Minggu, 19 April 2026

(5) Suamiku Mengambil Sertifikat Rumah Warisan Orangtuaku untuk Selingkuhannya. Dia Pikir Aku Bodoh? Dia Tidak Tahu Saja Kalau Aku Sudah...

 


"Kamu itu cuma perempuan mandul yang beruntung dinikahi anak saya! Jangan berani-berani mengganggu butik milik calon ibu dari cucu laki-laki penerus keluarga kami!"


Suara melengking Ibu Lastri menyembur dari layar ponselku, memekakkan telinga. Melalui panggilan video yang disambungkan oleh Pak Dimas, aku bisa melihat kekacauan di depan ruko nomor 8. 


Karangan bunga mawar merahku sudah hancur diinjak-injak, sementara tumpeng peresmian tumpah ruah di aspal.


Di layar, ibu mertuaku itu tampak merangkul Adel yang sedang menangis sesenggukan. Tentu saja, air mata buaya andalan sang pelakor.


Aku menyilangkan kaki, menyesap tehku dengan anggun di ruang keluarga yang tenang. Sama sekali tak terpancing emosi.


"Wah, jadi Adel sedang hamil? Pantas saja Ibu sampai turun tangan membawa preman bayaran segala," balasku dengan nada ringan, nyaris tanpa beban. 


"Bagaimana rasanya, Bu? Menyuapkan nasi kuning hasil uang curian dari menantu sah ke mulut selingkuhan anak Ibu? Pasti rasanya sangat nikmat, ya?"


Wajah keriput Ibu Lastri memerah menahan amarah. 


"Jaga mulutmu, Bela! Harta yang Rizwan pakai itu harta suamimu, otomatis itu hak anak saya sebagai kepala keluarga! Kamu yang seharusnya sadar diri. Lima tahun menikah tidak bisa ngasih cucu, pantas saja Rizwan cari perempuan yang lebih sempurna!"


Adel yang berada di pelukan mertuaku ikut menatap sinis ke arah kamera. Merasa di atas angin karena mendapat perlindungan dari 'ratu' di keluarga suamiku.


"Hak anak Ibu, ya?" Aku mengangguk-angguk pelan, tersenyum geli. 


"Baiklah kalau itu prinsip Ibu. Oh ya, kebetulan saya baru saja menelepon pihak bank. Kartu kredit platinum yang selama ini Ibu pakai untuk arisan berlian dan perawatan salon sudah saya blokir permanen. Tagihan bulan ini yang mencapai lima puluh juta, silakan Ibu bayar sendiri pakai uang tabungan Ibu."


"A-apa?! Kamu nggak berhak melakukan itu!" Mata Ibu Lastri melotot tak percaya. Genggamannya pada lengan Adel mengendur.


"Tentu saja saya berhak. Itu kartu tambahan dari rekening pribadi saya, Bu," jawabku tenang. 


"Satu hal lagi. Ingat rumah mewah bertingkat dua di kawasan Pondok Indah yang Ibu tempati sekarang? Yang selalu Ibu pamerkan ke teman-teman pengajian itu?"


Ibu Lastri menelan ludah, firasat buruk mulai tergambar jelas di wajahnya.


"Tanah dan bangunan itu dibeli lunas oleh almarhum Papa saya, dan sertifikatnya seratus persen atas nama Bela," bisikku ke arah kamera, memastikan setiap kata menancap dalam di kepalanya. 


"Saya sudah minta pengacara saya mengirimkan surat pengosongan rumah hari ini. Besok pagi, rumah itu akan disita. Jadi, saya sarankan Ibu berhenti teriak-teriak di jalanan dan mulai packing barang-barang antik Ibu."


Kepanikan langsung meledak di wajah ibu mertuaku. 


"Bela! Kamu gila?! Saya ini orang tua! Berani kamu mengusir saya dari rumah anak saya sendiri?!"


"Itu rumah saya, Bu. Bukan rumah anak Ibu," potongku tajam. 


"Dan tolong sampaikan pada Pak Rizwan yang sekarang sedang luntang-lantung di jalan tanpa mobil dan jabatan, jangan repot-repot pulang ke rumah ini. Sidang cerai kita akan segera diurus pengacara."


Aku bersiap menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan, tapi Adel tiba-tiba merebut ponsel itu dari tangan Ibu Lastri. Wajahnya menantang, mencoba terlihat kuat.


"Mbak Bela boleh ambil semua hartanya! Aku nggak peduli! Mas Rizwan bakal tetap pilih aku dan anak di kandunganku ini. Kami akan bangun bisnis dari awal tanpa uang perempuan sombong kayak Mbak! Ibu Lastri juga bakal tinggal sama kami karena Mas Rizwan lebih sayang cucu kandungnya daripada istri mandul!" teriak Adel histeris.


Alih-alih marah, tawaku justru meledak. 


Begitu keras dan memuaskan, hingga membuat dahi Adel dan Ibu Lastri berkerut bingung di seberang sana.


"Ibu Lastri sangat bangga dengan cucu laki-laki dari Adel, ya? Dan kamu, Adel, sangat yakin itu darah daging suamiku?" 


Aku tersenyum penuh kemenangan, mengeluarkan selembar kertas berlogo rumah sakit dari dalam laci. 


"Coba Ibu tanya pelan-pelan ke perempuan di sebelah Ibu itu, sering 'ngamar' dengan siapa saja dia selama ini. Karena seingatku, hasil tes medis Rizwan tiga tahun lalu dengan jelas menyatakan kalau putra kebanggaan Ibu itu, mandul permanen."


***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(9) Selingkuhan Suamiku Mempermalukanku di Arisan. Dia Tidak Tahu Saja Kartu Kredit yang Dipakai Suamiku adalah Milikku. Akan Kubuat Mereka Menyesal!

  "Heh, Satpam! Cepat hancurkan gembok ini pakai palu! Di dalam sana ada koleksi tas, baju sutra, dan perhiasan emasku! Berani-beraniny...