengkeram lengan jasku dengan kedua tangannya yang sedingin es. Tubuhnya bergetar hebat. 


"Mas, m-mereka beneran datang. Yuni takut, Mas," bisiknya dengan bibir pucat pasi.


Aku mengusap punggung tangan Yuni dengan ibu jariku, memberinya tatapan teduh. 


"Ada aku di sini. Tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuhmu. Ayo, kita sambut tamu tak diundang kita."


Pintu utama terbuka lebar. Di ambang pintu, berdirilah seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan kemeja sutra mencolok dan cerutu di tangannya, Bos Darma, rentenir kelas kakap di kota ini. 


Di belakangnya, belasan preman berwajah sangar berdiri mengelilingi Bagas yang kini berlutut dengan wajah babak belur.


Bagas yang melihat kami keluar dari ruang tengah langsung menunjuk Yuni dengan semangat, matanya melotot putus asa.


"Itu dia, Bos Darma! Itu Yuni! Cepat bawa dia! Sesuai surat perjanjian, dia jaminannya! Hutangku lunas, kan?!" teriak Bagas tak tahu malu, sama sekali tidak peduli nyawa kakak iparnya sendiri sedang dipertaruhkan.


Bos Darma menyeringai lebar, menatap Yuni dari atas sampai bawah dengan pandangan menjijikkan. 


"Wah, wah, wah. Ternyata barang jaminanmu sangat berkualitas tinggi, Bagas. Pantas saja kau berani meminjam sepuluh miliar."


Pandangan pria tambun itu lalu beralih padaku. Ia mendengus remeh, meniupkan asap cerutunya ke udara. 


"Dan kau pasti suami gilanya yang baru pulang dari luar negeri itu, kan? Hebat juga kau bisa menyewa jas mahal begini untuk menipu orang. Minggir kau, orang gila! Serahkan istrimu padaku!"


Bukannya mundur, aku justru melangkah maju menutupi tubuh Yuni sepenuhnya. 


Senyum miring yang sangat dingin tercetak di bibirku. Aku bahkan tidak repot-repot meninggikan suaraku.


"Reno," panggilku tenang.


Hanya dengan satu kata itu, dari berbagai sudut rumah, lorong, dan taman belakang, bermunculan puluhan pria bertubuh tegap berbalut setelan serba hitam. 


Mereka bergerak serentak dengan disiplin militer tingkat tinggi, langsung mengepung rapat rombongan rentenir itu tanpa celah sedikit pun. 


Masing-masing menggenggam tongkat pemukul baja yang bergemeretak pelan.


Seringai menjijikkan di wajah Bos Darma seketika luntur. Cerutu di tangannya nyaris terjatuh. 


Preman-preman sewaannya mulai pucat pasi, sadar kalah telak dalam jumlah dan kekuatan. Bahkan Bagas kini menahan napas, menatapku dengan sorot mata tak percaya.


"K-kau ... siapa kau sebenarnya?!" suara Bos Darma mulai bergetar, mundur selangkah saat melihat lambang emas bertuliskan A-Corp di kerah jas anak buahku.


Aku menatapnya dengan sorot mata sedingin malaikat maut, lalu merogoh ponselku dan menekan satu tombol panggilan loudspeaker.


"Sepuluh miliar itu uang receh yang tak ada artinya bagiku, tapi nyawa istriku tak ternilai harganya," ucapku tajam, memastikan setiap suku kata terdengar jelas di telinga mereka. 


"Reno, hubungi polisi sekarang juga. Beritahu beliau, aku mencabut seluruh dana investasi A-Corp di kota ini kecuali buron penggelapan pajak bernama Darmawan ini dijebloskan ke penjara hari ini juga. Dan pastikan, adik kandungku yang berlutut di sana itu, mendapatkan sel paling gelap di ujung tahanan sebagai hadiah dariku!"


***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(7) Aku Baru Pulang dari Luar Negeri dan Pura-Pura jadi Pria Gila. Ibu Kandungku Mengusirku, sementara Istriku justru Menangis dan Merawatku. Akhirnya Kuberi Pelajaran untuk Keluargaku!

  "Kembalikan adikku! Apa yang sebenarnya Ibu lakukan pada Nisa, Bagas?! Jangan tersenyum gila seperti itu, katakan di mana adikku seka...